Bittersweet (Part 7)

BitterSweet6

HAPPY READING!

Part 7

“Apa kau sudah puas menangis?” Tanya murid laki-laki pada murid perempuan yang ada di pelukannya.

“Eung.” Balas gadis itu seraya menghapus jejak air mata di pipinya menggunakan punggung tangannya.

“Kau mau makan?”

“Makan? Kita masih ada 3 jam pelajaran lagi oppa. Terlebih kau sudah kelas 3 sekarang, kau harus banyak belajar untuk ujian nasionalmu nanti.” Omel gadis itu.

“Lee JungAh! Kau lebih muda 2 tahun dariku, tapi kenapa kau jauh lebih cerewet dibanding eomma hah?” SungMin mengacak pelan rambut JungAh.

“Geunyang.” Gadis itu kembali tersenyum, membuat namja di depannya tersenyum lega.

“Ayo kita bolos saja, hanya 3 jam pelajaran matematika, aku tidak akan mati.” SungMin merangkul JungAh dan menggiringnya berjalan keluar gedung sekolah.

“Tapi apa yang akan kita makan?” Tanya JungAh dengan kening berkerut.

“Eum..” SungMin menatap langit mencari pencerahan, “Pasta?”

“Pasta?! Oppa, aku tidak punya uang sebanyak itu.” Dumal JungAh kesal.

“Tenang saja, aku akan mentraktirmu.”

“Heol. Memang oppa punya uang sebanyak itu? Lebih baik kita makan makanan yang tidak terlalu mahal saja oppa.” JungAh mendebat keputusan SungMin.

“Tenang saja. Lagi pula kau sangat menyukai pasta bukan?”

“Tapi bukan berarti kita harus makan pasta.” JungAh mengerucutkan bibirnya.

“Gwaenchana, selama kau merasa senang, aku tidak akan kehilangan apapun.” SungMin mengeratkan rangkulannya.

<<>>

Author POV

Park JungSoo, namja itu terus memutar handphone canggih miliknya di atas meja kerjanya. Permintaan konyol dari adik ibunya membuatnya terjebak di perusahaan ini sebagai sekertaris. Bukannya tidak mau, hanya saja kebanyakan dari sekertaris adalah wanita, belum lagi adik sepupunya yang satu ini sangat aneh bahkan sejak kecil, ditambah lagi kejadian yang menimpanya 1 tahun lalu. Sudah pukul 5 lewat, adik sepupunya sudah keluar kantor selama 2 jam lebih. Ia hanya berpamitan untuk membeli kopi di café terdekat namun mengapa tidak kunjung kembali?

Gusar menguasai diri seorang Park JungSoo. Ini hari kerja pertamanya dan ia sudah kehilangan adik sepupu sekaligus bosnya itu? Ia cukup yakin paman YoungHwan tidak akan memaafkannya. JungSoo mengacak-acak rambutnya dengan penuh rasa frustasi. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menelepon adik sepupunya itu.

“Waeyo hyung?” sahut suara di seberang sana setelah nada dering berbunyi 3 kali.

“Eodiya?” Tanya JungSoo malas

“Aku ada di café dekat kantor. Wae?”

“Café di mana? Aku akan menjemputmu.”

“Tidak perlu, aku masih akan agak lama di sini.”

“Ini masih hari pertamamu Cho KyuHyun, kau memiliki banyak pekerjaan. Apa bahkan kau mengerjakannya hah?” kesal dan frustasi, itulah yang selalu JungSoo rasakan saat berurusan dengan adik sepupunya yang satu ini.

“Aniyo, tentu aku mengerjakan tugas-tugasku.”

“Baik kalau begitu, aku akan menjemputmu. Di mana lokasimu sekarang?”

“Aku bisa pulang sendiri hyung, aku sudah bukan anak SD lagi, bahkan zaman sekarang anak SD pun pulang sendiri.”

“Apa kau sedang bersama seorang yeoja hah?” kali ini rasa khawatir yang mendominan di diri JungSoo.

“Memangnya kenapa kalau aku sedang bersama dengan seorang yeoja?” balas KyuHyun kelewat santai.

