Bittersweet (Part 9)

BitterSweet6

*Part 9*

Suara tembakan memenuhi ruangan di mana terdapat dua murid SMA yang masih mengenakan seragam mereka.

“Mwoya?!” Seru murid laki-laki yang telah melepas almamater sekolahnya.

“Assa!” Gadis yang masih mengenakan seragamnya dengan lengkap dan rapih itu tersenyum puas setelah berhasil mengalahkan murid laki-laki di sebelahnya itu.

“Lee JungAh, kau bilang kau tidak pernah memainkan game ini satu kalipun. Bagaimana bisa kau mengalahkanku yang memainkan ini setiap harinya?!” Kesal sang murid laki-laki.

“Tidak pernah memainkan bukan berarti aku tidak bisa bermain SungJin-ah.” Sahut gadis itu seraya melepaskan pistol berwarna pink itu dari genggaman tangannya.

“Baiklah, kau mau coba racing carku?” Tanya SungJin.

“Sejujurnya aku lebih tertarik pada racing bikemu.” Aku JungAh.

“Joha!” Sahut SungJin singkat dan melangkahkan kakinya menuju racing bikenya.

“Bagaimana kau bisa bertemu dengan SungMin hyung? Sejak kapan kau kenal dengannya?” Tanya SungJin seraya memilih track balapan untuk mereka.

“Aku bertemu dengannya sejak 9 tahun lalu, di depan rumah pamanku.” Balas JungAh ringan.

“Ah, berarti saat kami masih tinggal di desa kecil itu.” Timpal SungJin, “Kau tinggal menekan tom…”

“Lee SungJin!” Teriakan itu terdengar dari luar, namun tetap terdengar kencang di telinga kedua remaja itu, yang membuat SungJin bangkit dari motornya dan berjalan ke depan pintu.

“Waeyo hyung?” SungJin balas berteriak seraya mengintip keluar pintu tempat bermainnya itu.

“Cepat turun dan makan!” Tambah hyungnya itu.

“Arraseo!” SungJin segera kembali masuk dan menarik tangan gadis yang menemaninya bermain sejak 2 jam lalu, “Gajja, aku sudah kelaparan.” Ucap SungJin tanpa menghiraukan reaksi gadis itu.

***

“… dia sangat terkenal diantara murid kelas kami, kau sama sekali tidak mengenalnya?” SungJin terus mengoceh walau mulutnya dipenuhi makanan. JungAh hanya menggeleng singkat membalas pertanyaan SungJin.

“Eoh. Appa!” Seru SungJin setelah melihat ayahnya masuk ke ruang makan masih dengan pakaian nan rapihnya.

“Siapa itu?” Tanya tuan Lee seraya menunjuk JungAh dengan dagunya.

“Ah..” JungAh segera bangkit berdiri, “Joneun Lee JungAhimnida, senang bisa bertemu dengan Anda.” JungAh membungkukan tubuhnya sedalam 90 derajat.

“Ah… kau teman dari SungJin?” Kali ini tuan Lee memasukan sepotong telur gulung kedalam mulutnya.

“Ia temanku aboji.” Sahut SungMin yang diam sedari tadi.

“Oh?” Ucap tuan Lee agak terkejut, “kalian ada di satu kelas yang sama?”

“Aniyo,” SungMin tak membiarkan JungAh berbicara, “Ia satu angkatan dengan SungJin, namun mereka bahkan tidak saling mengenal sampai hari ini.”

“Lalu bagaimana kalian bisa bertemu?” Tidak ada yang berniat menjawab pertanyaan tuan Lee yang satu itu.

“Mereka bertemu saat kita masih tinggal di desa kecil itu appa. Sekitar 9 tahun lalu, berarti saat aku baru berumur 6 tahun.” SungJin menjelaskan semuanya pada ayahnya itu.

“Dan sekarang kau tinggal di mana?” Kali ini pertanyaan ditujukan hanya untuk JungAh.

“Ia masih tinggal di rumah lamanya.” SungMin masih tidak membiarkan JungAh menjawab pertanyaan ayahnya.

JungAh terdiam, tidak berani menggerakan tangannya atau bahkan hanya sekedar untuk mengangkat kepalanya.

“Apa yang orang tua-mu lakukan?” Tuan Lee benar-benar ingin mengorek informasi tentang JungAh.

“Apa pentingnya pekerjaan orang tuanya aboji?” Tanya SungMin kesal.

“Kau membawanya ke rumah ini, bukankah ada maksud tertentu?” JungAh mengangkat kepalanya, menatap SungMin yang tengah menatap ayahnya.

“Apa maksudmu aboji? Apa salahnya membawa temanku ke rumah?” SungMin menaruh sumpit yang ada di tangannya ke atas meja.

“Kau tidak pernah membawa satupun temanmu ke rumah, jika ia temannya SungJin aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi ia adalah teman pertama yang kau bawa, dan ia seorang perempuan yang telah kau kenal selama 9 tahun. Jadi aku harus tahu semua latar belakangnya.” Amarah tuan Lee tampak mulai tersulut.

“Saya hanya tinggal dengan paman saya, dan tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu orang tua saya.” Akhirnya JungAh dapat menjawab tuan Lee tanpa gangguan dari SungMin.

“Ah, begitu rupanya.” Tuan Lee berusaha menahan agar keterkejutannya tidak terlihat oleh siapapun, “Sekarang sudah mulai larut, apa paman-mu tidak mencarimu? Kau hanya seorang gadis SMA tidak baik berpergian sendiri larut-larut. Tidakkah sebaiknya kau pulang?” Ucap tuan Lee panjang, bermaksud mengusir JungAh.

“Ah, n…”
“Aku akan mengantarnya pulang nanti.” SungMin memotong ucapan JungAh.

“Ada yang hal penting yang harus kubicarakan denganmu SungMin-ah, kau tidak bisa mengantarnya pulang.” Tuan Lee memberi alasan yang cukup membuat SungMin geram.

“Kalau begitu aku bisa meng…”
“Kau harus belajar SungJin-ah, bukankah ujian sekolah sudah dekat?” Sanggah tuan Lee yang membuat kedua putranya itu bungkam.

