Error

*Error*

Ji ChangWook’s POV

Aku berjalan lurus ke depan tanpa memfokuskan mataku yang membuatku menabrak orang yang berlalu lalang beberapa kali. Akhirnya aku dapat meninggalkan café yang merupakan saksi bisu kandasnya hubunganku dengan wanita yang bahkan masih kucintai setelah 1 jam berlalu.

FLASHBACK

“Uri heojija.” Ucap wanita dihadapanku ini dengan wajah datar nan dinginnya.

“Wae?” tanyaku dengan suara agak bergetar, menahan semua hal yang ingin ku teriakan ke hadapan wajahnya. Air mata mulai berkumpul dan mengaburkan pandanganku, siap untuk terjun bebas kapan saja

“Geunyang,” balasnya santai, “kurasa pekerjaanmu terlalu beresiko dan berbahaya. Pekerjaanmu itu bahkan juga dapat melukaiku atau membunuhku.” Wanita itu melipat tangan serta kakinya dengan wajah angkuhnya terangkat tinggi.

“Aku sudah mengatakan bahwa aku akan melindungimu.” Aku menatapnya tak percaya, semua kata yang ia ucapkan terdengar amat tulus dan tidak sungguh-sungguh dalam waktu yang sama. Bermacam spekulasi masuk ke dalam otakku. Apakah ia sungguh-sungguh menginginkan perpisahan ini atau tidak?

“Geurae?” ia mendelikan matanya, “Apa kau pikir kau akan sungguh-sungguh melindungiku walau kau mati?”

“Cih!” decihnya setelah aku menganggukan kepalaku dengan keyakinan penuh. Ia adalah satu-satunya orang yang kumiliki dan kucintai, aku siap merelakan apapun yang kupunya, melakukan apapun yang kubisa untuk melindunginya, untuk membuatnya senyaman dan seaman mungkin.

“Apa kau bodoh?!” dengusnya, “Hal semacam itu hanya ada di cerita-cerita serta film-film bodoh. Apa kau kira kau akan benar-benar melakukan hal itu?”

“Park HaeMin!” seruku, “Apa kau benar-benar tidak dapat menyadari ketulusanku? Apa bahkan hatimu masih pada tempatnya?”

“Geurae! Aku tidak memiliki hati,” sahutnya dingin, “maka dari itu aku akan melupakan semuanya dan meninggalkanmu begitu saja seperti aku tak pernah mengenalmu.”

“Mengapa kau baru mengatakan hal itu sekarang?” tanyaku pelan.

“Karena waktu itu aku masih terlalu naif dan bodoh.” Ia memainkan pegangan cangkir kopinya, “Tapi, sekarang aku menyadari semuanya. Hal-hal seperti itu tidak pernah ada di kehidupan nyata.”

“Bangun dan sadarlah Ji ChangWook.” Lanjutnya, “Apa bahkan semua orang yang kau bantu, lindungi dan selamatkan itu pernah barang sekali saja mengucapkan terima kasih padamu? Tidak bukan? Dan kau, kau hanya melakukan hal seperti itu karena kau merasa seperti seorang pahlawan, tapi pada kenyataannya? Kau bukan apapun atau bahkan seorang yang penting.”

Aku tersenyum pahit mendengar kata-katanya yang setajam pisau itu. Begitu tajamnya hingga kata-kata itu mencacah hatiku hingga tak berbentuk.

“Geurom, jalga.” Ia bangkit berdiri dan mengambil tas tangannya, namun aku menahan lengannya, mencegahnya untuk pergi.

“Jika memang itu yang kau inginkan, baiklah.” Ucapku tenang, “Kita berpisah sampai di sini. Tapi jangan berani melupakanku, jangan hapus diriku dari ingatanmu, sebaliknya tunggu dan lihatlah bagaimana aku dapat melupakan dan menghapusmu dari hidupku, seperti yang kau katakan. Seolah kami tidak pernah bertemu.”

“Baiklah, kalau memang itu yang kau inginkan.” Sahutnya dengan senyum sinis terlukis di wajahnya kemudian mulai melangkah pergi meninggalkanku dengan dua cangkir kopi yang telah dingin.