“APA KAU GILA CHO KYUHYUN?! KAU INGIN TERLIBAT DENGAN PISAU DAN SILET LAGI HAH?” panic, itu yang menguasai seorang Park JungSoo sekarang. Walau ia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, namun dengan mendengar penjelasan dari AhRa, noona dari adik sepupunya yang merupakan bosnya sekarang, semua terlukis jelas di otak JungSoo.

“Aku tutup telponnya hyung. Saranghae…” KyuHyun mematikan telponnya sepihak.

‘Apa yang harus kulakukan?’ batin JungSoo.

“AhRa, lebih baik aku menelpon AhRa, pasti ia tahu apa yang harus dilakukan.” Gumam JungSoo pada dirinya sendiri seraya mencari kontak AhRa.

“Yeoboseyo?”

“AhRa-ah, Kyu-KyuHyuniega…”

“Wae? KyuHyuniega wae?!” suara tenang di seberang sana berubah menjadi suara penuh kepanikan.

“Ia tadi pamit untuk membeli kopi di café dekat kantor sejak 2 jam lalu, namun ia tidak kunjung kembali. Dan aku rasa,” JungSoo menahan kalimatnya, tiba-tiba ia merasa takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada AhRa karena ia bertindak gegabah.

“Waeyo oppa? JungSoo oppa!” tuntut suara di seberang sana.

“Coba kau telpon KyuHyun, aku merasa ia sedang bersama seorang yeoja.” Ucap JungSoo dengan suara yang ia tahan agar terdengar tenang.

“MWO?! Arraseo, aku akan menelponnya sekarang.” AhRa segera mematikan telponnya secara sepihak. Mereka tidak ada bedanya, pikir JungSoo.

***

“Lalu mengapa kau masih bisa berkomunikasi dengan baik dengan eommamu?”

“Eomma tentu saja berbeda, ada hubungan khusus diantara kami.” KyuHyun melahap potongan terakhir sandwichnya.

“Lalu bagaimana dengan AhRa eonnie?” JungAh menegapkan posisi duduknya.

“Aku sudah terbiasa dengan noona, ia terus datang padaku walau beberapa kali aku tak sengaja melukainya.” Jelas KyuHyun setelah menelan potongan terakhir sandwichnya.

“Lalu bagaimana dengan ku?” JungAh menatap KyuHyun dalam.

“Kalau dengan mu…” cangkir berisi Americano di tangan KyuHyun berhenti dan tangannya menggantung di udara.

“JungAh-ssineun…” KyuHyun menaruh cangkir americanonya ke atas meja, sedangkan ekspresi antusias dari JungAh semakin kentara.

“JungAh-ssineun…” kali ini KyuHyun menatap JungAh, “waeyo? Mengapa aku bisa berkomunikasi dengan baik dengan Lee JungAh?” Tanya KyuHyun pada dirinya sendiri.

Keheningan mengelilingi mereka. Tak ada satupun suara yang terdengar. KyuHyun tengah menatap JungAh tepat di mata seraya memeras otak, memikirkan alasan bagaimana ia bisa terus berkomunikasi dengan baik dengan JungAh tanpa sekalipun berpikir bahwa ia adalah MiYeon atau berusaha untuk menghindar seperti biasa sejak satu tahun lalu. Sedangkan JungAh, ia masih menunggu alasan itu keluar dari bibir KyuHyun dengan  gelisah. Antara mau dan tidak mau mendengar apapun alasan yang akan dilontarkan KyuHyun.

Namun fokus KyuHyun buyar saat satu kali lagi telponnya berdering.

“Yeoboseyo?” sahut KyuHyun dengan suara agak kosong, entah, mungkin separuh nyawanya masih memikirkan jawaban dari pertanyaan JungAh.

“CHO KYUHYUN DI MANA KAU?” teriak orang di seberang sana.

“Noo-Noona,” balas KyuHyun tergagap, bila AhRa sudah mulai berteriak, itu bukan pertanda baik.

“KUBILANG KAU ADA DIMANA?”

“Aku ada di café dekat kantor.” Balas KyuHyun takut-takut.

“Apa nama cafénya?”

“Aku tidak tahu.”

“BAGAIMANA KAU BISA TIDAK TAHU?!”

“Noona, ini hanya café kecil aku tidak melihat ada papan nama di depannya.” Jelas KyuHyun.

“Kau sedang bersama siapa?” suara di seberang sana mendingin.

“Mwo?”

“Kau sedang bersama siapa?! Cepat jawab Cho KyuHyun!”

