Cap

changwook

*Cap*

This Story is dedicated to my bestfriend, Melda, who is recently falling in love with Ji ChangWook

Matahari telah pergi meninggalkan bumi melalui ufuk barat. Sesungguhnya bola panas raksasa itu telah meinggalkan bumi sejak 4 jam lalu, namun aku sudah amat merindukan bintang raksasa itu. Aku amat menyukai matahari, benda itu memberikan kehangatan kepada siapapun tanpa pamrih, juga memberikan keindahan tiada tara baik saat terbit maupun terbenam. Sayangnya, pekerjaan yang menumpuk serta deadline yang amat pendek memaksaku berkutat di dalam bilik kantorku hingga pukul 10 malam. Aku merenggangkan leherku yang kaku akibat duduk di depan komputer terlalu lama.

Perlahan bus yang kutumpangi mulai memasuki halte tempat aku turun. Aku segera bangkit dan berdiri di depan pintu keluar bus yang hanya mana akulah satu-satunya penumpang bus terakhir ini. Aku langsung melompat turun dari bus itu begitu pintunya terbuka. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari betapa dinginnya malam ini. Aku merapatkan cap hitam dengan bordir initial namaku demi menjaga kehangatan kepalaku. Aku benci udara dingin, itu hanya akan membuatmu sakit dan berkahir pada jadwalmu yang berantakan.

Aku berjalan perlahan menuju rumahku seraya menyanyikan lagu favoritku di dalam kepalaku. Tiba-tiba saja angin bertiup kencang yang tentu membuat udara semakin dingin. Sebagai tindakan reflex aku merapatkan jaketku yang tebal ini, namun diluar dugaan, topiku terbang tertiup angin tersebut. Aku segera mengangkat tanganku, berusaha menangkap topi itu. Namun topi itu terbang jauh lebih tinggi melampaui jangkauan tanganku. Aku berusaha melompat untuk menggapainya, namun banyak hal tidak berjalan sesuai dengan keinginanku, aku gagal mendarat dengan benar yang membuatku kehilangan keseimbangan. Sekali lagi, diluar dugaanku, sebuah tangan kasar yang terlihat kekar menangkap topiku, menghentikannya dari terbang semakin jauh dariku, dan tangan satunya melingkari pinggangku, mencegahku terjatuh dari kakiku.

Perlahan namun pasti, aku mengalihkan pandanganku dari tangan yang memegang topi itu, menyusuri lengan kekar dengan bisep yang menonjol menandakan ia sering melakukan latihan tangan atau setidaknya mengangkat barang-barang berat, rambut coklat yang agak berantakan menutupi dahinya, alis yang tebal menandakan ia adalah seorang yang berpendirian kuat, mata hazel gelap dengan tatapan tajam namun hangat disaat yang bersamaan, hidung yang tinggi seolah menggoda jemariku untuk bermuara di sana, bibir merah muda alami yang membuatku berpikir bagaimana rasanya jika bibirku tertanam disana, hingga perpotongan rahang tegas yang juga menarikku untuk mendaratkan tanganku disana.

“Jogiyo.” Suara baritone itu membuatku jatuh semakin jauh ke dalam pesonanya yang sempurna. Aku bahkan tidak dapat mengalihkan tatapanku dari mata tajamnya yang tengah menatapku.

“Jogi, kau bisa mengambil topimu sekarang.” Hadirnya topi diantara wajahku dengan wajahnya membuyarkan semua khayalan liarku.

“Ah… ne.” sahutku gugup seraya menerima topiku, “Gamsahamnida.”

Aku menatap tubuh tegap atletisnya. Sebuah kaos hitam polos membungkus tubuhnya yang juga sempurna, seolah kaos itu terbuat hanya untuk dipakai olehnya dan ia memang terlahir untuk mengenakan kaos itu. Tinggi badan proporsionalnya ditunjang oleh kakinya yang jenjang.

“Berhati-hatilah lain kali.” Bibir tipisnya itu mengeluarkan kata-kata manis dan tangannya mulai meninggalkan pinggangku.

“Ne, gamsahamnida.” Ucapku sekali lagi. Pria itu memasangkan topi hitamnya yang entah sejak kapan ada di tangannya dan mulai melangkah pergi.

Aku menatap punggung tegapnya dalam diam. Ia berjalan menuju arah yang sama denganku, mengundangku untuk mengikutinya perlahan tanpa sepatah kata-pun. Namun, saat kami sampai di sebuah persimpangan jalan, ia berjalan lurus ke depan sedangkan aku harus belok ke kanan. Sebuah jalan sepi nan sempit yang juga gelap. Belum genap dua langkah aku memasuki jalan itu, aku melihat seorang pria mencurigakan di ujung jalan. Instingku sebagai wanita bekerja secara cepat memperingatiku bahwa aku sebaiknya mengubah arah jalanku. Aku tersentak saat ada seorang pria lain berdiri di hadapanku setelah aku memutar tubuhku.

