Jumper (Yoo InAh the Series)

*Jumper*

“Aish jinjja!” Dumal MinAh seraya mendudukan dirinya ke sofa di ujung ruangan dengan kasar, “Ke mana semua orang saat kita seharusnya sudah mulai latihan sejak 30 menit lalu?”

“Bersabarlah sedikit MinAh-ah, aku yakin mereka akan sampai tidak lama lagi.” Sahutku seraya terus mematut diriku di depan kaca ruang latihan.

“Eonnie sudah mengatakan itu sejak kita datang ke sini 45 menit lalu.” MinAh melipat tangannya kesal, “Tahu begini aku bisa sedikit lebih berlama-lama bersama mom juga dad.”

Aku hanya tersenyum kecil menanggapi dumalan MinAh. Keluarga MinAh telah jauh-jauh datang dari Prancis demi merayakan malam Natal bersama dengan putri mereka. Memang hari ini adalah hari sebelum Natal, seharusnya kami berada di rumah masing-masing untuk mempersiapkan acara malam Natal bersama namun di sisi lain kami juga harus berlatih untuk konser Gayodaejon akhir tahun ini. Kami harus mempersiapkan beberapa penampilan untuk 3 hari berturut-turut di 3 channel berbeda. 
Kami memang harus mengorbankan beberapa momen berharga itu demi menajalani kehidupan sebagai idol namun aku tidak merasa keberatan sama sekali, berdiri di atas panggung merupakan kehidupanku, dan menjadi idol adalah mimpiku sejak kecil.

“Sampai kapan eonnie akan terus berdiri di depan kaca seperti itu?” Tanya MinAh seraya berjalan ke sampingku.

“Wae?” Tanyaku.

“Aniya, hanya saja agak aneh melihat eonnie berdiri di depan kaca selama ini.” Jawab MinAh yang telah ikut mematut dirinya di depan kaca, “Dan apa yang eonnie kenakan itu?”

“Mwo? Ini?” Tanyaku seraya menarik ujung jumper yang ku kenakan, “Ini adalah jumper.” Sahutku.

“Aku tahu itu adalah jumper, tapi aku baru melihatnya hari ini. Apa eonnie baru membelinya?”

“Ani.” Jawabku singkat, “Ayo kita ambil foto bersama untuk di upload ke official account SNS YH Girls.” Ajakku yang diterima dengan senang hati oleh MinAh.

Tak lama setelah kami mengupload foto yang baru kami ambil itu, aku mendapat sebuah pesan masuk.

*ChoKyu*

ChoKyu: Mwoya?! Bukankah itu jumperku?!

InAh: Eoh, itu adalah jumpermu. Wae?

ChoKyu: Sudah berapa kali kubilang jangan memakai barang milikku sesuka hatimu!

ChoKyu: Bahkan kau belum mengembalikan topi baseballku!

InAh: Setahuku topi baseball itu milik DongHae oppa, aku meminjam topi itu darinya.

ChoKyu: Ani! Lee DongHae meminjam topiku dan dengan sesuka hatinya ia memberi topi itu padamu!

ChoKyu: Kau ada di ruang latihan mana?

InAh: Ruang latihan basement.

ChoKyu: Kau diam di sana!

*

Aku mendengus kasar. Apa yang membuatnya marah seperti itu? Bahkan ini bukan pertama kalinya aku mengupload foto mengenakan pakaian miliknya. Bahkan waktu itu aku beberapa kali mengupload foto dengan mengenakan topi serta jaketnya.

“Lepaskan!” Perintah KyuHyun sesaat setelah masuk ke dalam ruang latihan, “Cepat lepaskan!” Teriaknya sekali lagi.

“Eoh? Anyeonghaseyo sunbaenim.” Sapa MinAh yang tidak dihiraukan oleh KyuHyun, ia hanya terus menatapku tajam.

“Ppalli!” Teriaknya sekali lagi. Aku langsung melepaskan jumper biru yang kukenakan dengan kasar lalu melemparkannya ke wajah KyuHyun.

“Puas sekarang?!” Tantangku.

“Neo,” KyuHyun mengacungkan jarinya ke wajahku, “sekali lagi kau berani memakai pakaian milikku dan menguploadnya barang sekali saja ke SNS, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Mengerti?!” Ancamnya.

