Bittersweet (Part 8)

BitterSweet6

Part 8

“Apa kau menyukai pasta tadi?” Tanya seorang laki-laki yang mengenakan seragam berwarna biru gelap kepada gadis yang mengenakan seragam dengan warna sama yang berada dirangkulannya.

“Eung.” Gadis itu mengangguk singkat.

“Eum… lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?” Tanya pria itu sekali lagi.

“Entahlah, aku juga tidak memiliki ide apapun.” Gadis itu menggeleng pelan.
Continue reading

Bittersweet (Part 7)

BitterSweet6

HAPPY READING!

Part 7

“Apa kau sudah puas menangis?” Tanya murid laki-laki pada murid perempuan yang ada di pelukannya.

“Eung.” Balas gadis itu seraya menghapus jejak air mata di pipinya menggunakan punggung tangannya.

“Kau mau makan?”

“Makan? Kita masih ada 3 jam pelajaran lagi oppa. Terlebih kau sudah kelas 3 sekarang, kau harus banyak belajar untuk ujian nasionalmu nanti.” Omel gadis itu.

“Lee JungAh! Kau lebih muda 2 tahun dariku, tapi kenapa kau jauh lebih cerewet dibanding eomma hah?” SungMin mengacak pelan rambut JungAh.

“Geunyang.” Gadis itu kembali tersenyum, membuat namja di depannya tersenyum lega.

“Ayo kita bolos saja, hanya 3 jam pelajaran matematika, aku tidak akan mati.” SungMin merangkul JungAh dan menggiringnya berjalan keluar gedung sekolah. Continue reading

Bittersweet Part 6

BitterSweet6

WARNING: Ini mungkin masuk kategori long shot

Part 6

 

“Lee JungAh!”  teriak murid laki-laki yang tengah berlari mengejar seorang murid perempuan, “Lee JungAh berhenti di sana!” ia terus meneriaki murid perempuan itu untuk berhenti, namun tidak dihiraukan sama sekali.

“Lee JungAh!” akhirnya anak laki-laki itu bisa menggapai tangan gadis itu dan menariknya berhenti.

Gadis itu tetap berontak, ingin melepaskan dirinya, namun murid laki-laki itu tidak membiarkannya.

“Dengarkan aku Lee JungAh!”

“Apa yang harus aku dengar?” Jerit gadis itu menjadi, “Apa lagi yang harus aku dengar? Bahwa aku membunuh orang tuaku sendiri?!”

Murid lelaki itu tersentak, tidak memercayai apa yang gadis itu katakan. Namun ia tetap tidak bisa menahan dirinya untuk terkejut. Continue reading

At Pain (Special Epilogue by Hyukjae)

At Pain
Lee Hyukjae

Aku menaruh pulpen di tanganku dengan kasar. Menatap kosong tembok di depanku, dan menghela nafas berat untuk kesekian kalinya. Perasaanku tidak enak. Aku terus merasa khawatir entah untuk apa. Aku kembali mengusahakan diriku untuk fokus pada pekerjaan yang menumpuk di mejaku. Namun aku mengulanginya lagi. Aku kembali menaruh pulpenku dengan kasar, kemudian menatap tembok dihadapanku, dan menghela nafas berat. Han Sonhye. Gadis itu tiba-tiba saja masuk ke otakku. Continue reading

At Pain (Past)

At Pain
Lee DongHae

“Lee Donghae!” aku menoleh tanpa mengalihkan pandanganku dari pohon maple di depanku ini, “Neo! Berapa kali harus ku bilang? Hah? Bila ada yang memanggilmu jangan hanya kepalamu saja yang menoleh, tetapi bersama matamu” omel yeoja itu. Dia, sama cerewetnya dengan eomma.

“Arraseo. Wae?” kali ini aku menatapnya.

“Ini!” ia menjatuhkan buku matematikaku ke pangkuanku, “Bagaimana bisa kau hanya benar 3 dari 10 nomor?!” ocehnya lagi yang kubalas dengan cengiran. “Utjima!” ia memukul bahuku. Continue reading

At Pain

At Pain
Han Sonhye

Author POV

“Kyuhyun-ah” panggil yeoja dengan blus putih dan rok hitam selutut serta fantopel berwarna senada “apa kau melihat berkas pemesanan barang dari Jeju?” yeoja itu membongkar laci mejanya, sedang yang ditanya hanya menggumam tidak jelas tanpa memalingkan pandangannya dari layar komputer miliknya. “Hya! Cho Kyuhyun aku serius! Ini menyangkut hidup dan matiku!” Kyuhyun membanting mousenya kasar ke meja.

“Bisa tidak kau hentikan semua hiperbolamu itu? Itu hanya sebuah berkas, kau tidak akan ma…”

“Okay, arraseo. Aku tidak akan mati karena berkas itu, melainkan karena aku kemungkinan besar dipecat oleh Lee sajangnim bila aku tidak menemukannya. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Bang! Aku pengangguran dan tidak jelas harus kemana. Sekarang lebih baik kau membantuku mencarinya bila masih ingin aku hidup!” omel yeoja itu panjang lebar, sedang yang diomeli hanya menghela nafas panjang seraya menggerutu tidak jelas dan kembali fokus pada komputernya sendiri. Continue reading