“Ku kira kau harus pulang sendiri.” Ucapnya dingin pada JungAh, “Kau harus segera berangkat jika tidak mau tertinggal oleh bus tercepat atau kau harus menunggu 2 jam lagi sampai bus berikutnya kurasa.”

“Assa! Kalau begitu kita bisa bermain lagi JungAh-ah.” Ucap SungJin bersemangat.

“Sudah kubilang kau harus belajar!” Bentak tuan Lee tak terbantahkan.

JungAh segera bangkit dari duduknya dan memberikan salam pamit kepada tuan Lee dan SungMin beserta SungJin, adiknya, kemudian melangkah keluar dengan kepala tertunduk dalam.

“Aboji, sebenarnya apa masalahnya?” Tanya SungMin frustasi setelah ia yakin JungAh telah meninggalkan rumahnya, “Ia bahkan belum menghabiskan makan malamnya!”

“Aku sudah kenyang.” Ucap SungJin datar dan segera meninggalkan ruang makan. Ia tahu, jika kakaknya mulai bicara dengan nada seperti itu kepada ayahnya maka perang dunia akan kembali pecah. Jadi ada baiknya ia menghindari peperangan itu, ia tidak mau menjadi korban salah sasaran.

“Wae? Apa masalahnya?” Sahut tuan Lee dingin.

“Sudah jelas aboji berniat untuk mengusirnya, apa perlu aboji bertindak sejauh ini?!” SungMin menatap ayahnya penuh amarah.

“Dari mana kau pelajari perilaku sepeti itu? Berani-beraninya kau menatap ayahmu dengan tatapan seperti itu!” Bentak tuan Lee, “Tidak seharusnya kau berteman sedekat itu dengannya. Tidakkah cukup jelas bagimu? Kau akan menjadi penerusku nantinya, maka kau harus berteman dengan orang yang berada di kelas yang sama denganmu. Desa kecil itu? Dalam waktu beberapa bulan desa itu akan hancur! Menurutmu kau pantas bersanding dengannya? Eoh?!”

“Jwei… jweisonghamnida.” Sebuah suara mengalun lembut, namun sakit hati yang amat dalam tampak di suara gadis itu, “Saya melupakan tas saya di sana.” Gadis itu menunjuk sebuah tas kumal dengan beberapa kain tambalan di sisinya.

“JungAh-ah..” SungMin tidak dapat melanjutkan kalimatnya, sudah jelas gadis itu pasti mendengar percakapannya dengan ayahnya.

“Saya mohon pamit.” JungAh melangkahkan kakinya dengan tergesa, ingin segera meninggalkan rumah itu, bila mungkin semua hal yang ia ketahui dari rumah itu.

“JungAh-ah.. Lee JungAh!” Panggil SungMin yang berusaha mengejarnya, namun sang ayah menahan tangannya.

“Sudah sebaiknya kalian menjadi dua orang asing.” Ucap sang ayah puas.

“Aku pikir aboji adalah seorang yang terhormat dan tidak akan melakukan hal serendah ini. Ternyata aku salah!” SungMin mendorong keras meja makan di depannya dan melangkah menuju kamarnya.

“Mungkin kau akan berpikir seperti itu sekarang, tapi percayalah, kau akan setuju denganku suatu saat nanti!” Teriak tuan Lee kencang, memastikan putra sulungnya dapat mendengar tiap-tiap kata yang ia ucapkan dengan baik.

***

“Aku pulang.” JungAh memasuki rumah pamannya dengan langkah gontai. Namun sedetik kemudian, mata yang separuh menutup itu terbuka lebar setelah melihat betapa ramainya rumah pamannya itu. Terlihat ada sekitar 5-7 pria yang tidak ia kenal duduk mengitari sebuah meja kecil di tengah ruangan yang penuh sesak itu.

“Eoh, JungAh-ah! Kau datang di saat yang tepat!” Seru pamannya kegirangan dan itu bukan pertanda baik, “Berikan aku uang, aku sangat membutuhkannya sekarang.” Sudah kubilang, itu bukan pertanda baik.

“Eob.. eobseoyo.” Sahut JungAh takut-takut.

“Eyy, kau selalu memiliki penghasilan, aku tahu itu, jadi cepat berikan aku uangnya.” Tuntut pamannya tak sabaran. Benar adanya ia memiliki sebuah kerja paruh waktu, dan tidak pernah bolos satu haripun, tidak sampai hari ini. Dan pamannya tidak boleh tahu mengenai hal itu.

“Anieyo, aku keluar dari kerja paruh waktuku di toko ayam itu. Aku harus belajar untuk ujianku.” Dusta JungAh.

“CEPAT BERIKAN AKU UANGNYA!” teriak pamannya penuh tuntutan, “Aku tidak meminta alasan apapun darimu, AKU HANYA BUTUH UANGNYA!”

“Tapi aku tidak memiliki uang apapun.” Sahut JungAh lemas.

“Baiklah kalau itu pilihanmu!” Pamannya kembali menatap teman-temannya, “Aku mempertaruhkannya.” Kedua kata itu bagai halilintar yang menyambar, membuat JungAh membatu di tempatnya bahkan ia tidak dapat mengucapkan 1 patah katapun.

“Aku bisa jamin ia masih murni, siapapun diantara kalian yang menang bisa mendapatkannya. Sebaliknya kalian harus mempertaruhkan seluruh harta kekayaan kalian. Bagaimana?” Tawar pamannya yang segera disetujui oleh teman-temannya.

“Sa.. samchon..” ucap JungAh lirih, hidup dan matinya bergantung di sini, masa depannya menjadi tidak pasti. Dunia malam, itulah yang kemungkinan besar menjadi masa depannya.

“Wae? Kau bahkan tidak memiliki uang, kau juga hanya merepotkanku di sini, jadi lebih baik kau menjadi sesuatu yang lebih berharga bagiku.” Sang paman melontarkan kalimat itu dengan nada yang terlewat santai, “Lagi pula, apa kau tidak bisa mempercayaiku?”

