Dog Fight (Yoo InAh the Series)

*Dog Fight*

Musim panas semakin dekat oleh karnanya suhu di Seoul-pun ikut meningkat. Anak-anak kecil ramai berkumpul untuk bermain bersama. Taman rekreasi air mulai dipadati oleh masyarakat pencari kesegaran. Pantai-pantai mulai kembali ramai oleh pasangan-pasangan kekasih hingga keluarga yang berlibur bersama. Cafe-cafe dan restoran-restoran pun mulai menambahkan makanan maupun minuman yang dapat menyegarkan diri para tamunya. 
Namun, aku tidak dapat menikmati satu hal yang telah kusebutkan. Bahkan tidak satu-pun. Musim panas ini aku dan Sonya dijadwalkan untuk berkolaborasi bersama beberapa member EXO untuk mengeluarkan single special musim panas.

Member-member EXO itu termasuk, Chanyeol oppa, BaekHyun oppa, JongDae oppa, dan Lay oppa. Ya, seperti bayanganmu, kami akan mengeluarkan 2 versi dari single ini, Korea dan Cina. Aku, Chanyeol oppa, dan BaekHyun oppa mendapat versi Korea, sedangkan Sonya, JongDae oppa, dan Lay oppa versi Cinanya.

Aku dan Sonya turun dari van kami yang telah terparkir rapih di depan gedung rekaman kami. Aku mengenakan tank top putih dengan cardigan hitam tipis juga jogger hitam. Sedangkan Sonya mengenakan t-shirt bewarna tosca dengan jeans hot pants yang dipadu dengan cap putih. Kami memang tidak terlalu pandai dalam menyocokkan pakaian kami, setidaknya kami mengenakan apa yang sekiranya nyaman bagi kami.

“Gajayo eonnie.” Seru Sonya girang seraya membetulkan letak capnya.

Aku mulai berjalan mengikuti Sonya ke dalam gedung rekaman. Angin sejuk dari pendingin ruangan menerpa seluruh tubuhku begitu pintu otomatis gedung ini terbuka, menghilangkan semua rasa gerahku dari panasnya udara di luar. Kami melangkah dengan semangat menuju ruang rekaman kami ditemani dengan beberapa ocehan Sonya yang memang suka berbicara.

“Anyeonghaseyo.” Sapa kami bersamaan seraya memasuki ruang rekaman kami.

“Ne, anyeonghaseyo InAh-ssi, Sonya-ssi” ucap direktor kami, Lim SeungHyun, seraya menyalami kami satu per satu.

“Anyeong!” Sapa sebuah suara yang tidak asing. Sontak kami menoleh ke belakang kami untuk menyapa si pemilik suara.

“JongDae oppa!”

“Chen sunbaenim!” Seru-ku dan Sonya bersamaan.

“Tidakkah setidaknya kau bisa menjadi separuh dari Sonya, InAh-ya? Hormatilah aku sebagai sunbae-mu!” JongDae oppa menepuk bahu-ku pelan.

“Mengapa aku harus memanggilmu sunbae disaat aku lebih terlihat seperti noona-mu?” Candaku balas memukul bahunya.

“Eyy,” potong Sonya, “hentikan itu sebelum kalian sungguh-sungguh bertengkar.”

Aku dan JongDae oppa hanya bisa terkikik geli. Pasalnya benar apa kata Sonya, aku dan JongDae oppa sama-sama memiliki suara yang keras dengan bass yang rendah, sering kali kami mengadu teriakan kami untuk mencari tahu siapa yang lebih mahir dalam berteriak. Dan itu semua akan berakhir dengan kami yang saling meneriaki satu sama lain hingga kami sungguh-sungguh bertengkar. Bahkan JunMyeon oppa sudah lelah mengurus tindakan kekanakkanku dan JongDae oppa. Walau begitu, aku dan JongDae oppa tetap memiliki hubungan yang baik, aku tetap sering mengajaknya makan atau sekedar bermain video game bersama, juga JongDae oppa yang tetap rajin membantuku melatih vokalku. Seolah, semua pertengkaran itu hanya sebuah lem yang berguna untuk mempererat hubungan kami.

“Di mana yang lain?” Tanyaku akhirnya, mendudukan diri dengan nyaman di sofa yang tersedia di sudut ruangan.

“Lay hyung sedang dalam perjalanannya dari airport, sedangkan Chanyeol dan BaekHyun sedang ada interview untuk sebuah majalah.” Jelas JongDae oppa, ikut mendudukkan dirinya di sebelahku.