FLASHBACK END

Aku menghentikan langkahku. Menatap ujung sepatuku lekat dan berpikir, apakah keputusanku ini benar, apakah aku benar-benar dapat melanjutkan keputusanku ini? Aku menghela nafas panjang, melepaskan semua perasaanku kepadanya sebisaku. Aku berteriak keras tanpa suara, aku menjatuhkan tubuhku bertumpu pada kedua lututku dan menatap langit biru yang amat jauh dari gapaianku. Melepaskan semua ingatkanku tentangnya, semua ingatanku bersamanya yang tampak seperti sebuah film yang terus berputar di kepalaku, melepaskannya jauh ke langit yang tidak dapat ku gapai itu. Seolah aku membakar semua ingatkanku itu.

***

Aku menemukan diriku berjalan tanpa arah di taman yang bahkan tidak ku ketahui lokasinya. Perintah atasanku memaksaku berada di sini. Menurutnya, aku membutuhkan beberapa waktu cuti. Ia memaksa, ah bukan, memerintahkanku untuk mengambil cuti satu minggu.

“Kau terlihat amat kacau. Bahkan selama dua minggu ini kau tidak dapat bekerja dengan baik. Dan jangan lupakan kejadian di mana kau hampir terbunuh. Ambillah satu minggu cutimu dan sadarlah. Jangan sampai kau membahayakan agen lainnya!”

Itulah perintahnya. Perintah yang tidak akan pernah dapat ku abaikan. Aku sudah menghapus semua ingatanku tentangnya, semua perasaanku kepadanya. Namun, aku tidak dapat menghapusnya karena hatiku telah merasakan sakit yang teramat sangat. Amat sakit hingga kau tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.

Park HaeMin adalah gadis pertama dan satu-satunya yang dapat melembutkan hatiku, yang dapat menyadarkanku bahwa jalan keluar dari sebuah masalah tidak hanya kekerasan. Bahwa jika kau memiliki masalah kau dapat berbicara dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah itu.

Sejujurnya aku dapat hidup seperti ini. Aku hanya perlu bernafas untuk dapat hidup. Aku hanya butuh untuk bertahan hidup, namun mengapa aku merasa seperti aku tidak dapat hidup? Bahkan aku terus mengatakan bahwa aku baik-baik saja kepada kerabat dan teman-temanku. Bahwa aku lebih baik seperti ini, bahawa dengan perginya HaeMin beban di pundakku berkurang, bahwa dengan perginya HaeMin aku dapat lebih fokus ke pekerjaanku.

Sekali lagi aku hanya butuh bernafas dan makan untuk bertahan hidup. Namun aku hanyalah seorang pengecut yang memilih untuk hidup dengan sakit hati ini karena aku tidak ingin melepaskannya. Walau aku memegang hatiku ditanganku, walau seharusnya akulah yang dapat memilih apa yang akan terjadi selanjutnya padaku, apa yang harus kulakukan berikutnya, bahwa aku yang dapat memilih dan memiliki kehidupan yang kupilih untukku.

Aku tidak ingin menelantarkan diriku. Sudah cukup bagiku menghadapi kenyataan di mana HaeMin telah menelantarkanku. Aku tidak ingin menghancurkan diriku lebih jauh lagi. Namun semua ingatan, kenangan tentang HaeMin, tentang gadis itu dengan ku, tentang kisah cinta kami yang telah kandas tidak ingin meninggalkanku sendiri. Ingatan-ingatan itu bersatu untuk melawanku, untuk menghancurkanku dan aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengalahkan kenangan demi kenangan itu. Baik kenangan indah bersamanya, hingga kenangan yang menyakitkan, kini kusadari bahwa aku tidak ingin melepaskannya.

Akhirnya kini aku menyadari bahwa cinta, hal seperti cinta, hanyalah sebuah kebohongan besar bagi satu pihak. Bahwa cinta, hal seperti cinta, hanyalah sebuah hal yang digunakan untuk menipu seseorang demi mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri.

