Error

*Error*

Ji ChangWook’s POV

Aku berjalan lurus ke depan tanpa memfokuskan mataku yang membuatku menabrak orang yang berlalu lalang beberapa kali. Akhirnya aku dapat meninggalkan café yang merupakan saksi bisu kandasnya hubunganku dengan wanita yang bahkan masih kucintai setelah 1 jam berlalu.

FLASHBACK

“Uri heojija.” Ucap wanita dihadapanku ini dengan wajah datar nan dinginnya.

“Wae?” tanyaku dengan suara agak bergetar, menahan semua hal yang ingin ku teriakan ke hadapan wajahnya. Air mata mulai berkumpul dan mengaburkan pandanganku, siap untuk terjun bebas kapan saja Continue reading

Advertisements

Cap

changwook

*Cap*

This Story is dedicated to my bestfriend, Melda, who is recently falling in love with Ji ChangWook

Matahari telah pergi meninggalkan bumi melalui ufuk barat. Sesungguhnya bola panas raksasa itu telah meinggalkan bumi sejak 4 jam lalu, namun aku sudah amat merindukan bintang raksasa itu. Aku amat menyukai matahari, benda itu memberikan kehangatan kepada siapapun tanpa pamrih, juga memberikan keindahan tiada tara baik saat terbit maupun terbenam. Sayangnya, pekerjaan yang menumpuk serta deadline yang amat pendek memaksaku berkutat di dalam bilik kantorku hingga pukul 10 malam. Aku merenggangkan leherku yang kaku akibat duduk di depan komputer terlalu lama.

Perlahan bus yang kutumpangi mulai memasuki halte tempat aku turun. Aku segera bangkit dan berdiri di depan pintu keluar bus yang hanya mana akulah satu-satunya penumpang bus terakhir ini. Aku langsung melompat turun dari bus itu begitu pintunya terbuka. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari betapa dinginnya malam ini. Aku merapatkan cap hitam dengan bordir initial namaku demi menjaga kehangatan kepalaku. Aku benci udara dingin, itu hanya akan membuatmu sakit dan berkahir pada jadwalmu yang berantakan. Continue reading