“Noona, ku mohon tenang dulu.” KyuHyun berusaha menenangkan noonanya itu.

JungAh menatap KyuHyun bingung. ‘Mengapa noona namja itu meneleponnya dengan nada panik seperti itu?’ kira-kira itulah yang ada di otak JungAh.

“Bagaimana aku bisa tenang Cho KyuHyun? Terakhir kali aku melihatmu bertemu dengan seorang yeoja kau berakhir koma karna… karna…” tangis AhRa pecah, panik yang berlebih membuatnya tidak dapat berpikir jernih.

“Noona, aku baik-baik saja. Aku sedang bersama JungAh.” Ucap KyuHyun berusaha menenangkan.

“Jung-JungAh?” bingung itu yang tertangkap dari suara AhRa.

“Eoh, Lee JungAh, pasien noona. Sebentar aku berikan handphoneku padanya.” KyuHyun memberikan handphonenya pada JungAh seraya memberi kode agar ia mau menerimanya.

“Yeo-Yeoboseyo?” ucap JungAh kaku, KyuHyun sendiri telah bersidekap dan mengistirahatkan punggungnya.

“….”

“Ne eonnie, ini aku Lee JungAh.”

“….”

“Ah, aku memang tidak memberikan nama pada caféku ini, lagi pula ini hanya café kecil.”

“….”

“Eoh,” JungAh melirik KyuHyun, “ia terlihat baik-baik saja eonnie.”

“….”

“Aniyo, tidak ada yang aneh sama sekali, kecuali jika memang kepribadiannya suka ikut mencampuri kehidupan pribadi orang lain.” Canda JungAh.

“….”

“Eoh, arraseo. Eonnie tidak perlu khawatir.”

“….”

“Ne…” JungAh mematikan sambungan teleponnya.

“Yeogiyo.” JungAh mengembalikan handphone KyuHyun.

“Apa kata noona? Ah… bahkan ia lebih mempercayaimu dibanding diriku.” KyuHyun mendengus.

“Ia hanya khawatir KyuHyun-ssi. Ketakutan sangat jelas terdengar dari suaranya.” Jelas JungAh. KyuHyun menghela nafas panjang dan melihat jam yang melingkari lengannya sejak pagi.

“Oh? Sudah waktunya makan malam.” Gumam KyuHyun, “JungAh-ssi, apa kau mau ikut makan?”

“Ah, aniyo. Gwaenchanayo.” Tolak JungAh halus.

“Tapi aku memaksa.” Ucap KyuHyun dingin yang membuat JungAh mendengus kesal.

“Kalau begitu mengapa bertanya?”

“Hanya sebagai formalitas.” KyuHyun merapihkan barang-barangnya, “Gajayo.” Ajak KyuHyun.

***

Les Pastes. Itulah yang tertulis di ukiran kayu yang tergantung di pintu masuk restoran itu.

“Pasta?” Tanya JungAh pada KyuHyun yang tengah merapihkan jasnya.

“Ne. Ah… aku lupa,” KyuHyun menopang dagunya dengan tangannya, “mobilku masih ada di kantor. Well, aku akan kembali ke sana besok pagi bagaimanapun.”

“Mwohaeyo?” JungAh menatap KyuHyun aneh.

“Berpikir.” jawab KyuHyun singkat.

“Lalu untuk apa kau mengucapkannya?”

“Geunyangyo. Ayo masuk.” Ajak KyuHyun.

Restoran Les Pastes, mungkin terlihat sederhanya dari luar, namun tidak dengan desain di dalamnya. JungAh menatap kagum design interior restoran ini. Chandelier bertahtakan crystal menggantung di tengah-tengah lobby, setidaknya itu yang diperkirakan oleh JungAh, restoran itu.

“Kau bisa menjadikan ini sebagai referensi design cafému JungAh-ssi.” Bisik KyuHyun. JungAh hanya mendelik dan kembali mengamati sekeliling gedung itu. Vas-vas bunga yang berisikan mawar beraneka warna terpajang di setiap sudut ruangan itu. Lukisan-lukisan yang tidak dapat JungAh mengerti bentuknya terpajang di sepanjang sisi ruangan itu. Belum lagi bentuk mosaic yang diciptakan oleh warna-warna dari lantai di bawah kakinya. JungAh terus mengagumi keindahan semua yang ada di dalam ruangan itu, hingga ia teringat satu hal.