“Ani! Aniyeo! Sama sekali tidak!” Jerit JungAh, “Aku tidak bisa mempercayaimu, dan tidak akan percaya padamu bahkan sampai aku mati!” Gadis itu segera melangkah meninggalkan rumah pamannya.

Entah tempat apakah yang menjadi tujuannya, namun pergi dari rumah terkutuk itulah tujuan utamanya. Kaki jenjang gadis itu membawanya ke sebuah taman bermain kecil di dekat desanya itu. Seorang pria terlihat tengah duduk di sebuah ayunan dengan kepala tertunduk dalam. Langkah kaki gadis itulah yang membuat pria itu mengangkat kepalanya dan bangkit dari duduknya.

“JungAh-ah!” Seru pria itu.

“Oppa!” JungAh menghambur ke dalam pelukan pria itu. Mengeluarkan semua air mata yang telah ditahannya selama perjalanan sampai ke taman ini.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tidak tahu bahwa aboji akan bersikap seperti itu, dan aku tidak pernah mengharapkannya. Jinjja mianhae JungAh-ah.” Sesal SungMin dalam, namun JungAh tidak menunjukan tanda akan membalas permintaan maaf dari SungMin.

“Wae irae?” (Ada apa denganmu?) SungMin menarik bahu JungAh agar dapat menatap matanya, “Apa aboji benar-benar mengatakan hal yang salah? Atau kau tidak bis…”

“Anieyo oppa.” JungAh menggelengkan kepalanya cepat.

“Lalu apa yang terjadi?” Mata SungMin bergerak gelisah, “Apa pamanmu memukulmu lagi?”

“Ani.” JungAh menggelengkan kepalanya lemah.

“Lalu apa yang terjadi?! Bagaimana aku bisa tahu jika kau hanya terus menangis JungAh-ah?” SungMin mengguncangkan bahu JungAh keras.

“Ia menjadikan-ku bahan taruhannya.” Ucap JungAh diantara isak tangisnya, “Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Aku tidak bisa.. aku..” tangis JungAh kembali pecah dan SungMin kembali menyandarkan kepala JungAh ke dadanya, meredam tangisan gadis itu.

“Geurae, kau tidak boleh kembali ke sana.” SungMin menggertakkan giginya, menahan amarah, “Aku akan mencari cara agar kau tidak perlu kembali ke rumah terkutuk itu lagi. Aku akan mencarikanmu apartemen jika mungkin, aku akan mengirimkan beberapa orang ayahku untuk mengambil barang-barangmu dari sana, sehingga kau tidak harus kembali ke tempat itu sama sekali.”

“Geund..”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan ayahku, aku yang akan mengurusnya. Sekarang kurasa kau bisa menginap di rumah temanku untuk malam ini, gwaenchanjji?” JungAh mengangguk, menyetujui rencana SungMin yang kembali memeluknya erat.

<<>>

JungAh’s POV

“CHO KYUHYUN!” teriakan itu menyentak kami, membuat kami melepaskan tautan bibir kami. Aku menemukan sosok pria paruh baya berdiri di sebelah pintu ruangan KyuHyun, menahan amarah.

“A..Aboji.” ucap pria di sebelahku, terkejut.

Aboji? Pria paruh baya itu adalah ayah dari pria ini? Otakku bekerja dengan liar, membayangkan semua kemungkinan yang mungkin atau bahkan tidak mungkin terjadi.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak ayah dari pria di sebelahku ini, “Aku mempercayakan perusahaan ini padamu karena aku mempercayaimu, namun kurasa aku salah.”

“Aboji, ini tidak sep…”

“Neo!” ia menunjukku dengan jari telunjuknya, “cepat keluar dari ruangan ini!”

“Aboji, aku bi…”

“Jangan membantah!” bentak pria paruh baya itu sekali lagi, “Kau mungkin tidak mengetahui namanya dan menganggapnya sebagai Park MiYeon itu lagi bukan?!”

“Aboji!” KyuHyun menaikan nada suaranya. Sedangkan aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini.

“Kau!” ia kembali membentakku, “Cepat keluar! Apa lagi yang kau tunggu? Uang?” dengan cepat ia mengeluarkan dompetnya dan melemparkan sejumlah besar uang kehadapanku.

“Sekarang cepat pergi!” kali ini ia menunjuk pintu ruangan KyuHyun.

Aku hanya dapat menatap pria paruh baya itu dengan tatapan benci. Aku bahkan tidak tahu mengapa ia berlaku seperti itu, namun itu sangat mengganggu. Ia merendahkanku begitu saja seolah.. seolah aku bukan seseorang atau bahkan sesuatu.

“Aboji!” kali ini keputus asaan dapat kurasakan dari suara KyuHyun, namun begitu aku segera melangkahkan kakiku keluar dari ruangan ini.

“Jung…”
“Diam di tempatmu!” aku masih dapat mendengar suara itu samar dari depan pintu lift.

Aku menabrak seseorang tanpa sengaja saat aku bergegas masuk ke dalam lift. Aku bahkan tidak memiliki niat untuk meminta maaf atau sekedar melihat siapa yang kutabrak.

Author’s POV

Putri sulung keluarga Cho itu melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah lift dan menekan angka 27. Matanya terus bergerak gelisah, memikirkan bagaimana nasib adiknya itu. Setengah jam lalu sepupunya, JungSoo, menelfonnya dan mengatakan bahwa adiknya tengah bertengkar dengan pasiennya yang mengalami perkembangan pesat. Ia takut kejadian satu tahun lalu kembali terulang. Walau kedua orang itu saling mengenal baik satu sama lain, namun tetap saja keadaan keduanya belum sepenuhnya pulih dari trauma mereka masing-masing.

Seorang gadis yang terlihat menahan tangisnya menabraknya saat ia hendak keluar dari lift itu.

“JungAh-ah!” AhRa memanggil pasiennya itu namun tidak ada sahutan kala pintu lift telah kembali tertutup.