“Chagiya, kau mau kemana?” ucap pria itu dengan nada menjijikan. Panik mulai menyerangku.

“Bermainlah dengan kami sebentar!” teriak pria yang berada di belakangku.

“Ayolah sayang, jangan takut.” Pria di depanku mulai menyentuh pipiku dengan jemarinya.

“Singkirkan tanganmu.” Ancamku dengan wajah dinginku seraya menepis tangan kotornya.

“Ooh, ini akan menyenangkan sayang. Jangan takut.” Pria dibelakangku tadi mengalungkan tangannya di sekeliling pundakku.

“Lepaskan tanganmu!” jeritku.

“Eyy, ayolah jangan malu-malu begitu. Aku tahu kau juga menginginkannya.” Kedua pria itu mulai memojokanku ke dinding jalan ini. Aku panik, bahkan aku tidak berani mengangkat kepalaku untuk menatap kedua pria itu.

Pria pertama menarik jaketku kasar dan membuangnya ke tanah begitu ia berhasil melepaskanya. Aku hanya diam, menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya, menghindari tatapan mengerikan yang diberikan kedua pira itu, seraya terus mengambil langkah mundur teratur.

“Lepaskan!” Jeritku saat pria kedua mulai berusaha melepas kemeja putihku.

“Ayolah sayang, kau tahu bahwa tidak ada siapapun di sini yang bisa membantumu.” Bisik pria pertama.

“Tolong, kumohon lepaskan aku.” Air mata mulai menggenang di mataku, mengaburkan pandanganku.

“Singkirkan tangan kotormu itu darinya!” seseroang menarik pria kedua yang terus berada di dekatku dan melemparkannya menjauhiku.

Aku sebagai gerakan reflex menekuk lututku dan memeluknya seraya menjerit keras.

“Siapa kau?!” tantang pria yang tadi didorong.

“Aku? Aku adalah kekasihnya.” Sahut sebuah suara baritone terdengar tidak asing.

“Cih!” decih pria kedua itu, “Lantas mengapa kau meninggalkannya sendirian?”

“Karena ia memintaku membelikanya kopi. Namun kurasa aku harus mengecewakannya karena aku akan memberikan kopi ini kepadamu.” Balas suara baritone itu tenang.

Tak lama aku dapat mendengar teriakan kesakitan dari pria kedua tadi.

“Bodoh! Mengapa kau diam saja!” teriaknya pada temannya, sang pria pertama.

Perlahan namun pasti aku mengangkat kepalaku atas dasar rasa penasaran. Aku melihat pemilik suara baritone itu menghindari pukulan yang pria pertama arahkan padanya dengan lihai. Aku juga menemukan pria kedua tengah memegangi wajahnya yang memerah hingga kupingnya seolah ia kesakitan. Menurutku, pria pemilik suara baritone itu menyiramkan kopi panas ke wajah pria kedua.

“Aish! Jangan hanya menghindar dan lawan aku jika berani!” tantang pria pertama.

“Geuraeyo?” pemilik suara baritone itu bersidekap, “Kurasa kau akan menyesalinya.”

Tanpa menunggu apapun pria pertama kembali berusaha melemparkan bogem mentahnya pada pemilik suara baritone itu, namun sekali lagi pria pemilik suara baritone itu menghindari pukulannya dan menangkap lengan pria pertama itu kemudian memelintirnya. Ia menendang punggung pria pertama itu sebagai tambahannya.

“Apa kau masih berpikir kau tidak akan menyesal?” Tanya pemilik suara baritone itu dengan smirk terpatri di wajahnya. Sang pria pertama hanya membuang ludahnya kasar dan bersiap untuk melawan pemilik suara baritone itu.

“Baiklah kalau begitu” Pria dengan suara baritone itu melepaskan topinya dan menaruhnya ke dalam saku belakang celananya.

“Pertama,” ucap sang suara baritone tenang, “kuda-kudamu terlalu lemah.” Ia menendang kaki kiri pria pertama dan menyebabkannya terjatuh.

“Kedua,” lanjutnya, “reflexmu kurang bagus.” Kali ini pria bersuara baritone itu menginjak punggung pria pertama.

“Dan ketiga,” pemilik suara baritone itu menarik paksa kedua tangan sang pria pertama dan memelintirnya sehingga membuat sang empunya berteriak kesakitan, “fokusmu amat buruk.”

“Maka, pergilah selama aku masih membiarkanmu pergi, mengerti?” pria pertama itu mengangguk dan segera bangkit berdiri dan menarik temannya pergi bersamanya dengan tertatih.

“Jogiyo.” Aku kembali menenggelamkan wajahku diantara lututku, “Jogi, moja-nim.” (pemilik topi) pria itu menyentuh pundakku lembut, membuatku memberanikan diri untuk menatapnya.

“Aku sudah berkata padamu untuk berhati-hati, namun mengapa kau tidak mendengarkan perkataanku sedikitpun?” aku menemukan banyak rasa khawatir di dalam matanya.