“KyuHyun-ssi,” panggil JungAh setengah berbisik, “Restoran ini terlihat begitu mahal, sedangkan aku hanya mengenakan jeans dan kaos lusuh seperti ini. Lebih baik kita cari tempat makan lain, aku yang traktir.” KyuHyun terkekeh mendengar ucapan JungAh.

“Apa semua restoran bagus mewajibkan pelanggannya mengenakan pakaian formal?” JungAh mengangguk semangat dan menghentikan langkahnya, bibir KyuHyun berkedut menahat tawa, “Jika kau begitu tidak percaya diri dengan kaus mu itu, kau boleh meminjam jasku.” KyuHyun melepaskan jasnya dan menaruhnya di bahu JungAh.

“Puas?” JungAh tidak menanggapi pertanyaan KyuHyun, “Ayo cepat masuk karena aku sudah kelaparan.” KyuHyun meninggalkan JungAh mematung di belakangnya.

“Tuan Cho.” Resepsionis yang berdiri di balik sebuah counter memberi hormat.

“Aniya, aniya.” Ucap KyuHyun cepat seraya menarik bahu resepsionis itu agar tegak kembali, “Aku ke sini bersama temanku, tolong bersikap biasa saja, seolah aku bukan member di restoran ini.” KyuHyun mengintip kebelakang, memastikan bahwa JungAh tidak mendengar maupun melihat apa yang dilakukan resepsionis tadi.

“Ne.” balas resepsionis itu pelan.

“Meja untuk dua orang.” Ucap KyuHyun santai saat JungAh telah berdiri tepat di belakangnya.

“Sebelah sini tuan.” Resepsionis itu mengantar mereka ke pintu sebelah kiri counter tadi.

Dan sekali lagi JungAh dikejutkan dengan pemandangan yang menakjubkan. Ruangan ini di tata sehingga tampak seperti sebuah taman. Dengan atap kaca yang membuat para pengunjung dapat melihat indah langit malam yang bertabur bintang, air mancur berukuran sedang tepat di tengah ruangan, pohon yang JungAh tidak yakin apakah itu merupakan pohon sungguhan atau bukan, dan rumput sintetis sebagai alas lantai membuat ruangan ini sempurna. JungAh menggengam erat jas milik KyuHyun, menahan agar dirinya tidak bereaksi berlebihan yang akan membuatnya menjadi pusat perhatian tamu yang ada di sana.

JungAh duduk di kursi yang sebelumnya telah ditarik oleh KyuHyun. Kembali sadar akan satu hal setelah beberapa menit.

“Kenapa kita duduk di sudut ruangan KyuHyun-ssi?” Tanya JungAh risih.

“Kau bilang kau kurang nyaman dengan pakaianmu.” Balas KyuHyun santai seraya menggulung lengan kemejanya hingga siku.

“Ah…” JungAh mengangguk mengerti dan mulai mengamati orang-orang di sekelilingnya. Semuanya mengenakan dress serta high heels. Ia mengutuk KyuHyun dalam hati karena tidak memberitahukannya terlebih dahulu untuk mengenakan pakaian yang lebih pantas. Walau tidak bermerek, setidaknya lebih baik dari pada kaus lusuhnya ini.

“Atau kau mau pindah tempat duduk? Masih belum terlambat untuk itu.” JungAh menggeleng cepat sebagai tanggapan tawaran KyuHyun itu.

“Ini menunya.” Seorang waitress datang dan menaruh 2 buku menu ke atas meja mereka, “Silahkan panggil saya jika telah siap memesan.” KyuHyun hanya mengangguk singkat.

Rahang bawah JungAh menggantung di udara setelah melihat daftar makanan beserta harga yang ada.

“KyuHyun-ssi,” bisik JungAh, “apa kau yakin akan makan di sini? Maksudku….”

“Aku sedang ingin makan pasta. Dan kita sudah sampai di sini, jadi apa masalahnya?” potong KyuHyun tanpa mengalihkan fokusnya dari buku menu.

JungAh hendak mendebat KyuHyun sekali lagi, namun kemudian ia teringat kalimat SoHyun.

“Pria itu, ia benar-benar terlihat seperti orang kaya. Bahkan aku tadi sempat melihat isi dompetnya, ada banyak sekali uang di dalamnya.”

