At Pain (Future)

At Pain
Cho KyuHyun

 

Aku menikmati kopi pagiku seraya berjalan masuk ke ruanganku. Ah, kopi dan ruangan ini merupakan ingatan buruk bagiku yang baru saja terjadi hari kemarin.

“Selamat pagi.” Sapaku dan duduk di kursiku. Namun ada sesuatu yang ganjil, hanya sebuah gumaman berat yang menyapa indra pendengaranku, tidak ada suara bernada tinggi itu. Refleks aku melirik meja di seberang mejaku. Kosong, itu yang kutemukan. Aku kembali melirik jam yang melingkari lengan kiriku, sudah pukul 8, tidak biasanya gadis itu tidak datang.

“Ia tidak akan datang lagi.” Ucap suara berat itu, “Hanya jika kau ingin tahu.”

Aku hanya memutar bola mataku mendengar ucapannya. Tenang saja, aku tidak akan perduli sama sekali.

Kantor ini terasa sangat sepi. Hanya ada suara keyboard dan mouse yang terdengar.

“Han Sonhye, apa kau sudah mengurus furniture yang dibutuhkan untuk lobby WiHae Hotel?” tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku dari layar komputerku, namun aku tidak mendapatkan jawaban.

“Han Sonhye aku bertanya padamu.” Aku masih belum ingin mengalihkan perhatianku, “Hya Han Sonhye!” bentakku akhirnya seraya mengangkat kepalaku, kosong, itu yang kutemukan.

“Ia tidak akan kembali lagi.” Ucap suara berat itu dingin seraya menatapku tajam. Aku hanya dapat mengusap wajahku kasar.

“Lalu, bagaimana dengan pekerjaan yang harus ia lakukan?” aku menghela nafas berat.

“Aku yang akan melanjutkannya. Lebih baik kau bersabar sedikit.”

“Arraseo, tapi buat itu dengan cepat.” Aku kembali memfokuskan pandanganku ke layar monitor.

“Apa bahkan kau tidak ingin mengetahui alasan mengapa ia tidak akan kembali?” tanya Donghae sakartis.

“Memang apa peduliku?” timpalku malas. Aku dapat mendengar pria itu menghela nafas berat.

“Ia akan pergi ke Amerika.” Aku tersentak, tidak perlu kaget, aku hanya penasaran bagaimana ia bisa pergi ke sana. Aku bahkan tidak yakin bahwa ia bisa berbahasa Inggris. Ah ya, aku lupa bahwa ia juara umum dulu.

“Besok adalah hari keberangkatannya. Kalau kau tidak keberatan kau boleh datang mengantarnya, hanya sekedar berpamitan.” Ajaknya.

“Naega wae?” aku terkekeh, lebih kea rah tawa mengejek. Dia pikir siapa dia?

“Kalau begitu setidaknya kau datang, 3 pilar ke arah pintu keluar dari boarding pass Sonhye.” Aku hanya menggumam sebagai balasannya.

“Wae?” tanyanya.

“Mwo?” balasku malas.

“Mengapa kau begitu tidak peduli dengan Sonhye?”

“Lalu kau berharap aku bagaimana?” timpalku, dan iapun terdiam. Mengganggu saja.

***

Entah apa yang merasukiku, namun sekarang aku telah berdiri di depan pintu airport ini. Yah, bagaimana lagi? Aku sudah sampai, hitung-hitung aku perlu mengucapkan terima kasih atas bimbingannya selama ia bekerja di sana bersamaku. Akhirnya kuputusakan untuk melangkahkan kakiku masuk kedalam airport itu, dan berjalan ke arah boarding pass Sonhye.

“Philyoeobseo Donghae-ah. Dia tidak akan mencariku, mungkin bahkan ia tidak akan sadar bahwa aku telah pergi.” Aku menghentikan langkahku mendengar ucapan itu keluar dari bibir Sonhye. Siapa yang sedang ia bicarakan?

“Tapi tetap saja…” aku berjalan menyembunyikan diriku di balik pilar ketiga.

“Aniya Donghae-ah.” Sonhye memotong kalimat Donhae, “Bahkan tidak untuk menyatakan perasaanku. Aku yakin kau sudah mendengarnya sendiri. Di lorong dua hari lalu, kau yang memanggilnya, dan itu karena kau tahu apa yang ia ucapkan. Aku benarkan?” lorong? Dua hari lalu? Apa mereka sedang membicarakan diriku?