Ia segera melangkahkan kaki ke ruangan adiknya dan bersumpah akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua orang itu. Sejak awal mereka berdua memiliki koneksi yang tercipta bak takdir. Walau dengan cara dan 2 orang yang berbeda, namun jalan mereka telah dibangun untuk memiliki satu ujung yang sama sampai akhir hidup mereka atau hanya sampai persimpangan jalan berikutnya.

“Aku begitu mempercayaimu, namun lihat apa yang telah kau lakukan?!” AhRa mendengar suara ayahnya penuh dengan tekanan, membentak adiknya itu, “Apa yang harus kulakukan agar kau bisa benar-benar kembali berpikir jernih?!” kali ini suara pukulan terdengar mengikuti akhir kalimat ayahnya.

“Oppa!” panggil AhRa pada JungSoo, “Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja ayahmu datang dan ia…” JungSoo tidak menyelesaikan kalimatnya dan menunjuk ke arah pintu ruangan KyuHyun yang telah di tutup rapat-rapat.

“Aku benar-benar kecewa padamu! Jika sa…” kalimat itu menyapa telinga AhRa tepat saat ia membuka pintu ruangan KyuHyun.

“Appa!” jerit AhRa saat tangan besar ayahnya tengah berada di udara, siap memukul putra bungsunya, “Apa yang kau lakukan?!” AhRa menarik appanya menjauh dari adik laki-lakinya itu.

“KyuHyun-ah!” kali ini AhRa berlari ke arah KyuHyun setelah berhasil menyuruh ayahnya duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan KyuHyun, “Gwaenchana?”

“Aku benar-benar menyesali semuanya.” Gumam KyuHyun, “Memang seharusnya aku tidak pernah kembali ke rumah appa. Memang lebih baik aku hidup dengan tenang selama 1 tahun itu. Seperti aku tidak pernah ada di dunia ini.”

“CHO KYUHYUN!” bentak AhRa, “Apa berusaha membunuh dirimu setiap harinya masuk dalam kategori hidup dengan tenang?”

“Tidak ada gunanya juga aku di sini, memang sudah seharusnya aku mati. Bahkan tidak seharusnya aku pernah lahir di dunia ini.” Balas KyuHyun penuh tekanan di kata ‘mati’ yang ia ucapkan, “Lagi pula aku tidak menyuruh noona untuk menyelamatkanku! Apa intinya hidup jika tidak ada yang bisa menjadi pegangan bagiku untuk percaya?!”

CEO baru itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kebesarannya dengan langkah-langkah besar, meninggalkan ayah serta noonanya yang membatu.

“Appa!” seru AhRa sekali lagi, “Apa sesungguhnya yang KyuHyun lakukan hingga appa memukulinya lagi? Ia baru mulai kembali ke kepribadian lamanya, apa yang sesungguhnya ia lakukan?” keputusasaan amat kentara dari suara psikolog itu.

“Ia telah menghancurkan kepercayaanku padanya, itulah kesalahannya.” Sahut sang ayah dingin.

“Memang apa yang KyuHyun lakukan?” Tanya AhRa sekali lagi.

“Ia mencium seorang wanita yang mungkin bahkan tidak ia kenal!” jawab ayahnya.

“Ne? KyuHyun menc…” kalimat AhRa terhenti, ia berusaha mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Jika ayahnya melihat KyuHyun mencium seorang wanita maka wanita yang di maksud ayahnya adalah JungAh, tidak ada wanita lain yang dilaporkan JungSoo yang masuk ke ruangan KyuHyun. Namun jika benar KyuHyun mencium pasiennya itu, apa alasannya?

“Appa, wanita yang appa maksud itu bernama JungAh, KyuHyun mengenalnya, aku juga mengenalnya, ia salah satu pasienku dan ia..”

“Pasienmu?” dengus tuan Cho, “itu berarti sesuatu ada yang salah di kepalanya.”

“Appa!” sahut AhRa tidak terima, “Ia adalah alasan kenapa KyuHyun mau pulang ke rumah, jika JungAh tidak datang mungkin KyuHyun masih berusaha membunuh dirinya sampai sekarang dan ia tidak akan pernah bekerja di kantor ini.”

“Gadis itu bisa menjadi pasienku karena ia mengalami hal yang sama dengan KyuHyun.” Tambah AhRa.

“Apa maksudmu?” Tanya Tuan Cho.

“JungAh lah alasan mengapa KyuHyun bisa kembali ke kepribadian lamanya. Singkatnya, JungAh lah yang berhasil menyelamatkan KyuHyun.” Jawab AhRa.

“Tapi mengapa ia mencium gadis itu?”

“Aku belum bisa menjawab pertanyaan itu appa.” Balas AhRa dengan kepala tertunduk.

***

Pintu utama rumah keluarga Cho itu terbuka lebar, sang tuan rumah segera naik ke atas menuju kamarnya dengan langkah besar dan cepat. Amarah masih belum meninggalkan dirinya. Sedangkan nyonya rumah itu terlihat bingung dengan perilaku suaminya, juga karena ia hanya melihat putrinya tanpa putranya.

“Di mana KyuHyun?” Tanya nyonya Cho pada putrinya.

“Ah..” AhRa mencari alasan yang tepat agar ibunya itu tidak kembali shock dan melakukan hal-hal bodoh, “Ia masih di kantor, ia bilang ia akan menyelesaikan beberapa hal lagi dan menyuruhku dan appa untuk pulang terlebih dahulu.”

“Aish, anak itu. Mengapa ia selalu memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras?” dumal nyonya Cho.

“Biarkan saja eomma, ia hanya ingin menunjukan bahwa ia dapat melakukan apa yang eomma inginkan.” Sahut AhRa dengan senyum terpatri, ia merasa tenang karena ibunya mempercayai perkataannya begitu saja.

“Arraseo, lain kali jika kau bertemu dengannya, paksa ia pulang. Bilang padanya aku melarangnya untuk lembur, arra?”

“Ne eomma.” AhRa memeluk ibunya gemas, baginya ibunya itu amat penyayang dan ia ingin menjadi seseorang seperti ibunya itu.

“Geurae. Kau cepat mandi dan makan.” Perintah sang ibu yang segera dilaksanakan oleh putrinya itu.