“Geurae! Baiklah!” Teriakku ke arah punggungnya yang mulai menjauh, “Aku tidak akan mengenakan barang topimu saja walau aku akan mati!”

Cho KyuHyun membanting pintu ruang latihan ini dengan kasar. Aku memutar bola mataku kesal dan membanting tubuhku duduk di atas sofa.

***

“Kita akhiri latihan kita sampai di sini saja ya.” Ucap RyuBin oppa yang segera disetujui dengan semangat oleh keempat member lainnya.

“Eonnie,” panggil Hani kepadaku yang tengah menghabiskan isi botol airku, “apa ada masalah?”

“Ani.” Jawabku singkat.

“Mwoya? Tidak mungkin tidak ada apa-apa, eonnie bahkan terlihat kesal sejak tadi.” Kali ini Hani memukul pundakku pelan.

“Aku bilang tidak ada apa-apa.” Gertakku yang membuat satu ruangan menjadi sunyi, “Lupakan. Aku pulang dan Selamat Natal.” Ucapku lalu segera meninggalkan ruang latihan itu.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk merasakan betapa dinginnya udara di luar. Aku bahkan hanya mengenakan kaos serta jaket tipis dan celana training seadanya. Menyadari hal itu, aku segera melangkah cepat dan menaiki tangga menuju lobby seraya terus mengusap lenganku, berharap dengan begitu aku tidak terlalu merasa dingin.

“InAh-ah!” Panggil seseorang di belakangku.

“Eoh, JunMyeon oppa.” Sahutku malas setelah melihat siapa pemilik suara itu.

“Kau mau pergi ke mana? Di luar turun salju cukup lebat dan kau hanya mengenakan pakaian tipis seperti itu?” Tanyanya bingung yang kujawab dengan gumaman.

“Lebih baik kau pakai jumperku dan…” ucap JunMyeon oppa seraya mulai melepas jumpernya yang segera kupotong kalimatnya.

“Lupakan.” Ucapku dingin dan mulai kembali melangkah menuju pintu keluar.

Salju turun lebat di luar bahkan mungkin cukup lebat untuk disebut badai salju. Angin juga bertiup amat kencang membuat udara semakin dingin. Aku terus menggerakan kaki serta mengusap lenganku agar tidak terlalu merasa dingin walau sesungguhnya hal itu tidak banyak membantu. Tak satupun taksi yang sedari tadi kutunggu lewat. Sebaliknya, sebuah mobil range rover hitam berhenti tepat di depanku.

“Naiklah!” Perintah orang yang mengendarai mobil itu setelah menurunkan kaca jendela. Aku hanya membuang muka seolah aku tidak mendengar apapun.

Sang pengendarapun segera turun dari mobilnya seraya mendecak kesal dengan sebuah jumper berwarna biru di tangannya.

“Jangan bertindak bodoh dan cepat naik.” Ucapnya seraya berusaha memakaikanku jumper berwarna biru itu yang segera kutangkis.

“Lupakan.” Ucapku dingin.

“Kubilang jangan bodoh Yoo InAh!” Seru pria itu seraya memakaikanku jumper biru tersebut sekali lagi.

“Memang apa pedulimu Cho KyuHyun?!” Teriakku seraya melempar jumper itu ke tanah.

Cho KyuHyun, pria itu menghela nafas kasar seraya memungut jumper nya kemudian membuka pintu penumpang depan.

“Cepat naik.” Ucapnya yang tidak kutanggapi, “Cepat naik!” Kali ini ia mendorongku dan membuatku terpaksa masuk ke dalam mobilnya. Ia segera memutar dan naik ke kursi pengemudi.

“Apa kau gila?!” Teriaknya tak lama setelah ia duduk, “Cepat pakai ini!” Perintahnya seraya menaruh jumper birunya ke pangkuanku.

“Kau bilang aku tidak boleh mengenakan pakaianmu lagi!” Teriakku seraya melemparkan jumper nya ke kursi belakang.

KyuHyun mengusap wajahnya kasar dan memukul roda kemudi dengan kencang.

“Berikan tanganmu.” Kali ini ia merubah perintahnya yang tetap tidak kupatuhi, “Kubilang berikan tanganmu!” Ia menarik tangan kiriku.