“Arraseo.” Balas Donghae, “Kau berhati-hatilah disana. Bertemu dengan lelaki yang baik dan lupakan semua hal buruk yang terjadi disini.” Mereka benar-benar sedang membicarakanku. ‘Perasaanku?’ apa maksud Sonhye dengan perasaannya?

“Kau harus kuat Sonhye-ah. Eung?” Donghae mencengkram pundak Sonhye.

“Wae? Geunyang wae Donghae-ah? Wae?” Sonhye menangis dengan keras. “Kenapa ia tidak menyadarinya? Tidak, ia tidak harus menyadarinya, kenapa ia membenciku? Apa aku benar-benar menyebalkan? Apa aku benar-benar membawa sial baginya? Apa aku.. apa aku” Donghae memeluk Sonhye dan meredam tangisnya. Kurasa aku tahu kemana arah pembicaraan ini, tapi apa mungkin? Ia sendiri yang dulu mengatakan bahwa ia membenciku. Han Sonhye, ternyata otakmu memang separah itu. Kau benar-benar sama sekali tidak mengingatku barang sedikit saja.

“Gwaenchana, eung. Sudah selesai mengotori kemejaku?” ujar Donghae setelah Sonhye sedikit lebih tenang.

“Aku… aku sangat mencintainya Donghae-ah, kau tahu itu.” Bagai disambar petir, tubuhku kaku, kakiku lemas dan otakku mati. Kalimat itu, kalimat yang ia ucapkan padaku sekitar 11 tahun lalu, yang aku percaya dengan mudahnya, namun ternyata hanya sebuah kebohongan. Sekarang ia mengatakan hal itu lagi, apa aku harus percaya?

“Tentu aku tahu, seperti yang selalu kau bilang, aku peka, tidak seperti orang lain. Aku selalu bisa diandalkan, tidak seperti orang lain.” Orang lain, orang lain itu adalah aku. Aku telah menyakitinya tanpa kuketahui. Aku menyakiti seorang yang begitu mencintaiku tanpa ku sadari.

“Tapi, kenapa ia tidak kunjung sadar? Ah tidak. Lupakan saja.” Air mataku mengalir turun begitu saja tanpa ku minta, “lebih baik aku segera masuk agar aku dapat segera meninggalkan ini semua.”

Ia menunjukan punggungnya padaku, bahkan tak membiarkanku menatap wajahnya untuk terakhir kalinya, juga tak membiarkanku memberikan ucapan selamat jalan atau mungkin selamat tinggal karena aku tidak yakin bahwa aku dapat bertemu dengannya lagi. Kakiku menyerah, kepalaku terasa sangat berat, mengapa? Air mataku terus mengalir, membasahi wajahku tanpa ampun.

“Cho Kyuhyun.” Itu suara Donghae. Benar, pasti Donghae mengerti.

“Wae?” tanyaku perih, “WAE?!” aku membentaknya. Marah, kecewa, sedih, serta penyesalan seluruh perasaan itu bercampur menjadi satu dalam hatiku.

“Aku telah menanyakan hal itu padamu selama 2 tahun belakangan Kyuhyun-ah, dan jawabanmu selalu sama. Maka ini jawabanku,”Donghae memberiku jeda, “lalu kau berharap aku bagaimana?” ucapnya dingin.

Aku menyesal, aku menyesali semuanya. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya tentang betapa aku menyesali perlakuanku pada Sonhye selama ini. Mengapa? Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku baru menyadari perasaannya sekarang? Mengapa?

***

Aku berlari, berlari dengan amat kencang. Aku tidak boleh melewatkannya, aku tak boleh lengah sehingga ia lari dari genggaman tanganku.

“Han Sonhye!” teriakku, ia menghentikan langkahnya dan melihatku.

“Cho Kyuhyun?” ia mengerutkan dahinya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Gajima.” Aku menggenggam tangannya, “Jebal gajima.”

“Cho Kyuhyun?” kerutan itu semakin kentara.

“Kau bilang kau membenciku, kau bilang kau ingin aku hilang dari kehidupanmu. Maka aku akan pergi sekarang!” kerutan itu hilang dan berubah menjadi kemarahan yang meledak-ledak.

“Mianhae, mianharago.” Aku terus menahan tangannya yang berontak.

“Lepaskan tanganmu!” aku mengenali suara berat itu.

“Lebih baik kau pergi, kau berhati-hatilah disana. Bertemu dengan lelaki yang baik dan lupakan semua hal buruk yang terjadi disini.” Ucap Donghae. Tiba-tiba saja aku sudah berada di ujung yang berbeda dengan mereka. Aku berusaha mendekat, namun kakiku tidak dapat digerakkan sama sekali.