***

“JungAh-ah, mengapa kau seperti ini lagi?” ucap seorang gadis putus asa kepada gadis lain yang tengah duduk di sudut kamarnya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Rambut yang jauh dari kata tertata, juga matanya yang bengkak akibat menangis selama 2 hari berturut-turut memperburuk keadaannya.

“JungAh-ah jebal..” ucap gadis pertama itu karena temannya tidak menunjukan tanda-tanda akan merespon ucapannya.

“Aku sudah tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Sudah kubilang jangan terlalu dekat dengan pria itu.” Oceh SoHyun, si gadis pertama, “Maka dari itu, jangan merusak dirimu seperti ini dan makanlah bubur ini selagi hangat, eung?” paksa SoHyun namun JungAh tidak bergeming barang sedikit saja, hanya air mata yang terus mengalir dari sudut kedua matanya.

“JungA…” dering telfon SoHyun memotong kalimatnya.

“Wae?”

“…”

“Ani, aku sedang sibuk sekarang jadi bisakah kau…”

“…”

“MWO?! JINJJA? Arraseo aku akan ke sana sekarang.”

“JungAh-ah, mianhae. Ada sesuatu yang amat penting terjadi, jangan lupa makan buburmu. Aku pergi sekarang.” Gadis itu segera berlari keluar setelah selesai berpamitan.

Teman tidak selamanya mengerti apa yang kita pikirkan dan rasakan JungAh-ssi, ia juga memiliki kesibukan dan kehidupan pribadi. Ucapan KyuHyun saat mereka berada di restoran pasta beberapa bulan lalu kembali berputar di kepala JungAh. Dan kalimat itu menghancurkan JungAh lebih jauh lagi.

***

“Cho KyuHyun,” AhRa masuk ke kamar adiknya itu dengan nampan ditangannya. Asap tampak mengepul dari dalam mangkuk di atas nampan yang dibawanya.

“Ayo makan dan cepat bersiap-siap.” AhRa menaruh nampan yang dibawanya ke atas nakas dekat tempat tidur KyuHyun, “Kau harus berangkat ke perusahaan sekarang atau kita akan telat.”

AhRa melanjutkan kegiatannya dengan membuka tirai yang menutupi jendela KyuHyun dari sinar matahari luar dan membiarkan sinar itu masuk.

“Ayo cepat bangun.” Perintah gadis itu pada adiknya yang tidak bergeming dari atas tempat tidurnya itu.

“Tutup kembali tirainya.” Gumam KyuHyun pelan, namun begitu tetap terasa dingin.

“Kau telah menutup tirai ini selama dua hari dan itu membuat udara di ruangan ini tidak baik bagi kesehatanmu, intinya kau harus membuka tirai ini.” Oceh AhRa yang tidak didengar sedikitpun oleh KyuHyun.

“Kubilang tutup tirainya.” Tantang KyuHyun.

“Sudah kubilang ka..”

“Ini apartemen-ku!” bentak KyuHyun seraya bangkit berdiri dan melangkah ke arah jendelanya, “Aku yang membelinya dengan uang yang kukumpulkan sendiri, jadi aku yang memutuskan apa yang harus dilakukan pada seluruh benda di apartemen ini!” Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan mendorong kakaknya itu hingga terjatuh lalu segera menutup tirainya dengan kasar.

“Arraseo, kau boleh menutup tirainya.” AhRa kembali bangkit berdiri walau pergelangan kakinya terasa nyeri, “tapi makan sup itu selagi hangat. Kau harus makan dan berangkat kerja.”

KyuHyun membalikan tubuhnya menghadap kakak perempuannya itu seraya tersenyum sinis. Tak lama ia meraih mangkuk berisi sup hangat itu dan melepasnya begitu saja.

“Eoh?” seru KyuHyun dengan nada yang dibuat-buat, “Bagaimana ini? Supnya terjatuh dan mangkuknya pecah. Kurasa aku tidak bisa makan.” KyuHyun kembali melangkahkan kakinya ke tempat tidurnya dan duduk di sana.

“Cho KyuHyun!” seru AhRa kesal.

“Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan bagian dari keluarga itu lagi.” Sahut KyuHyun datar, “Panggil aku KyuHyun saja. Ah tidak, kurasa aku akan mengganti namaku saja.”

“CHO KYUHYUN!” bentak AhRa yang membuat KyuHyun mendelik kesal ke arahnya.

“Cepat keluar dan jangan ganggu aku.” Perintah KyuHyun.

“KyuHyun-ah…” ucap AhRa putus asa akhirnya.

“Cepat keluar!” bentak KyuHyun sekali lagi.

“Arraseo, aku akan keluar setelah aku membersihkan ini.” AhRa mulai berlutut dan memunguti pecahan mangkuk tadi.

“Tinggalkan saja.” Ucap KyuHyun dingin namun AhRa tidak menghiraukannya, “Kubilang tinggalkan saja!” seru KyuHyun kesal.

AhRa tetap memunguti pecahan demi pecahan beling itu seperti tidak pernah mendengar KyuHyun, dan KyuHyun yang geram akan hal itu segera bangkit dan menarik tangan AhRa kasar hingga noonanya itu berdiri dan menjatuhkan semua pecahan beling yang ada di tangannya tadi. KyuHyun menarik AhRa keluar kamarnya serta mendorong AhRa kencang yang membuat gadis itu terjatuh.

“Coba saja jika kau berani masuk!” tantang KyuHyun seraya menunjuk AhRa dengan jarinya lalu membanting pintu kamarnya dan menguncinya. AhRa tidak dapat berkata apapun melihat kelakuan adiknya itu, sedangkan di satu sisi, KyuHyun telah terduduk di belakang pintu kamarnya seraya memeluk kedua lututnya dan menangis, menyesali semua perbuatannya.

“Mianhaeyo noona, jeongmal mianhae.” Bisik KyuHyun tak dapat terdengar.