Lay oppa, atau biasa aku panggil YiXing gege*, memang masih aktif sebagai member EXO. Namun kurasa ia lebih merasa nyaman di tanah kelahirannya dan berkumpul dengan keluarganya. Lain denganku, aku yang memang termasuk golongan workaholic**, lebih suka menyibukkan diriku di negara asing ini dibandingkan dengan terbang ke sana kemari dengan pesawat terbang. Sejujurnya, aku sedikit takut menaiki rangkaian besi yang dapat terbang itu.

“Eung?” Gumam Sonya yang sedang menikmati jus dingin yang di sediakan, “Aku dan InAh eonnie ada schedule tidak lama lagi.”

“Geuraeyo?” Direktor Lim memutar kursinya menghadap kami, meninggalkan kesibukkannya pada meja mixer. 

“Ne.” Sahutku, “Kami ada shooting variety show sekitar pukul 1 nanti.”

Sebagai tindak reflek, kami semua mengecek jam dinding di atas meja mixer. Pukul 11, kami hanya memiliki 2 jam untuk rekaman ini. Kami bisa saja melanjutkan rekaman ini lain waktu, namun akan sulit mengatur ulang jadwal kami. Jangankan untuk mengumpulkan member YH Girls dengan member EXO, bahkan aku kadang sulit menyamakan jadwalku dengan Sonya.

“Kurasa tidak lama lagi Lay hyung akan sampai.” Celetuk JongDae oppa, “Aku akan menelepon manager Chanyeol atau BaekHyun dan menyuruh mereka mempersingkat interview mereka.”

Aku, Sonya, dan Direktor Lim mengangguk mengerti.

“Dan selagi menunggu member lain datang,” Direktor Lim kembali memutar kursinya kemudian mengambil beberapa kertas dan berjalan mendekati kami, “kalian bisa mulai menganalisa liriknya. Kalian sudah menerima demo version***nya bukan?” Sekali lagi aku dan Sonya mengangguk-anggukan kepala kami.

“Baguslah.” Direktor Lim kembali melangkah ke kursinya dan kembali mengutak-atik meja mixernya. 

“Chanyeol dan BaekHyun akan sampai dalam 45 menit, sedangkan Lay hyung akan sampai sekitar 10 menit lagi.” JongDae oppa kembali memasuki ruang rekaman setelah selesai menghubungi member lainnya.

“Ini liriknya oppa.” Aku mengoperkan kertas lirik yang tadi diberikan oleh direktor Lim kepada JongDae oppa.

“Gomawo.” Sahutnya cepat dan mulai menganalisa liriknya. 

Aku mengeluarkan MP3 Playerku dari ransel hitam yang selalu kubawa ke manapun aku pergi dan mulai menganalisa liriknya seraya mendengarkan demo lagu ini. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku pelan mengikuti irama musik ceria ini. Tidak hanya itu, aku juga memperhatikan beberapa bagian untuk membuat pembagian line lagu ini. Setelah membuat beberapa coretan, aku selesai menganalisa lirik dan membagi line lagu ini. Aku memanggil Sonya dan JongDae oppa untuk mendiskusikannya.

“Kurasa akan lebih baik jika lagu ini dimulai dengan member EXO.” Mulaiku, “Jika aku dan Sonya yang memulai lagu ini, akan terasa sangat kasar bukan?”

“Benar, aku juga sependapat denganmu.” Ucap JongDae oppa menyetujui. Direktor Lim ikut duduk dengan kami untuk mengetahui pendistribusian line lagu ini.

“Baiklah,” aku membaca sekilas bagian selanjutnya, “aku sedikit bingung dengan bagian ini.” Aku menunjuk bagian yang kumaksud dengan pensil di tanganku.

“Apa lebih baik bagian ini menjadi solo member YH Girls, atau solo EXO atau dilakukan bersama?” Lanjutku.

“Kurasa akan lebih manis jika bagian ini dinyanikan bersama.” Saran Sonya yang disetujui oleh Direktor Lim.

“Tapi setelah ini aku harus mendaki nada tinggi.” Dumal JongDae oppa, “Mengapa tidak kalian solo saja?”

“Jika bagian ini dibuat menjadi solo, rasanya akan sedikit hampa.” Jelas Direktor Lim, “Kusarankan kalian lakukan berdua.”

“Kalau begitu,” JongDae oppa kembali membuka mulutnya, “biarkan Lay hyung yang melakukan bagian ini.”

“Andwae!” Seruku dan Sonya bersamaan.