“HAN SONHYE!” teriakku memanggilnya, berusaha menghentikan langkahnya, namun ia tidak bahkan mendengarku dan terus melangkahkan kakinya menjauh dariku. Bahkan punggungnya saja begitu menawan, mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Mengapa aku baru menyadarinya saat ia akan pergi, saat ia telah pergi. Tiap-tiap air mata yang keluar dari matanya, bagai belati yang menusuk hatiku dalam.

“Han Sonhye!” panggilku sekali lagi.

***

Aku terlonjak bangun dari tidurku. Nafasku terengah. Peluh membasahi tubuhku. Mimpi, sekali lagi itu hanya mimpi, mimpi yang sama yang terus aku dapat selama 1 minggu. Penyesalan itu masih berada pada diriku. Aku masih tidak dapat menghilangkan rasa menyesal itu dari diriku. Aku bangkit berdiri dan berjalan ke pintu apartemenku. Melihat apakah post it itu ada di sana. Kosong, sekali lagi itu yang kudapatkan. Aku kembali masuk dan menulis post it  untuk kuletakan di pintu apartemennya.

Han Sonhye, berhenti menjadi orang asing bagiku..

Aku menempelkan post it itu dan menekan bel pintu apartemen Sonhye beberapa kali dan kembali masuk ke apartemenku dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Kosong, sekali lagi itu yang kutemukan. Kuputuskan untuk duduk di depan meja kerja yang ada di apartemenku dan menatap post it demi post it yang telah ia tempelkan di depan pintuku. Beruntung aku tidak langsung membuang seluruhnya. Ia mulai menaruh post it di depan rumahku sekitar satu minggu sebelum ia berangkat, yang aku yakin ada 17 post it yang ku tempel di dindingku sekarang. Satu post it yang paling menarik perhatianku.

Anyeong…

Hanya kata itu yang tertulis. Post it terakhir yang ia berikan padaku, sebelum pergi meninggalkanku. Bel rumahku berdering, dengan cepat aku berlari ke pintu rumahku untuk membukakan pintu baginya.

“Han Sonhye!” ucapku begitu pintu terbuka, namun hanya kosong yang kutemukan. Aku kembali menutup pintu apartemenku. Aku lelah dengan semua ini, aku tidak dapat memaafkan diriku sampai kapanpun. Air mata kembali membasahi wajahku.

“CHO KYUHYUN! CHO KYUHYUN BUKA PINTUNYA!” seseorang mengetuk pintuku dengan kasar. Aku membuka pintu apartemenku dengan malas.

“Wae?” tanyaku tanpa melihat siapa yang datang.

“Cho Kyuhyun neo…” aku mengenali suara itu. Lee Donghae.

“Aku tidak dalam mood untuk berbincang. Pergilah.” Aku berusaha menutup pintu apartemenku, namun Donghae menahannya.

“Setidaknya biarkan tamu-mu masuk.” Ia mendobrak masuk, aku bahkan tidak cukup kuat untuk menahan kakiku untuk tetap berdiri.

“Whoa, lihat keadaanmu sekarang Cho Kyuhyun.” Ejek Donghae, “Kau menyesal hah?”

“Kkeojyeo.” (Pergilah) Ucapku malas.

“Kau sudah 1 minggu tidak masuk kerja Cho Kyuhyun.” Ia memberikan peringatan.

“Arra, jigeum kkeojyeo.”(sekarang pergilah)

“Kau bahkan tidak menggunakan penerangan di sini, atau bahkan hanya sekedar membuka korden.” Ia mengamati sekeliling apartemenku.

“KKEOJILRAGO!” (KUBILANG PERGI) teriakku. Ia benar-benar tidak berguna.

“KALAU KAU BEGITU MENYESAL, SEHARUSNYA KAU DATANG KE PEMAKAMAN SONHYE!” teriaknya penuh amarah.

“Mwo?” kali ini aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya.

“Kau… tidak tahu?” aku menggelengkan kepalaku sebagai balsannya, “Ah iya, memang apa pedulimu padanya?!” Donghae tertawa hambar.

“Han Sonhye, ia meninggal. Pesawat yang ia naikki satu minggu lalu mengalami malfunction. Tubuhnya baru ditemukan dua hari kemudian, polisi hanya dapat mengenalinya karena ID yang Sonhye simpan di saku celananya.”