***

Wanita paruh baya dengan selera fashion tinggi di usianya yang sudah tidak muda lagi itu melangkah masuk ke perusahaan milik suaminya dengan angkuh namun tetap terlihat anggun. Walau di tangan kanannya tergantung sebuah tas designer ternama, ia membawa sebuah kotak bekal di tangan sebelah kirinya dan hal itu ia lakukan tanpa rasa malu maupun gengsi sedikitpun. Ia hanya ingin memberi putranya asupan gizi yang cukup dan tidak lebih.

“Eoh? Imo?” (Bibi?) seru sekertaris putranya seraya bangkit berdiri.

“Eoh JungSoo-ya. Apa KyuHyun ada di dalam?” Tanya wanita tadi lembut.

“KyuHyun?” kebingungan tampak di wajah pria itu, jelas-jelas adik sepupunya itu telah absen selama dua hari berturut-turut tanpa kabar tentu ia bingung mengapa bibinya itu mencari adik sepupunya di kantor ini.

“Wae? Apa ia sedang ada rapat?” Tanya wanita itu satu kali lagi karena JungSoo tak kunjung menjawabnya.

“Ani…” JungSoo menimbang apakah ia harus memberi tahu hal yang sesungguhnya terjadi atau tidak karena AhRa juga tidak memberinya kabar sama sekali, “KyuHyun sudah tidak masuk sejak kemarin, berarti dua hari sudah KyuHyun tidak masuk.”

“Mwo?” Nyonya Cho mengerutkan dahinya, “AhRa bilang ia sedang ada banyak pekerjaan sehingga ia tidak sempat pulang ke rumah.”

JungSoo merutuk dirinya dalam hati, mengapa ia tidak berbohong saja tadi?

“Geuraeyo? Eoh? Imo?! Imo!” JungSoo berteriak memanggil bibinya yang melangkah pergi tanpa sepatah kata atau bahakan peringatan atau sekedar membiarkannya menyelesaikan kalimatnya.

“Aish jinjja, mengapa semua anggota keluarga itu selalu memutuskan percakapan secara sepihak?” dumal JungSoo melupakan fakta bahwa ia juga merupakan anggota keluarga besar keluaga yang ia bicarakan.

***

AhRa’s POV

Seseorang menekan bel dengan tidak sabaran membuatku berlari cepat meninggalan masakanku begitu saja demi membukakan pintu bagi orang di luar itu.

“Nugu….” Ucapanku terhenti setelah melihat siapa yang ada di depan pintu dengan wajah khawatir.

“AhRa-ah, apa yang kau lakukan di apartemen KyuHyun?” Tanya eomma dengan kening berkerut.

“Euh…” aku memutar otak mencari alasan yang tepat, namun sebelum aku dapat menyuarakan alasan yang kubuat eomma telah memaksa masuk ke dalam menabrakku begitu saja.

“KyuHyun-ah! KyuHyun-ah!!” panggil eomma seraya menyusuri tiap sudut apaertemen KyuHyun.

“Eomma..” aku meraih pundak ibuku dan menariknya duduk sebentar,”ada yang ingin kuceritakan pada eomma, tapi aku mohon eomma jangan memeikiran masalah yang akan kuceritakan pada eomma terlalu dalam. Aku sedang mencari jalan keluarnya jadi kurasa masalah ini akan cepat selesai.”

Aku mengehela nafas dan memberi jeda sebelum aku benar-benar memulai ceritaku.

“KyuHyun, ia kembali berlaku seperti saat ia baru ditinggalkan oleh MiYeon,” aku melihat wajah eomma yang tidak terkejut sama sekali, “namun bedanya hubungan KyuHyun dengan yeoja ini belum berakhir. Hal ini terjadi karena kesalah pahaman antara KyuHyun, yeoja itu dan juga appa.”

“Yeoja itu? Siapa namanya?” Tanya eomma tenang.

“Lee JungAh, ia salah satu pasien, ah bukan, aku merupakan teman berceritanya dan JungAh mengalami hal yang sama seperti KyuHyun.”

“Seperti KyuHyun? Apa maksudmu?” kerutan kembali tampak di dahi eomma.

“Jika KyuHyun ditinggal oleh MiYeon, maka ia…”

“Arrata.”

“Bukan hanya itu, kurasa mereka memliki rasa simpati satu sama lain karena mengalami hal yang sama. JungAh-lah alasan mengapa KyuHyun mau kembali ke rumah dan kembali ke kepribadian aslinya.”

“Yeoja ini, di mana aku bisa menemuinya?”

“Aku sudah tidak terlalu dekat lagi dengannya, namun aku dengar ia bekerja di café yang ada di perusahaan appa.”

Eomma hanya mengangguk tenang sebagai balasannya kemudian pergi tanpa pamit.

***

JungAh’s POV

Aku melangkah pelan dengan kepala tertunduk memasuki ruang ganti café miliku yang berada di perusahaan pria itu.

“Eoh?! Noona?!” KiJun berseru terkejut setelah melihatku namun aku memutuskan untuk tidak membalas seruannya.

“Noona, apa yang terjadi? Mengapa noona terlihat begitu pucat? Apa noona sakit?” ia mengulurkan tangannya hendak menyentuh dahiku namun aku menghindar dengan cepat.

“Jangan ganggu aku.” Ucapku dingin dan segera berjalan ke counter depan. Jangan percaya siapaun, betapapun pedulinya mereka, mereka tetap akan meninggalkanku suatu hari nanti.

“Lee JungAh-ssi?” panggil seorang wanita yang menurutku umurnya telah menginjak angka 60-an.

“Ne, nuguseyo?” tanyaku dingin.

“Aku minta sedikit waktumu sebentar.” Ucap wanita itu dan berjalan ke arah sebuah kursi lalu duduk di sana. Kuputuskan untuk mengikutinya atas dasar rasa penasaran.

“Aku eomma dari Cho KyuHyun, kurasa kau cukup tahu siapa dia.” Ucapnya yang tidak kutanggapi.