“KyuHyun-ssi, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Tanya JungAh  hati-hati.

“Waeyo?” KyuHyun masih menatap  buku menu di depannya.

“Apa pekerjaanmu?” KyuHyun menghela nafas dan menutup buku menunya sejenak.

“JungAh-ssi, jika kau bertanya seperti itu karena kau masih mempermasalahkan harga makanan di sini, aku tidak akan menjawabnya. Lebih baik kau memilih menu yang kau mau.” Ucap KyuHyun dingin.

Kalimat itu, JungAh pernah mendengarnya sebelumnya. Pasta, mempermasalahkan harga dan uang, semua itu JungAh ingat dengan jelas. Pikiran JungAh berkelana ke masa itu, masa di mana ia meyakini setidaknya ada satu orang yang memilih untuk berada di sisinya, masa sebelum ia merasa sendirian.

“Apa yang mau kau pesan?” suara itu terdengar amat pelan, seperti sentuhan velvet yang amat lembut.

“Aku selalu menyukai fetucini oppa, seharusnya kau ingat itu.” Balas JungAh santai, nampak pikirannya belum sepenuhnya kembali dari berkelananya ke masa lalu.

“Ani…” KyuHyun terkekeh, “Apa seharusnya aku mengetahui itu?”

Bagai saat kau bermimpi jatuh dari tangga atau sebuah jurang, JungAh tersentak bangun dari lamunannya. Ia menatap KyuHyun dan waitress yang entah sejak kapan ada di sana bergantian dengan nafas memburu.

“Jweisonghaeyo.” Ucap JungAh cepat dan berusaha pergi dari tempat itu namun KyuHyun menahannya.

“Anjayo.” Ucap KyuHyun pelan.

“Jweisonghaeyo KyuHyun-ssi, tapi aku masih bisa makan di rumah dan kau bisa menyimpan uang mu itu.” JungAh berontak, berusaha melepaskan genggaman tangan KyuHyun di lengannya.

“Kalau kau tidak makan di sini dan sekarang kau tidak akan makan sama sekali.” Ucap KyuHyun melepas semua kata formalnya.

“Apa kau baru saja berkata informal padaku KyuHyun-ssi?” JungAh menghentikan aksi berontaknya.

“Geurae, banmalhaesseo, geurojji mwo?” (Benar, aku berkata informal, lalu kenapa?) tantang KyuHyun.

“Kita tidak dalam hubungan sedekat itu untuk berucap informal satu sama lain KyuHyun-ssi.” JungAh balas menatap tajam KyuHyun.

“Arra, tapi setidaknya aku masih satu tahun lebih tua darimu.” KyuHyun melepaskan genggamannya dari lengan JungAh, “Duduk.” Perintah KyuHyun secara informal. JungAh mendengus kasar dan kembali hendak melangkah pergi.

“Kubilang duduk.” Kali ini KyuHyun menarik lengan JungAh kasar yang membuatnya jatuh terduduk di kursinya.

“Mwohaeyo?” omel JungAh kesal. KyuHyun membuang nafas keras dan mengusap wajahnya kasar.

“Nanti aku akan memanggilmu lagi.” Ucap KyuHyun pelan pada sang waitress yang segera pergi setelah mendengar kalimat itu.

“Kau ingat hari pertama kita bertemu?” ucap KyuHyun seraya menatap piring kosong di depannya.

“Itu baru terjadi 5 hari lalu KyuHyun-ssi, bagamana bisa aku lupa?” balas JungAh dingin.

“Kau ingat saat kita membuat perjanjian untuk saling membantu satu sama lain dari lubang gelap ini?” KyuHyun kembali berkata formal namun JungAh tidak membalasnya.

“Tadi,” lanjut KyuHyun, “kau berpikir bahwa aku Lee SungMin bukan?” JungAh mendelik tajam pada namja di depannya yang lebih memilih menatap piring di mejanya itu.

“Aku juga dulu ada pada tahap itu, aku menganggap semua wanita yang ku temui adalah MiYeon, itu sebabnya noona begitu panik saat mendengar bahwa aku sedang bersama seorang wanita, karna pada akhirnya aku menyadari bahwa itu bukanlah MiYeon dan berakhir dengan berusaha membunuh diriku sendiri.” KyuHyun mulai menatap JungAh yang masih menatapnya dengan penuh rasa kesal.