“Aniya, itu tidak benar. Tidak seharusnya Sonhye meninggal.”

“Geurae, seharusnya bukan Sonhye yang meninggal. SEHARUSNYA ITU DIRIMU!” Donghae meninjuku keras sehingga aku terjungkal kebelakang.

“Jika saja kau tidak menyuruhnya pergi dari kehidupanmu, ia tidak akan berakhir seperti ini. Seharusnya kau yang mati!” Donghae terus meninjuku hingga ia puas.

“Geurae, seharusnya aku yang mati.” Ucapku lirih saat ia mulai berhenti memukuli wajahku kemudian bangkit berdiri.

“Cho Kyuhyun,” panggilnya saat aku mulai membuka jendela apartemenku, “Cho Kyuhyun, aku tidak menyuruhmu untuk mati!”

“Kau benar Donghae-ah,” aku meliriknya dari ambang jendela ini, “seharusnya aku yang mati. Aku akan menukar diriku dengannya. Mianhae Donghae-ah.”

“CHO KYUHYUN!” teriaknya saat aku melangkahkan kakiku, terjun dari ketinggian 21 lantai.

Mianhae, Han Sonhye.

***

Aku dapat merasakan hangat tangannya saat ia menjabat tanganku di hari pertama aku bekerja.

Aku dapat melihat matanya yang indah. Mata yang sering menatapku dalam diam.

Aku juga dapat melihat senyumnya. Senyum yang ia tunjukan saat aku tanpa sengaja menangkap basahnya yang sedang menatapku. Senyum yang ia tunjukan saat perayaan Aniversary kantorku.

Mianhae, Han Sonhye…

Fin~

Haiiiii!!!!! Akhirnya, at pain trilogy kelar, tapi untuk menanggapi comment2 yg telah diberikan ada kok, tenang aja. hahahahha. Please jgn marah atau kesel bahkan bash aku karna ceritanya kebanyakan mati orgnya. hahahaha. author emang rada physico, bahkan author gk sadar klo ternyata castnya mati mulu.

Next, sorry gk bisa nepatin janji buat bittersweet, karna pikiran author melayang2, UN, tapi pengen nulis ff, tapi jiwa gamers lagi kambuh… so, maaf ya. tapi tenang, udh setengah jalan kok. ntar abis UN asap author post, (if i could)

Last but not least, sorry for typos and leave comment ya ^^
Thanks for reading!
Thanks to 250 Sider! I can see you, hahahaha.

Ah iya, selamat UN bagi yg menjalankan! Good luck y’all, semoga lulus dengan nilai memuaskan… AMIN

Advertisements

7 thoughts on “At Pain (Future)

  1. Penyesalan mwemang selalu datangnya belakangan.kalau didepan namanya pengharapan wkwkwk.Kyu mulutmu harimaumu.kamu yang ngusir sonye kamu pula yang menyesalinya.ending yang tragis berakhir dengan kematian.

    Like

  2. daebak..ini kelanjutan ff yg kmrn kan y..hahh..endingnya dramatis…penuh penyesalan…kyu juga udah terlalu cinta sama soonhye..dia juga udah menyesal banget..arghj…galau mode on

    Like

  3. ige mwoya? kirain sonhye batal pergi,atau kyu yg nyusul ke US. kematian bener2 g da dalam prediksiq,daebak! bisa (berani) bikin ff yg endingnya unpredictable,saluuut. ru baca ff yg ini tapi dari note diawal jadi agak waswad mo baca cerit yg lain,busa makin galau lo grimis2 gini baca ffmati mulu. he….

    Like

  4. wowww inikah akhir nya buat mereka
    akhir yang tragis dan penyesalan buat kyuhyun pun gk terelakkan
    makanya jadi orang jangan terlalu kaku kyu mengabaiakan perasaanmu dan han sohye
    sampai akhirnya harus seperti ini

    Like

  5. jujur chingu…dr awal baca nih ff aq agk bingung ma alur critanx mian chingu br ksh komennx d’part akhir….aq bingung benang merah yg menghubungkan antara sonhye donghae hyukjae ma kyuhyun….

    Like

    • eum.. bagaimana menjelaskannya ya?
      gini, singkatnya Sonhye suka sama Kyu, tpi kyu benci sama Sonhye, sedangkan Hae masih suka sama Sonhye walo udh putus betaon2.
      dan di part ini menjelaskan penyesalan Kyu karna sikapnya pada Sonhye…
      semoga special part-nya entar bisa lebih menjelaskan deh.. Sorry..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s