Unfair

*Unfair*

Chanyeol POV

Gadis ini kembali menatapku dengan senyum hangatnya itu. Aku tahu bahwa hal itu amat menyulitkan dan melelahkan bagiku. Setiap kali gadis ini tersenyum aku selalu berusaha keras untuk tetap terlihat cool dan baik-baik saja, juga aku berusaha keras untuk memelankan suara detak jantungku yang berlari tiap kali aku melihatnya. Aku tahu bahwa senyumnya amat menyusahkan bagiku, namun nampaknya gadis ini tidak mengetahui maupun menyadarinya sedikitpun.

Aku sudah kehilangan hitungan jumlah kopi yang telah kuminum hari ini. Mungkin ini kopi ke 5-ku, tapi bisa jadi ini merupakan kopi ke 10-ku. Senyumnya membuatku kehilangan kata-kata yang ingin kuucapkan padanya. Senyumnya membuatku merasa seperti aku tengah bermimpi, maka dari itu aku terus meminum kopi ini untuk menyadarkanku dari mimpi ini. Namun sebaliknya aku merasa aku masuk semakin dalam ke mimpi indah ini. Continue reading

Poster (Yoo InAh the Series)

*Poster*

“I’m home!” Seruku seraya melepaskan sepatu sekolahku dan mulai melangkah masuk ke dalam.

“Claire!!” Seru Vania, adikku, berlari ke arahku dengan kecepatan penuh dan wajah penuh antusiasme.

“Apa?” Aku menuangkan segelas air dan meneguknya.

“Di mana kau menaruh semua majalahmu?” Matanya berbinar saat menanyakan hal itu.

Continue reading

Cap

changwook

*Cap*

This Story is dedicated to my bestfriend, Melda, who is recently falling in love with Ji ChangWook

Matahari telah pergi meninggalkan bumi melalui ufuk barat. Sesungguhnya bola panas raksasa itu telah meinggalkan bumi sejak 4 jam lalu, namun aku sudah amat merindukan bintang raksasa itu. Aku amat menyukai matahari, benda itu memberikan kehangatan kepada siapapun tanpa pamrih, juga memberikan keindahan tiada tara baik saat terbit maupun terbenam. Sayangnya, pekerjaan yang menumpuk serta deadline yang amat pendek memaksaku berkutat di dalam bilik kantorku hingga pukul 10 malam. Aku merenggangkan leherku yang kaku akibat duduk di depan komputer terlalu lama.

Perlahan bus yang kutumpangi mulai memasuki halte tempat aku turun. Aku segera bangkit dan berdiri di depan pintu keluar bus yang hanya mana akulah satu-satunya penumpang bus terakhir ini. Aku langsung melompat turun dari bus itu begitu pintunya terbuka. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari betapa dinginnya malam ini. Aku merapatkan cap hitam dengan bordir initial namaku demi menjaga kehangatan kepalaku. Aku benci udara dingin, itu hanya akan membuatmu sakit dan berkahir pada jadwalmu yang berantakan. Continue reading

Bittersweet (Part 10)

BitterSweet6

Previous Part: Part 9

*Part 10*

Sepasang murid SMA yang masih mengenakan seragam mereka melangkah memasuki sebuah gedung apartemen besar dan berhenti di depan pintu bertuliskan angka 238. Sang murid laki-laki membunyikan bel apartemen itu dan segera mendapat balasan dari dalam memintanya menunggu sebentar. 

“Nuguseyo?”  Teriak sang pemilik apartemen dari dalam.

“Na-ya.” Ucap sang murid laki-laki.

“SungMin oppa?” Seru pemilik apartemen itu terkejut setelah membuka pintu, “Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah cukup larut.” Continue reading

Bittersweet (Part 9)

BitterSweet6

*Part 9*

Suara tembakan memenuhi ruangan di mana terdapat dua murid SMA yang masih mengenakan seragam mereka.

“Mwoya?!” Seru murid laki-laki yang telah melepas almamater sekolahnya.

“Assa!” Gadis yang masih mengenakan seragamnya dengan lengkap dan rapih itu tersenyum puas setelah berhasil mengalahkan murid laki-laki di sebelahnya itu.

“Lee JungAh, kau bilang kau tidak pernah memainkan game ini satu kalipun. Bagaimana bisa kau mengalahkanku yang memainkan ini setiap harinya?!” Kesal sang murid laki-laki.

“Tidak pernah memainkan bukan berarti aku tidak bisa bermain SungJin-ah.” Sahut gadis itu seraya melepaskan pistol berwarna pink itu dari genggaman tangannya.

“Baiklah, kau mau coba racing carku?” Tanya SungJin.

“Sejujurnya aku lebih tertarik pada racing bikemu.” Aku JungAh.

“Joha!” Sahut SungJin singkat dan melangkahkan kakinya menuju racing bikenya.

“Bagaimana kau bisa bertemu dengan SungMin hyung? Sejak kapan kau kenal dengannya?” Tanya SungJin seraya memilih track balapan untuk mereka. Continue reading

The Wedding

*The Wedding*

Tempat ibadah itu mulai terisi. Walau tidak penuh, namun setidaknya cukup untuk memberikan suasana ramai di gereja itu. Ornamen biru putih juga telah memenuhi gereja itu menambah kesan ramai namun tetap classy. Ditambah mawar-mawar biru yang terpajang rapi diujung tiap-tiap kursinya. Beberapa anggota keluarga besar dari kedua belah pihak mempelai yang  akan segera  menjadi satu terlihat sedang berbincang hangat. Senyum bahagia terukir di tiap-tiap wajah mereka. Terutama di wajah orang tua kedua belah mempelai. Sang mempelai wanita terlihat sedang merapihkan dress putihnya yang panjang serta mewah itu dibantu seorang bridesmaidnya.

“JungAh-ah, neon wanjon yeppeunne…” Continue reading

Runaway Love

image

~Runaway Love~

Seorang gadis berumur 26 tahun itu tengah sibuk merapihkan pakaiannya dan menjejalkannya ke dalam sebuah koper besar yang ditaruhnya diatas tempat tidurnya seraya terus mengingat apa-apa saja yang ia lupakan. Kamar yang didominasi dengan warna biru itu sudah hampir kosong, hanya dipenuhi oleh furniture-furniture ruangan itu, lemari baju yang telah kosong, meja rias yang kosong pula. Memang gadis itu merencanakan untuk pergi jauh selama 5 bulan maka dari itu, ia membawa isi kamarnya sebanyak yang ia bisa, memastikan ia akan merasa nyaman selama perjalanan itu. Continue reading