“Gamsahamnida.” Ucapku pelan setelah akhirnya aku dapat menemukan suaraku.

“Ini tidak bisa dibiarkan.” Gumamnya, “Mengapa kau melalui jalan sempit dan gelap seperti ini?”

“Ini adalah satu-satunya jalan menuju rumahku.” Sahutku yang membuat pria itu menghela nafas berat.

“Ini merupakan cutiku, namun rasanya aku tidak dapat cuti dengan tenang.” Dumalnya seraya melepaskan jaket hitam yang ia kenakan dan menaruhnya ke pundakku, “Aku akan mengantarmu sampai rumah, apa kau bisa berdiri?” tanyanya lembut yang kujawab dengan anggukan.

Ia mengambil jaketku yang tergeletak di tanah dan membawanya. Kami mulai berjalan dalam diam. Pria bersuara baritone itu terus mengikutiku tanpa sepatah kata di sebelahku. Setelah dipikir-pikir, aku bahkan tidak mengetahui nama pria yang telah membantuku dua kali ini.

“Jogi,” aku mulai membuka suara, “apa aku boleh bertanya sesuatu?”

“Mwondeyo?” sahutnya acuh tak acuh.

“Ani.. Kau sudah membantuku dua kali, pertama dengan topiku dan kedua dengan pria-pria aneh itu, namun aku bahkan tidak mengetahui namamu untuk mengucapkan terima kasih.”

“ChangWook.” Sahutnya cepat dengan suara rendah.

“Ne?” tanyaku memastikan karena ia berbicara terlalu cepat.

“Namaku, ChangWook. Ji ChangWook.” Aku menatap iris matanya yang tajam. Sekali lagi entah untuk keberapa kalinya aku jatuh ke dalam pesonanya yang sempurna.

“Jogi moja-nim.” Ia melambaikan tangannya di depan wajahku yang membuat lamunanku buyar.

“Ne?” sahutku dengan kesadaran yang bersisa setengah.

“Aku bertanya siapa namamu, atau haruskah aku terus memanggilmu moja-nim?” tanyanya dengan sedikit bumbu humor nampaknya.

“HaeMin, Park HaeMin.” Jawabku pelan, “Kita sudah sampai.” Kami menghentikan langkah kami di depan sebuah gedung.

“Ini rumahmu?” tanyanya dengan dahi berkerut.

“Ne. Lebih tepatnya rumahku adalah kamar teratas.” Aku menunjuk ke arah kamarku, “Sebagai ucapan terima kasih aku akan mentraktirmu makan ChangWook-ssi, apa kau setuju?”

“Mwo… tentu saja, jika aku memiliki kesempatan.” Jawabnya santai.

“Ne, sekali lagi terima kasih ChangWook-ssi.” Aku memberinya hormat sebagai tindak sopan-santun.

“Ne. itu bukan apa-apa.” Ia tersenyum kecil, “Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Lebih baik kau cepat masuk sebelum hal aneh kembali terjadi.”

“Ne. jalgayo.” Aku melambaikan tanganku rendah yang dibalas dengan senyuman manisnya dan mulai berjalan pergi.

Aku menyadari satu hal saat ia sampai di ujung jalan, kami tidak saling menukar kontak.

“ChangWook-ssi!” panggilku keras namun ia tidak dapat mendengarnya dan terus berjalan maju seraya memasangkan kembali topinya.

Apakah aku dapat bertemu dengannya lagi? Tanyaku pada diriku sendiri seraya menatap punggung tegap nan menawan itu semakin menjauh.

Fin~

the-stiff

The Stiff couple.
Jika JungAh memiliki si perfect Cho KyuHyun, maka HaeMin memiliki ChangWook sang adil. Ji ChangWook seorang pria dengan tubuh proporsional yang ia bentuk dan jaga sebisanya, ia terlihat dingin dari luar dengan wajah tegasnya juga sorot matanya yang tajam. Tapi siapa kira bahwa dibalik semua itu ia adalah seorang pria penyayang yang juga memiliki sisi romantis terutama ia adalah seroang yang cinta keadilan.

Seperti ChangWook, HaeMin juga merupakan seorang yang dingin dari luar namun di dalam ia amat menyukai hal-hal romantis. Hanya Ji ChangWook seorang yang dapat melembutkan hati HaeMin yang beku. Namun bagaimanapun, sikap dingin yang mereka berdua miliki sering kali membuat suasana canggung diantara mereka. Karena sikap canggung keduanya itu, mereka sering di sebut sebagai The Stiff Couple atau Pasangan yang kaku. Lalu bagaimanakah kisah-kisah mereka?

.

.

Hi!! I’m back dengan cerita Ji ChangWook. Kali ini author mengenalkan couple kedua kita, Park HaeMin dan Ji ChangWook. Untuk couplenya Kang HyeNa akan dipublish sebentar lagi, diharapkan antisipasinya.

Comments are very appriciated ^^ See youu!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s