“Lihat,” ia mengambil tangan kananku, “tanganmu bahkan sedingin es! Di luar bersuhu minus dua derajat kau pikir kau akan pergi kemana dengan pakaian seperti itu?!” Omelnya.

“BAHKAN DENGAN BODOHNYA KAU MENOLAK SEMUA BANTUAN YANG DITAWARKAN!” teriaknya, “Setidaknya jika kau memang marah padaku terimalah bantuan dari JunMyeon!” Ucapnya dengan amarah yang meledak-ledak.

“Katakan padaku, sesungguhnya kau bodoh atau gila?!” Teriaknya sekali lagi dengan nafas memburu kemudian ia segera melepaskan kedua tanganku untuk menaikan suhu penghangat ruangan yang terpasang di mobilnya.

“Bagaimana jika kau terkena hiportemia InAh-ah?” Ia menurunkan nada bicaranya seraya menempelkan telapak tanganku ke pipinya yang hangat, berusaha menunjukan rasa khawatirnya

“Jangan berpura-pura baik.” Ucapku dingin lalu menarik kembali tanganku. KyuHyun hanya menghela nafas pelan dan mulai menjalankan mobilnya.

***

Begitu KyuHyun selesai memparkirkan mobilnya di depan pekarangan rumah keluarganya aku segera turun dengan membanting pintu mobilnya. Aku juga masuk ke dalam rumah dengan kasar, tidak peduli apa tanggapan orang rumah.

“Eoh InAh-ah, mengapa kau mengenakan baju tipis seperti itu?” Tanya AhRa eonnie bingung yang tidak kuhiraukan dan terus berjalan ke arah kamarku.

“Kalian bertengkar lagi?” Desah AhRa eonnie adalah hal terakhir yang kudengar sebelum membanting pintu kamarku juga.

Aku segera membanting tubuhku ke atas tempat tidurku dan membungkus diriku rapat-rapat dengan selimut. Sesungguhnya aku merasa amat kedinginan, seolah tangan dan kakiku terasa beku, namun egoku tidak membiarkanku menerima bantuan-bantuan yang ditawarkan. Aku mengambil snowglobe yang terletak di nakas sebelah tempat tidurku dan memutarnya demi mendengar musik yang berada di dalam snowglobe itu. Tak terasa aku mulai menitikan air mata.

Walau memang keluarga Cho ini seperti keluargaku di Korea, namun terkadang aku merasa mereka hanyalah orang asing yang tidak ku kenal. Contohnya Cho KyuHyun. Ia bisa menjadi orang yang hangat dan baik hati, namun di detik berikutnya ia bisa menjadi dingin dan tidak perduli, seolah ia memiliki dua kepribadian.

“InAh-ah.” Seseorang yang kuyakini KyuHyun mengetuk pintuku, “InAh-ah, buka pintunya.” Sekali lagi aku memutuskan untuk nenghiraukan ucapan magnae Super Junior itu dan merapatkan selimutku.

“InAh-ah, aku masuk.” Ucapnya seraya membuka pintu.

“InAh-ah,” ia menyentuh pundakku setelah menaruh gelas kaca ke atas nakasku, “InAh-ah lihat aku.”

“InAh-ah,” panggilnya lagi karena aku sama sekali tidak menghiraukannya, “InAh-ah, bangunlah sebentar.” Ia menarik pundakku, memaksaku untuk duduk.

“Pasti kau merasa amat kedinginan.” Ia menyelimutiku dengan selimut yang ada di tangannya, “Mianhae.” Ucapnya yang nyaris seperti bisikan. Akupun mulai mengangkat kepalaku untuk menatapnya.

“Ini, minumlah.” Ucapnya seraya memberikanku gelas yang tadi ditaruhnya di atas nakasku. Segelas susu coklat hangat favoritku.

“Sejujurnya,” bisiknya, “itu adalah susu coklat untuk Santa Claus, tapi aku mencurinya sebelum AeRi menyadarinya.” Ia menambahkan senyum licik diakhir kalimat. AeRi adalah salah satu keponakannya yang dikabarkan akan datang malam ini.

“Mwoya?” Kekehku, “Santa Clause menyukai susu vanila.”

“Anijji.” Sangkalnya cepat, “Itu hanya gosip tidak benar.” Aku tertawa lepas mendengar itu.