“Mungkin itu tidak apa bagiku karena aku seorang pria dan yang kukira adalah MiYeon adalah seorang wanita, mereka akan lari, itu masuk akal. Tapi tidak denganmu JungAh-ssi. Apa kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu jika kau ada di luar sana, berpikir bahwa seorang pria yang bahkan belum pernah kau temui adalah Lee SungMin dan kau akan memintanya untuk kembali padamu?”

“Wae…”

“Perjanjian itu,” potong KyuHyun, “aku telah melewati semua itu JungAh-ssi, jadi aku tahu dengan pasti bagaimana rasanya, dan aku tidak mau siapapun merasakan hal itu.”

“Sejujurnya aku mau makan di rumah dan berbincang dengan eomma-ku sekarang, tapi sekali lagi aku memikirkan bagaimana nasibmu. Jika tidak ada yang memaksamu makan, maka kau tidak akan makan sama sekali. Jika aku memiliki noona yang mau menjagaku, siapa yang kau miliki? Pamanmu? Dari sudut pandangku saat kita pertama bertemu, hubunganmu dengan pamanmu tidak begitu baik. Temanmu yang tadi itu, SoHyun? Teman tidak selamanya mengerti apa yang kita pikirkan dan rasakan JungAh-ssi, ia juga memiliki kesibukan dan kehidupan pribadi. Jadi jika bukan aku yang melakukan ini siapa yang akan membantumu?” Nafas KyuHyun memburu setelah kalimat panjang yang ia ucapkan, kesal, mungkin itu yang ia rasakan. Namun dirinya lebih di dominasi oleh ketakutan yang entah apa alasannya.

“Kau tidak perlu berpura-pura peduli padaku KyuHyun-ssi. Ak…”

“Astaga,” KyuHyun mengusap wajahnya kasar, “Siapa yang berpura-pura di sini?”

“Dengarkan aku dulu, kau bukan satu-satunya orang yang memiliki hak untuk berbicara di sini.” JungAh menaikan nada bicaranya, “Kau bahkan tidak dapat menjawab mengapa kau bisa berkomunikasi dengan baik pada ku saat kau tidak bisa melakukan itu pada semua orang, lalu mengapa kau harus melakukan ini?”

KyuHyun hanya menghela nafas panjang dan menaruh punggungnya di punggung kursi yang ia duduki kemudian memanggil sang waitress sekali lagi.

“Spagetthi Carbonara 1, dan 1 Beef fettucini.” KyuHyun memuat pesanannya.

“Kau mau minum apa JungAh-ssi?” JungAh tidak membalas pertanyaan KyuHyun dan hanya terus menatap KyuHyun tajam.

“Lime squash 2.” Lanjut KyuHyun pada sang waitress yang segera pergi setelahnya.

“JungAh-ssi,” KyuHyun kembali menatap JungAh seraya membenarkan gulungan lengan kemejanya, “kau bilang ini mengerikan bukan?” ia menunjukan pergelangan tangannya pada JungAh.

“Jika aku tidak melakukan ini sekarang, mungkin kau akan berakhir dengan ini.” KyuHyun menunjuk bekas luka sayatan di pergelangan tangannya, “Sekali lagi aku memiliki noona yang mau terus menyelamatkanku entah berapa kali aku beusaha untuk bunuh diri. Tapi bagaimana denganmu JungAh-ssi?” KyuHyun menarik kembali lengannya, membuat JungAh berpikir keras akan apa yang sebenarnya ada di otak pria di hadapannya ini.

***

“Kemarin kau benar-benar bertemu KyuHyun?” AhRa bertanya seraya merapihkan kertas-kertasnya.

“Ne, majayo eonnie.” JungAh mengangguk lemah.

Konsultasi JungAh dengan putri sulung keluarga Cho itu baru saja selesai.

“Bagaimana kalian bisa bertemu?” AhRa kembali duduk di sofanya yang menghadap langsung pada JungAh.

“Ia datang ke caféku tanpa mengetahui bahwa itu adalah caféku.” Jelas JungAh.

“Ah…” AhRa mengangguk mengerti, “Apa kalian membicarakan banyak hal?”

“Ne, sebagian besar tentang diriku.”