“Wae?” Tanya JongDae oppa singkat.

“Jika Lay sunbaenim yang melakukannya, suaraku akan tenggelam dan tidak terasa.” Sahut Sonya.

“Benar,” timpalku, “Lay oppa memiliki karakter suara yang sama dengan Sonya, jika keduanya dipadukan maka salah satu dari mereka tidak akan terasa.”

“Ah waee?” JongDae oppa memulai dumalan khasnya, “Ah shiroo.”(aku tidak mau)

“Gwaenchanayo,” Direktor Lim kembali mulai berbicara, “lagi pula Chen-ssi sudah berpengalaman bukan?”

“Walau begitu,” sahut JongDae oppa cepat, “cuacanya begitu panas dan aku harus melakukan live, itu akan amat memakan energi dan nafasku.”

Aku mulai merasa kesal dengan semua dumalan JongDae oppa. Ia terus menerus mengatakan ia tidak mau melakukan bagian itu layaknya anak kecil. Tidakkah ia sadar bahwa waktu yang kita milikki amat pendek?

“Ah wae?!” Serunya kesal entah untuk keberapa kalinya.

“Diamlah Kim JongDae!” Teriakku kesal yang membuat Sonya dan Direktor Lim menatapku ngeri.

“Tidakkah kau sadar waktu yang kita milikki ini amat pendek?” Omelku, “Jika kita tidak selesai hari ini, kemungkinan besar project ini akan batal.”

“Neo!” JongDae oppa bangkit berdiri dengan kesal, “Aku selalu berbaik hati memaafkanmu namun beginikah balasanmu padaku? Hah?”

“Mwo?!” Tantangku ikut bangkit berdiri, “Mwo?!”

“Aku selalu menahan amarah saat kau dengan santainya berbicara non-formal denganku, tapi kurasa kau bahkan tidak perduli bukan?” Teriak JongDae oppa, suaranya bahkan sedikit bergema di ruang rekaman yang kecil ini.

“Ah begitukah?” Tantangku sekali lagi seakan tidak merasa takut sedikitpun, “Tapi bagaimana ini? Aku tidak menemukan satu-pun alasan untuk menghormatimu.”

“Hya!” Bentak JongDae oppa, “Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!”

Tidak lama setelah ia menyelesaikan kalimatnya, tanpa peringatan apapun ia mulai menjambak rambutku.

“Hya!” Teriakku, “Lepaskan!”

“Tidak!” Teriaknya tidak kalah keras, “Aku tidak akan melepaskannya, sudah kubilang, aku tidak akan memaafkanmu!”

JongDae oppa menjambakku kencang hingga aku tidak dapat mengangkat kepalaku, bahkan aku sedikit tertarik ke arahnya.

“Arraseo!” Aku menggapai rambutnya dan balas menjambaknya tak kalah kuat.

“Lepaskan!” Ancamnya padaku.

“Tidak sebelum kau melepaskan rambutku!” Sahutku kesal.

“Tidak! Tidak akan terjadi!” Aku menambahkan satu tangan lagi untuk menjambak rambut bagian belakangnya yang membuatnya berteriak kesakitan dan melepaskan tangannya dari rambutku. Karna ia telah melepaskan rambutku, akupun ikut melepaskannya.

“Kau benar-benar!” Nafasnya memburu dengan mata yang bergerak liar. 

Matanya berhenti bergerak dan terfokus pada MP3 Playerku. Aku menatapnya dan MP3 Playerku bergantian, membayangkan apa yang yang sedang pria ber-marga Kim ini rencanakan. Aku hendak mengamankan MP3 Playerku, namun JongDae oppa satu detik lebih cepat dariku. Ia menunjukkan senyum sinisnya sebelum membanting MP3 Playerku ke lantai dengan keras kemudian menginjaknya tanpa ampun. 

Aku bahkan tidak dapat menutup mulutku. Bahkan Sonya dan Direktor Lim tidak dapat berkata apapun, bahkan sekedar melerai kami. Aku menatap MP3 Playerku nanar, benda itu bahkan sudah tidak berbentuk sama sekali. Air mata mulai membendung di mataku, siap jatuh kapan saja. MP3 Player itu, benda itu bukan sekedar MP3 Player biasa. Aku sudah memiliki benda itu sejak aku masuk sebagai trainee SM, terlebih benda itu adalah hadiah pertama KyuHyun oppa padaku. Aku amat menyayangi benda itu, namun sekarang benda itu hancur tidak berbentuk dan tidak terselamatkan.