“Aku dengar dari putriku bahwa kau merupakan orang yang membuat KyuHyun kembali ke kepribadiannya yang dulu, juga kau merupakan orang yang kembali membuatnya berlaku seperti saat MiYeon baru meninggalkannya. Jadi aku menyimpulkan bawa kau merupakan orang yang amat special baginya.”  Aku mengangkat kepalaku demi menatap wanita di depanku, kesimpulannya membuat prinsip yang kubuat dan yang kupegang teguh goyah.

“Maka dari itu aku meminta bantuanmu,” wanita di depanku mengehela nafas berat, “datanglah ke apartemen KyuHyun, kukira itu bisa membuatnya lebih baik.”

“Geun…”
“Putriku juga da di sana jadi kau tidak perlu khawatir. Aku hanya perlu kau datang dan mengecek keadaan KyuHyun serta menyuruhnya makan. Ia sudah mengurung dirinya di kamar sejak 2 hari lalu tanpa keluar satu kalipun, ia bahkan mengunci pintu kamarnya dan tidak membiarkan kami masuk. Maka dari itu aku mohon, bantulah kami.”

Aku menimbang perkataan Nyonya Cho, sebenarnya bisa saja aku membantunya tapi apa untungnya bagiku? Pun Tuan Cho terlanjur tida menyukaiku dan ia juga merendahkanku bahkan tanpa mengetahui siapa aku atau hubunganku dengan KyuHyun.

“Datanglah ke alamat itu jika kau ada waktu.” Nyonya Cho menaruh secari kertas berisi alamat apartemen KyuHyun.

“Jogi..” panggilku saat Nyonya Cho bersiap bangkit berdiri, “Apa boleh aku datang sekarang juga?” tanyaku pelan.

“Geurom!” senyum cerah menghiasi wajahnya yang tadi muram, “Akan kuantar, kebetulan aku juga hendak ke sana.” Ucapnya seraya melangkahkan kakinya pergi dan kuikuti dari belakan dalam diam.

***

JungAh’s POV

“JungAh-ah!” seru AhRa eonnie menyambut kedatanganku, “Apa yang terjadi? Eomma?”

“Akan kuceritakan nanti.” Ucap Nyonya Cho pada putrinya, “Ayo masuk JungAh-ah.” Aku terhenti sejenak karena panggilan akrabnya, kami baru mengenal satu sama lain selama 1 jam mengapa ia memanggilku dengan panggilan akrab?

“KyuHyun-ah…” Nyonya Cho mengetuk pintu KyuHyun, “Coba buka pintunya sebentar.”

“Sudahku bilang, pergilah!” teriak KyuHyun dari dalam, “Aku tidak membutuhkan bantuan apapun.”

“Kau sudah mendengarnya sendiri,” kali ini Nyonya Cho berbicara padaku, “KyuHyun mengambil kunci cadangannya dan menyimpannya di dalam bersamanya, namun AhRa telah memanggil ahli kunci dan sekarang kami bisa membuka pintunya.”

“Eomma, apa yang kau lakukan?” Tanya AhRa sekali lagi.

“Nanti akan kujelaskan.” Jawab Nyonya Cho tenang, “Aku akan membuka kuncinya namun kau yang akan membuka pintunya dan masuk, karena kami tahu KyuHyun pasti akan menolak kedatangan kami, namun kurasa itu berbeda denganmu. Apa kau siap?” aku menganggukan kepalaku pelan, siap ataupun tidak, aku telah sampai di sini.

Nyonya Cho membuka kunci kamar KyuHyun menggunakan kunci yang AhRa eonnie berikan dan aku segera melangkah masuk setelah Nyonya Cho memberikan jalan bagiku.

“Aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat,” ucap pria yang duduk dengan kepala tersembunyi dibalik kedua lututnya, “Lebih baik noona cepat keluar sebelum a…”

Kalimatnya terhenti, begitu juga dengan tangannya yang telah siap melempar sebuah vas kaca yang tadi ada di nakas sebelah tempat tidurnya.

“Ju..JungAh-ah..” ucap pria itu terbata-bata, “Apa yang…? Bagaimana kau…?”

“Entahlah,” aku menutup pintu yang ada di belakangku, “hal-hal terjadi begitu cepat bahkan sebelum aku dapat menyadarinya.”

“JungAh-ah!” pria itu bangkit dan berlari ke arahku, “Neo… Apa kau baik-baik saja?” ia meraih pundakku dan meremasnya.

“KyuHyun-ssi, jang…”
“Kenapa kau kembali memanggilku seperti itu?” tanyanya seraya kembali meremas pundakku.

Aku ingin mengatakannya padanya, namun aku tidak bisa. Sesuatu menahanku, sebagian dari diriku tidak dapat mempercayai pria di depanku ini. Ayah dari pria itu,hal yang ia perbuat padaku mengingatkanku pada Lee SungMin serta ayahnya.

“Apa itu karena aboji?” tanyanya tepat sasaran, “Kau tidak perlu pedulikan apa yang ia katakana dan lakukan kala itu. Apa yang terjadi diantara kita bukanlah urusannya, atau setidaknya belum. Ia bahkan belum mengenalmu.”

“Kau baik-baik saja bukan?” Tanyanya sekali lagi.

“Bagaimana bisa aku baik-baik saja? Bagaimana aku bisa baik-baik saja saat… saat..” pertahananku runtuh, topeng dingin yang kugunakan lepas begitu saja dihadapan pria ini.

“Arraseo, mianhae.” Ucapnya seraya memeluk tubuhku erat.

Hangat, pria ini selalu berhasil memberikan kehangatan padaku. Nyaman, aku merasa nyaman setiap saat aku bersama pria ini. Entah atas dasar apa, aku merasa bahwa aku tidak perlu menyembunyikan apapun dari pria yang tengah membagi kehangatan tubuhnya kepadaku walau ia terlihat dingin dari luar.

“Oppa,” panggilku yang masih berada di dalam dekapannya, “kulihat oppa sama sekali tidak mencoba untuk bunuh diri lagi, apa boleh aku bertanya kenapa?”

“Neo.” Ucapnya setelah memberi sedikit jeda. Aku mengangkat kepalaku demi menatap wajahnya dan bertanya apa maksudnya.