“Mianhae Inah-ah,” ucapnya setelah aku berhasil menghentikan tawaku, “Jinjja mianhae. Aku tidak tahu mengapa aku bisa bertindak seperti itu, tapi aku rasa aku tahu alasannya.”

“Wae?” Tanyaku setelah meneguk separuh dari susu coklatku.

“Tadi sebelum kau mengupload fotomu bersama dengan MinAh,” mulainya seraya mengusap ujung bibirku, “aku dipanggil oleh sajangnim.”

“Sajangnim? Tapi kenapa?” Aku mengerutkan dahiku. KyuHyun sama sekali tidak menjawabku, ia hanya menghela nafas berat. Seolah ia sedang menimbang apakah ia harus atau tidak memberitahuku.

“Oppa,” aku menyentuh lengannya, “beritahu aku.” Aku menatapnya tepat di mata.

“Arraseo.” Sekali lagi ia menghela nafas, “Sajangnim menyuruhku menjauhimu.”

“Mwo?!” Aku terkejut dengan jawabannya, “Tapi kenapa? Kalau kau menjauhiku lalu apa?”

“InAh-ya,” ia menyentuh kedua pundakku, “kau adalah seorang idol, begitu juga denganku. Namun ini adalah masamu bersinar sebagai bintang, sedangkan aku sudah mulai redup.” Jelasnya pelan.

“Banyak orang-orang di luar sana mulai bespekulasi dengan kedekatan kita. Bahkan kau sudah memiliki haters club saat bahkan kau belum genap satu tahun debut.” Tambahnya, “Banyak orang yanh berpikir kau hanya menggunakan kedekatanmu denganku untuk meraih kepopuleran.”

“Tapi itu tidak benar,” sahutku, “kau tahu itu, aku juga tahu itu, begitu juga dengan sajangnim.”

“Arra, geundae,” ia memejamkan matanya sejenak, “para haters itu tidak tahu InAh-ah. Beberapa lainnya berspekulasi bahwa kita benar-benar berkencan, kita tahu bahwa kita tidak dalam hubungan itu tapi tidak dengan mereka.”

“Maka dari itu, mari kita agak sedikit menjaga jarak di depan kamera, eottae? Ini demi kebaikanmu InAh-ah.” Tanyanya.

“Arraseo.” Jawabku setelah menghela nafas berat.

“Geurae, itu baru adikku.” Ucapnya seraya mengacak rambutku pelan.

“Eoh? Apa ini?” Tanyanya setelah melihat snowglobe yang ada di tanganku.

“Itu snowglobe dan music box hadiah dari SiWon oppa saat pesta Natal kemarin.” Jawabku.

“Geurae?” Ia menatap snowglobe berisi patung gadis tengah berdansa dengan seorang pria miliku itu.

“Eung, itu hanya ada satu di dunia.” Sahutku bangga.

“InAh-ah, apa kau dekat dengan SiWon hyun seperti kau dekat denganku?” Tanyanya sekali lagi yang kusahuti dengan gelengan.

“Bagaimana dengan DongHae hyung?” Kali ini aku menganggukan kepalaku, “Kalau begitu, kau harus membuat hubungan kita seperti hubunganmu dengan DongHae hyung. Kalian dekat, namun tidak banyak orang yang mengetahui, arraseo?”

“Eung, arraseo.” Sahutku dengan senyum.

“Baiklah, ayo kita turun sebelum eomma mengomeli kita.” Ajaknya yang langsung kusetujui.

***

“Clarisse,” panggil Lucas, “apa yang kau rasakan saat kau membayangkan hal-hal tentang kau menjadi artis SM?”

“Entahlah, aku merasa itu bukan sekedar hayalan.” Jawabku santai, “Lebih seperti aku tengah melakukan perjalanan waktu ke masa depanku.”

“Clarisse,” panggilnya sekali lagi, “kalau begitu aku juga akan mengikutimu.”

Fin~

Hi!! Hari ini adalah hari sebelum natal maka author memutuskan untuk ngepost special natal.

Mungkin kali ini Yoo InAh the Seriesnya lebih panjang dari sebelum2nya, semoga readernim gk bosen2 yaa.

Selamat natal bagi yang merayakan and see you real soon! Bye! 👋👋

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s