“Geurae?” AhRa terkejut, “Itu aneh, biasanya KyuHyun tidak dapat berbincang dengan orang sebaik itu sejak 1 tahun lalu.”

“Arrayo eonnie.”

“Arra?!” AhRa semakin terkejut mendengar penuturan JungAh, “Apa saja yang kau ketahui tentang KyuHyun?”

“Eum…” JungAh kembali berusaha memutar ulang memorinya tentang kejadian kemarin, “Kurasa ia sedikit menyukai seni, ia juga menyukai Americano, ia juga menyukai pasta, dan saat makan pasta wine adalah minuman wajib. Ia kurang menyukai soju walau ia sangat menyukai wine.” JungAh kembali ingat saat ia berdebat tentang KyuHyun yang memesan wine saat ia akan pulang sendiri.

“Waeyo JungAh-ssi? Aku tidak akan mabuk bahkan dengan separuh botol wine itu.” Itulah alibi yang diberikan KyuHyun seraya terkekeh.

“Nampaknya ia juga memiliki toleransi alcohol yang cukup besar.” Lanjut JungAh.

“Daebak,” tawa AhRa, “kau mengetahui semua itu hanya dalam satu hari? Ah tidak, mungin hanya beberapa jam.” JungAh menundukkan kepalanya, tidak tahu harus memberikan rekasi seprti apa.

“KyuHyun bahkan mungkin tidak akan mabuk walau telah meminum 1 botol wine sendiri.” Tawa AhRa masih belum berhenti, “Tapi aku bisa jamin kau tidak akan pernah mau melihatnya mabuk.”

JungAh masih tetap bungkam, ia tidak menemukan letak lucu dari situasi ini, ia mengenal seorang pria hanya dalam waktu beberapa jam saja. Mungkin bila pria itu bukanlah KyuHyun akan kurang masuk akal, namun pria yang ia kenal itu adalah KyuHyun, sosok pria yang menurutnya terlalu banyak bicara, bahkan melebihi dirinya.

“Geundae, akan sangat menyenangkan bila bisa melihat KyuHyun tersenyum.” Tawa AhRa mulai mereda.

“Eoh?” ekspresi bingung kali ini terlihat dari suara JungAh, “Kemarin ia banyak tersenyum.”

“Mwo?” kali ini tawa AhRa berhenti sepenuhnya terganti dengan keterkejutan, “Kau bilang KyuHyun tersenyum kemarin?”

“Ne, ia sering kali tersenyum bahkan pada hal kecil. Memangnya apa yang aneh? Orang yang hidup pasti bisa tersenyumkan eonnie.” Canda JungAh.

“Ani, itu tidak berlaku pada KyuHyun.” Sahut AhRa dingin yang membuat kerutan muncul di dahi JungAh.

“Tidak sejak satu tahun lalu, sejak MiYeon meninggalkannya. Ia sering kali berusaha menunjukan senyumnya padaku seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tapi itu bukan senyum tulus, hanya bibirnya yang tersenyum tanpa hatinya.” Jelas AhRa.

“Itu aneh, kemarin ia banyak sekali tersenyum, bahkan saat aku marah. Ah, ia juga tertawa sesekali.” JungAh kembali menceritakan pengalamannya kemarin.

“Apa ada hal aneh lain yang KyuHyun lakukan?” Tanya AhRa serius.

“Tidak ada yang aneh eonnie, hanya saja ia bertindak agak terlalu protektif, ia selalu terlihat takut orang lain akan terluka, seolah lebih baik ia yang terluka, asal bukan orang lain yang dikenalnya. Ia juga peduli pada sekitarnya, kemarin saat kami hendak pulang, ada seorang nenek tua yang membawa banyak barang hendak menyeberangi jalan, dan ia membantunya begitu saja.”

“Itu, benar-benar terjadi?” wajah AhRa berubah kaku.

“Ne, untuk apa aku berbohong eonnie? Memang apa anehnya dari itu?” Tanya JungAh polos.

“Itu hal biasa dari KyuHyun, ia memang orang yang protektif, tapi tidak sejak satu tahun lalu. Ia menjadi egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri, ia akan senang kalau ia senang tidak peduli apa akibatnya pada dirinya juga orang lain, yang terpenting ia merasa senang.”