“NEO!!” Jeritku kencang hingga tenggorokkanku terasa sakit.

Aku mengambil dua langkah mendekati JongDae oppa dan menamparnya keras hingga ia jatuh terduduk di sofa.

“Untuk apa itu?!” Teriaknya tidak terima seraya kembali bangkit berdiri.

Seolah tertampar oleh kenyataan, aku kembali sadar atas apa yang telah aku lakukan. Air mata yang tadi terbendung, tak lagi terbendung. Air mata itu mengalir deras di pipiku. Aku memutuskan untuk pergi dari ruangan ini secepat mungkin. Aku melangkah menuju pintu ruangan ini dan berjalan keluar, namun aku menabrak seseorang.

“InAh-ya,” orang itu memegang bahuku lembut, “ada apa?”

Aku tidak menghiraukan orang itu dan menepis tangannya kemudian berlari secepat mungkin ke toilet terdekat tanpa menghiraukan panggilan dari Sonya sama sekali.

***

Satu jam sudah aku habiskan di dalam bilik toilet ini. Dan satu jam itu juga kugunakan untuk menangis dan berusaha menenangkan diriku. Aku merefleksikan perbuatanku tadi dan menyesalinya amat dalam. Bagaimanapun, JongDae oppa sudah sangat banyak membantuku. Bagaimanapun, JongDae oppa memang sudah sering memaafkanku. Bagaimanapun, kurasa perbuatanku terlalu kasar kepadanya. Bagaimanapun, ia adalah sunbae-ku, dan aku adalah hoobae-nya, seharusnya aku merasa amat berterima kasih kepadanya.

Aku menghela nafas pelan, berusaha menghilangkan rasa tidak enak di hatiku ini. Keputusanku sudah bulat, aku harus keluar sekarang dan meminta maaf pada JongDae oppa. Aku membuka pintu bilik toilet ini dan berjalan ke arah wastafel untuk membasuh wajahku kemudian berjalan kembali ke ruang rekaman kami. Aku sengaja memperlambat langkahku, mengumpulkan semua keberanian dan tekad untuk meminta maaf. Tapi, bagaimana jika JongDae oppa bersungguh-sungguh saat ia berkata bahwa ia tidak akan memaafkanku? Ah, tidak. Aku menggelengkan kepalaku cepat dan singkat, berusaha menghapus pikiran burukku.

Aku mengintip ruang rekaman kami sebentar, memastikan tidak seorangpun sedang berada di dalam booth rekaman. Setelah yakin, aku membuka pintu ini perlahan dan memasuki ruangan dengan kepala tertunduk.

“Eonnie!” Seru Sonya senang yang tidak kuhiraukan. Aku berjalan pelan menuju JongDae oppa masih dengan kepala tertundukku.

“Mianhaeyo, sunbaenim.” Ucapku pelan dihadapan JongDae oppa, namun ia tidak menjawabku sama sekali.

“Aku sekarang sadar bahwa aku,” air mata kembali mengalir di mataku, “bahwa aku terlalu banyak melakukan hal yang tidak pantas dan tidak sopan.”

“Sekali lagi maafkan aku.” Aku mengakhiri permintaan maafku dengan menunduk dalam.

Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu dengan keheningan. Tidak satupun mengeluarkan suara, bahkan JongDae oppa masih menyibukkan dirinya dengan kertas lirik yang ada di tangannya. Tiba-tiba saja JongDae oppa melemparkan kertas liriknya kasar seraya menghela nafas kasar, membuatku sedikit melompat karna terkejut. Ia bangkit dari duduknya dan menatapku dengan mata mengintimnidasinya. Aku menundukkan kepalaku semakin dalam karna takut.

“Berhenti menangis.” Ucapnya tegas. Akupun mengedipkan mataku beberapa kali untuk mencegah air mata kembali jatuh, namun itu tidak bekerja sama sekali.

“Kubilang berhenti menangis.” Ia mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya dan menghapus air mataku lembut.

“Arraseo,” ucapnya gemas, “aku sudah memaafkanmu sejak 1 jam lalu. Maka dari itu berhenti menangis.”

“Gomawoyo sunbaenim.” Aku terisak kencang.

“Jangan lakukan itu,” aku mengangkat kepalaku sedikit untuk memberinya tatapan bingung, “jangan berbicara formal denganku. Itu terdengar aneh.”

“Arraseo.” Kekehku pelan.

“Aku juga akan meminta maaf,” tambahnya, “aku tidak tahu MP3 Player itu amat berarti bagimu. Aku sungguh merasa bersalah.”