“Karena sekarang ada alasan bagiku untuk tetap di sini. Karena aku tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksimu saat tahu kalau aku telah meninggal. Walau mungkin tidak akan seperti ekspektasiku, tapi aku tidak akan bisa tenang dengan bayanganmu di benakku.”

“Oppa…” ucapku pelan, aku tidak tahu harus berkata apa.

Akupun tidak tahu mengapa ia bisa memikirkanku sedalam itu. Apa mungkin benar apa yang dikatakan Nyonya Cho, bahwa aku meurapakan seseorang yang special bagi seorang Cho KyuHyun, tapi sampai kapan?

“Kau terlihat lelah,” KyuHyun merapihkan rambutku yang menutupi wajahku, “aku yakin kau tidak mendapatkan tidur yang baik.”

“Oppa harus berkaca sebelum mengatakan hal itu.” Dumalku.

“Baiklah, ayo tidur.” Ucapnya santai, bukan kelewat santai.

“Mworagu?” tanyaku memastikan namun ia tidak menjawabnya dan malah menarikku ke arah tempat tidurnya.

“O..op..oppa,” ucapku sekali lagi.

“Jangan banyak bertanya dan cepat tidur. Aku benar-benar mengantuk setelah tidak tidur selama 2 hari, ah tidak, 3 hari berturut-turut.” Ucapnya seraya merebahkan dirinya dan menarikku kedalam pelukannya lalu mulai tertidur. Kantuk juga mulai menyerangku sehingga aku ikut menutup mataku dan tertidur, jauh lebih pulas dan nyenyak dibanding 2 malam lalu.

***

JungAh’s POV

Aku membuka mataku perlahan dan menemukan bahwa aku hanya sendiri di atas tempat tidur king size ini. Mataku menyusuri ruangan ini, mencari keberadaan pria yang tadi tidur di sebelahku. Namun bukannya menemukan pria itu aku menemukan perubahan yang amat drastis dari ruangan ini. Piring yang bertumpuk serta mangkuk yang pecah telah hilang dan benda-benda lainnya telah tertata rapi di tempat seharusnya.

“Kau sudah bangun?” suara baritone itu mengejutkanku dan akhirnya aku menemukan pria yang sedari tadi aku cari dengan pakaian yang baru serta rambut yang basah.

“Apa kau lapar?” tanyanya sekali lagi yang kubalas dengan anggukan ragu, “Ayo keluar, noona sudah memasakkan banyak makanan.”

Sekali lagi aku mengangguk kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar tidur bersama dengan pria tadi.

“Noona.” Panggil KyuHyun yang tidak mendapat sahutan.

“Oppa,” panggilku saat melihat sebuah notes tertempel di meja makan, “AhRa eonnie sudah pergi, ia mengantar Nyonya Cho pulang dan kembali ke rumah sakit karena ada janji dengan pasiennya.”

“Geurae?” ia menghampiriku dan mengambil notes tadi, “Baiklah kalau begitu, ayo kita makan. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang.”

“Arraseo.” Sahutku lalu segera menikmati makanan yang telah tersedia.

***

KyuHyun’s POV

Aku menghentikan mobilku di depan café milik JungAh yang sekarang hanya menjadi rumahnya dan pamannya.

“Gomawo oppa.” Ucapnya lembut.

“Eum, ini bukan sesuatu yang begitu special. Aku hanya ingin memastikan kau sampai di rumah dengan selamat.” Balasku seraya merapihkan anak rambutnya.

“Sampai jumpa oppa.” Pamitnya dengan senyum manis terukir di wajahnya lalu turun dari mobilku.

“Kenapa kau tidak masuk?” aku menurunkan jendela mobilku.

“Aku akan masuk setelah melihat oppa pergi.” Sahutnya.

“Seharusnya aku  yang memastikanmu masuk. Masuklah, aku memaksa.” Aku menaikan nada bicaraku.

“Arraseo. Sampa ketemu besok.” Ucapnya seraya melambaikan tangannya. Namun langkahnya terhenti di depan pintu, seolah sesuatu menahannya agar tidak masuk. Kuputuskan untuk turun dari mobil dan melihat apa yang menahannya.

“JungAh-ah wae…” ucapanku tertahan setelah melihat apa penyebab JungAh tidak kunjung melangkah masuk ke rumahnya. Ada banyak sekali pria di dalam sana dan aku yakin salah satu diantara pria itu ada pamannya.

“JungAh-ah, lebih baik kau menginap di apartemenku saja.” Ucapku menyerupai bisikan. Setidaknya aku yakin bahwa JungAh akan aman bersamaku. Dan aku berakhir di sofa malam itu.

***

KyuHyun’s POV

Aku berangkat ke kantor bersama dengan JungAh dan sebelum aku pergi ke ruanganku, aku mengantarnya sampai cafénya.

“Cho KyuHyun.” Panggil sebuah suara yang mengejutkanku.

“A..aboji.” sahutku setelah melihat pemilik suara itu.

“JungAh-ssi, kau boleh pergi.” Ucap aboji pada JungAh.

“Ah tidak.” Ralatnya yang membuat JungAh menghentikan langkahnya, “Aku akan tunggu kalian nanti malam. Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu nanti.”

Aboji segera melangkah pergi setelah selesai mengutarakan maksudnya. Beberapa menit kemudian aku menerima sebuah pesan masuk.

“JungAh-ah,” panggilku, “aboji ingin bertemu dengan kita nanti malam. Kuras ia ingin megetahui kepastian hubungan kita.”

TBC~

Hi! I’m back with Bittersweet, semoga peminatnya masih ada and if so, sorry to make you wait so~ long. semoga dengan ini kalian dapat terpuaskan (?)

Sorry for typos because I was too lazy to review, thank you for reading and don’t forget to leave comments! See ya’ ^^

Advertisements

3 thoughts on “Bittersweet (Part 9)

  1. Pingback: Bittersweet (Part 10) | Preciousjung

  2. Makin seru eon . .. Rumit y hbngn mrk … Saling mengerti satu sama lain krn masalalu mrk … Moga aja tuan cho g sprt ayahnya sungmin y…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s