Hening. AhRa yang masih terkejut akan perubahan yang signifikan dari adiknya itu, dan JungAh masih berusaha mencerna semua penjelasan psikolognya. Hanya deru nafas berat dari kedua wanita itu yang terdengar.

“Lee JungAh,” akhirnya AhRa mulai berbicara, “siapa kau sebenarnya?”

***

Café itu sepi, tidak ada pengunjuk terlihat. Hanya sang pemilik café yang tengah berdiri di balik counternya seraya menatap kursi di sudut ruangan tempat ia berbincang dengan seorang pria yang membuatnya kebingungan dengan sikapnya. Belum lagi pertanyaan sang psikolog yang benar-benar membuatnya harus menguras otak.

“Jogiyo!” sebuah suara berat menyapa pendengarannya. JungAh segera bangun dari lamunannya dan menemukan sosok yang membuatnya berpikir keras berdiri di depannya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya penuh minat.

“Bukan apa-apa, dan bukan urusanmu KyuHyun-ssi.” Jawab JungAh malas, “Lagi pula apa yang kau lakukan di sini? Ini masih jam kerja.”

“Aku sedang bekerja.” Balasnya santai seraya memasukan tangannya kedalam saku celana, “Aku mendapat ide bagus semalam. Kantorku tidak memiliki café di lobbynya, sedangkan banyak karyawan yang suka minum kopi atau sekedar makan roti. Kemudian aku berpikir, dibandingkan dengan membuka café di ruko kecil ini, bukankah lebih baik kau membuka café di kantorku JungAh-ssi?”

“Jadi apa intinya?” JungAh bersidekap.

“Intinya, kau tanda tangani surat ini dan kau akan mendapat tempat di lobby kantorku.” KyuHyun mengeluarkan selembar kertas berisi tulisan panjang.

“Apa ini?” dahi JungAh berkerut.

“Surat Kontrak penyewaan.” JungAh membaca isi surat itu dengan seksama.

“KyuHyun-ssi, aku tidak dapat membayar biaya sewa se…”

“Kau tidak perlu membayar untuk 2 bulan pertama, dan aku cukup yakin kau akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan di sini.”

“Mengapa itu terdengar mudah sekali? Sebenarnya apa jabatanmu di sana?” Tanya JungAh curiga.

“Hanya karyawan biasa, hanya saja aku memiliki pengaruh besar pada sang pemilik.” Bohong KyuHyun.

“Baiklah, tidak ada salahnya mencoba. Ada pulpen?”

“Tentu.” JungAh menerima pulpen yang diberikan KyuHyun dan segera menandatanganinya.

Mereka memulai sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, sesuatu yang akan mengubah segalanya menjadi hal yang tak terduga.

TBC~

Hi! Masih dgn Bittersweet author kgk ngarti lagi dah ini cerita makin lantur menurut author. FF chaptered itu kadang membuat author bingung apa inti ceritanya.. hahaha. Tapi author harap masih ada yg suka dah… jgn bosen2 ya…

Sorry for typos, thanks for reading, and leave comment jika berkenan.

See ya! ^^

Advertisements

6 thoughts on “Bittersweet (Part 7)

  1. Ah kyu akhirnya kau bsa melupakan miyeon jung ah jga bsa melupakan sungmin , bagimna klo kalian berdua jd sepasang kekasih wkwk , wah kyu perubaahn yg snagat segnifikan ,

    Like

  2. kyu udah mulai move on dar mieyon & beralih ke jung ah,asyikkk. jenapa juga kyu mesti nutup2in jati diriya sebagai ceo? takutnya nanti jungah ngrasa tertipu & dibohonhi lo sampai tau sendiri / dari orang lain,bukan dari kyu…

    Like

  3. Apa jung ah bakalan ngejauhin kyuhyun y kl tau kyuhyun bkn karyawan biasa …. Kekeke~ kynya emang rada aneh ni jdnya eon :D.,,,,, tp tetep bikin penasaran hehe… Cb ada something apa gt y sm ni berdua …bt bikin seru eon … Bagus ko… Dtunggu neeext eon fighting 🙂

    Like

  4. Apakah Kyu memiliki perasaan yang lebih terhadap Jung Ah? Bagaimana reaksi Jung Ah bila tau Kyu adalah seorang ceo? Bagaimana kedepanya hubungan mereka berdua? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s