“Tidak apa.” Sahutku dengan senyum tulus.

“Aku akan membelikan yang baru dan yang terbaru bagimu,” ia mengacak rambutku pelan, “bagaimanapun benda itu sudah ketinggalan zaman.”

Aku hanya terkekeh pelan sebagai tanggapan atas pernyataan berlebihannya.

“Kudengar tadi ada anjing berkelahi di sini, apa itu benar?” Aku mengenal suara itu, dan pemilik suara itu dengan santainya menaruh tangan beratnya di atas kepalaku.

Aku memutar tubuhku cepat untuk meneriakki si pemilik tangan. Park Chanyeol, si pemilik tangan itu hanya tersenyum polos dengan lebarnya. Senyumnya yang selalu membuatku ikut tersenyum betapapun kesalnya diriku, betapapun sedihnya diriku. Dan kali ini, entah untuk keberapa kalinya, tanpa kusadari aku sudah ikut tersenyum bersamanya.

“Diamlah!” Ucap JongDae oppa kesal, dan sebagai balasannya Chanyeol oppa hanya terkekeh pelan.

“InAh-ya.” panggil Lay oppa.

“Gege.” Sahutku dengan nada yang dimanja-manjakan, “Mianhae, tadi aku mendorongmu terlalu keras.”

“Gwaenchana.” Ia mengusap kepalaku pelan, “Matamu bengkak, apa kau sadar?”

“Tentu saja aku sadar.” Sahutku cepat dan menutup mataku dengan tanganku.

“Haruskah aku memarahi Kim JongDae itu?” Tanyanya serius.

“Hya!” Seru JongDae oppa, “Kami baru saja berbaikkan dan hyung akan menghancurkan kedamaian ini lagi?”

“Mian.” Lay oppa mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah,” ucap Direktor Lim, “kurasa bagaimanapun kita tidak akan bisa meyelesaikan project ini hari ini. Namun kita sudah menyelesaikan versi Cinanya, jadi hanya tinggal versi Korea yang masih belum tersentuh.”

“Mwoya,” dumal BaekHyun oppa, “lalu untuk apa aku ke sini?”

“Makanan gratis?” Goda Chanyeol oppa seraya menunjuk snack yang tersedia di atas meja yang mengundang tawa seluruh orang di ruangan ini.

<<>>

“Come on Luke.” Aku menarik-narik lengan bajunya, berusaha membujuknya yang tengah marah padaku.

Aku hanya mengatakan padanya bahwa aku akan mengikuti audisi yang akan di selenggarakan oleh SM Entertainment di London dalam waktu dekat, namun kemudian ia marah dan sama sekali tidak mau berbicara padaku.

“Luke.” Aku terus menarik-narik lengan bajunya.

“Apa,” tiba-tiba saja ia berbalik menghadapku, “kau benar-benar harus ikut audisi itu?”

“Tentu saja.” Aku mengangguk cepat dan yakin.

“Lalu bagaimana jika kau diterima menjadi trainee SM?” Tanyanya.

“Tentu saja aku akan sangat senang.” Sahutku dengan senyum lebar.

“Walau itu berarti kau harus meninggalkan negara ini?” Sekali lagi aku mengangguk yakin, “Dan meninggalkanku di sini?”

“Luke,” panggilku pelan, “aku tidak akan melupakanmu, maupun kehilangan kontak denganmu. Aku janji.”

Lucas hanya menghela nafas pelan setelah mendengar jawabanku.

“Kau tahu?” Ia menatapku serius, “Sejujurnya aku ingin menjadi jahat dan mendoakan agar kau tidak dapat diterima oleh SM. Namun aku tahu melebihi siapapun, bahwa itulah yang sesungguhnya amat kau inginkan. Maka aku akan mendukungmu.”

“Gomawo Luke!” Seruku seraya memeluknya erat.

Fin~

Hi! Makin lama rasanya author semakin membuang blog ini. Jujur rasanya sedih, karna bukan tanpa alasan semua ini terjadi. Tapi karna laptop author crash (lagi) dan masih gk bisa nyala sampe sekarang. But, I’ll try posting from my phone.

Anyways, thank you for reading, sorry for typos, and leave some comments ^^

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yg melaksanakan ya~~

See ya’ next time!

P.s: *gege: panggilan kakak laki2 dgn bhs Mandarin

** Workaholic: org yg suka bekerja bahkan lebih merasa nyaman saat ia sibuk bekerja

***demo version: instrumen dari lagu sebelum dimasukkan suara penyanyinya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s