Langkahku terhenti. Aku melihatnya berdiri hanya berjarak beberapa meter dariku. Aku menatapnya, berharap ia akan balas menatapku. Ia menemukanku tengah berdiri di sebelahnya. Mata kami bertemu, ia menatapku. Mata yang menyimpan banyak sakit hati itu menatap mata tajamku. Tanpa terasa air mata telah mengalir di pipiku. Aku meraih pipinya yang selalu mengeluarkan semburat merah muda saat ia menyadari bahwa aku tengah menatapnya. Sesuatu telah berjalan dengan cara yang tidak kukira, sesuatu telah berjalan dengan salah dan tidak benar. Walau kepalaku telah melupakannya, hatiku tetap mengingatnya. Hatiku tetap merasakan hal yang seharusnya ia rasakan. Semuanya masih sama seperti dulu, tetap sama seperti sebagaimana seharusnya. Ia tetap sama seperti saat terakhir ia meninggalkanku. Dan sekarang, aku menemukan diriku tidak dapat menghindari semua memoriku lagi, semua perasaanku lagi, terlebih aku tidak dapat menghindarinya lagi.

Tanpa dapat ku antisipasi sebelumnya, ia menepis tanganku kasar. Mata hazelnya kembali menatapku tajam.

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” ucapnya dingin.

“HaeMin-ah, bogosipta.” Aku kembali meraih pipinya yang dingin itu.

“Apa yang kau lakukan?!” ia kembali menepis tanganku dan menamparku dengan semua kekuatannya.

“HaeMin–ah? Ada apa?!” seorang pria berlari dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya menunjukan bahwa ia khawatir, bahwa ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadisku.

“HaeMin-ah.” Panggilku yang seperti bisikkan.

“Lama tak bertemu, Ji ChangWook-ssi.” Sapanya dingin.

“HaeMin-ah.” Panggilku sekali lagi.

“Mengapa kau seperti ini? Apa kau lupa apa yang kau katakan padaku waktu itu?” ia kembali membuka mulutnya dan menyerangku dengan pedangnya yang tak kunjung tumpul itu, “Kau bilang kau akan melupakanku dan menghapusku seolah kita tidak pernah mengenal satu sama lain. Tapi apa ini?”

“HaeMin-ah.” Air mataku tak kunjung berhenti mengalir.

“Geurae, ia adalah kekasihku yang baru. Namanya Cho KyuHyun.” Sahutnya cepat, “Maka dari itu, jangan ganggu aku lebih jauh lagi. Gajjayo oppa.” Ia menarik lengan pria tadi dan segera melangkah pergi.

Aku terjatuh di lututku. Aku tidak memiliki kekuatan untuk sekedar bangkit berdiri. Aku berteriak keras dan kencang, tidak memperdulikan tatapan aneh yang diberikan orang yang berlalu lalang. Hatiku merasa sakit, hatiku merasa sesak. Jika aku mempertahankannya dan tidak menghapusnya dari diriku, aku akan merasa tersakiti. Namun aku akan lebih merasa tersakiti jika aku melepaskannya. Aku seperti tengah bermimpi ditengah-tengah mimpiku, atau bahkan lebih dalam dari tempat itu, dan aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk bangun dari mimpi itu, atau sekedar melarikan diri dari mimpi itu.

Saat aku berkata bahwa aku akan melupakannya, itu adalah sebuah kebohongan yang kulakukan kepada diriku sendiri, sebuah kebohongan yang tetap tinggal di dalam diriku. Hatiku dipenuhi oleh sosoknya lagi, seperti saat aku baru mengenalnya. Sosok yang telah dengan susah payah kucoba untuk hapus, kini sosok itu kembali memenuhi hati dan diriku. Dan hal itu menyebabkanku terluka lebih jauh lagi dibanding sebelumnya. Membuatku merindukannya lebih dari sebelumnya. Dan hal itu tumbuh semakin berbahaya dibanding sebelumnya.

Fin~

Hello! I’m back with the stiff’s story. Hope you guys enjoyed it and like it. FF ini termasuk kategori Songfict, dibuat berdasarkan lagu VIXX yang berjudul sama dgn ff ini, Error.

Anyway, thanks for reading and sorry for typos. and I’m still looking forward to your comments. see ya’ ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s