Kim Chef

Kim Chef

“Satu porsi Blueberry Pancakes, tiga Pandan Waffle, dua Danish Bread with egg&cheese, serta empat Soft Boiled Egg with Toast Fingers!” Begitulah kesibukan WiHae, restoran milik Choi SiWon, bahkan dipukul 6 pagi. Tidak seperti kebanyakan restoran, WiHae memilih untuk menyiapkan makanan kapanpun pelanggan menginginkannya.

“Untuk minuman, enam black coffee, dan empat fresh milk. Segera siapkan dimeja!”

“Ne, Chef!” dan kesibukan didapur untuk hari ini pun dimulai. Namun dibawah pimpinan Kim Chef, semua bisa diatur. Walau tidak berasal dari universitas, dengan tekad yang besar serta kerja keras, akhirnya seorang Kim RyeoWook, yang pada awalnya melamar sebagai asisten dapur, sekarang telah menerima jabatan Chef selama 3 tahun di WiHae.

***

“Appetizer: 3 Bitter Ballon, 5 Maccaroni Croquette, serta 3 Potato &porcini soup! Main course: 1 Lemon Butter Duck with Vegetables, 4 Angel Hair pasta with pumpkin! Dessert: 2 Coffee Ice Cream dan 4 Banana Pudding! Segera kerjakan!”

“Ne, Chef!” Kim RyeoWook berkeliling untuk melihat hasil kerja mereka.

KHUATANG!

Tiba-tiba saja sebuah mangkuk besi menggelingding ke arah RyeoWook.

“HENRY LAU! APA KAU TIDAK BISA MELAKUKAN SESUATU DENGAN BENAR?!” Chef bertubuh mungil itu mulai berteriak. “KAU HANYA HARUS MEMBAWA KENTANG-KENTANG ITU KE STASION MILIK HAN HYERA YANG JARAKNYA TIDAK SAMPAI SATU KILO DARI GUDANG BAHAN!”

“Jweisonghamnida! Jweisonghamnida!” Henry membungkukan tubuhnya berkali kali.

“Sudah cepat bereskan dan lanjutkan pekerjaanmu!” HyeRa langsung membantu Henry merapihkan dan mengambil beberapa potong kentang yang ia butuhkan. “PARK JUNGSOO! KAU MENARUH TERLALU BANYAK OLIVE OIL DALAM ANGEL HAIRNYA! APA KAU TAHU APA JADINYA RASANYA NANTI?!”

“Ah.. sa..”
“CEPAT BUAT ULANG! KAU BOLEH MEMAKANNYA KALAU KAU MAU! APA KATA PARA TAMU NANTINYA?!”

“Ne! Saya akan membuat ulang”

“OLEH KARENA ITU! TTO PPALLI MODUHAE!”(kerjakan semuanya lebih cepat)

“Ne, Chef!” JungSoo pun segera membuang angel hairnya.

“LEE DONGHAE! TTO PPALL….”

“Chef! Ada tamu yang ingin bertemu anda..” seorang waitress masuk dengan ekspresi khawatir. Sontak semua orang di dapur menegang, terlebih Kim RyeoWook.

“Baiklah, saya akan segera keluar.” Ucapnya ramah pada sang waitress yang dikenal sebagai Lee HyukJae itu. “Apa yang kalian lakukan?! LANJUTKAN PEKERJAAN KALIAN!” perintahnya pada semua juru masak, lalu mengikuti HyukJae menuju meja yang dimaksud.

“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” Tanya RyeoWook hati-hati sambil menyembunyikan rasa khawatirnya.

“Ya, saya ingin menemui orang yang memasak makanan ini.” Ucap sang tamu dingin. RyeoWook semakin menegang. Ia melihat bahwa makanan yang ada di piring sang tamu adalah Almond crumbed Chicken Schnitzel, menandakan bahwa DongHae yang telah memasaknya. DongHae memang memegang kebanyakan menu main course dan beberapa Appetizer.

“Baiklah. Mohon tunggu sebentar.” Lalu ia membisikan pada HyukJae untuk memanggil DongHae. Selama menunggu DongHae datang, RyeoWook hanya memasang senyum termanisnya. Lalu DongHae datang dengan pisau masih ditangannya.

“Jweisonghamnida, saya sedang memotong bebek saat anda memanggil saya.” Aku DongHae polos yang diikuti tatapan mematikan RyeoWook.

“Oh…Gwaenchanayo.” Sang tamu menghilangkan pikiran buruknya “Saya hanya ingin bilang bahwa menu ini sangat lezat. Namun, rasanya berubah dari yang dua hari yang lalu saya coba, yang ini lebih lezat. Apa ada yang terjadi dua hari yang lalu?” RyeoWook dan DongHae beradu tatap.

“Ah, hanya saja saya melakukan perpindahan bagian, DongHae yang pada awalnya pada bagian appetizer, saya tukar dengan HyeRa yang biasa mengerjakan main course, pertukaran ini baru terjadi kemarin.” RyeoWook angkat bicara.

“Baiklah kalau begitu, anda boleh kembali memotong bebek anda dan puaskan tamu-tamu lain.” DongHae membungkuk dan kembali ke dapur.

“Apa ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Tidak, hanya ide anda mengenai pertukaran bagian sangat brilian. Kerja bagus.” RyeoWook membungkukan badannya. “Anda boleh kembali bekerja”

“Gamsahamnida.” RyeoWook membungkuk sekali lagi dan segera kembali ke dapur. “Lee DongHae! Jalhaeseo!”(Kerja bagus!) puji RyeoWook.

“Gamsahamnida, Chef!” Senyum DongHae mengembang.

***

“Dan, dari bagian dapur, apa ada masalah? Dan bagaimana tanggapan tamu atas pertukaran itu?” Tanya SiWon saat rapat malam.

“Eobseoyo sajangnim. Dan para tamu lebih menyukai main course yang dibuat DongHae, begitu juga sebaliknya.” Jelas RyeoWook.

“Geurae.” SiWon mencatat sesuatu, lalu menegang melihat lembar jadwal besok. “Besok, Marcus Cho akan datang.” bisik SiWon tegang. Seluruh ruangan menegang seketika, dari jabatan tertinggi sampai satpam. Betapa tidak? Marcus Cho, seorang kritikus dunia yang tingkahnya tidak pernah bisa ditebak. Pasalnya ia pernah membuang makanan yang akan ia nilai dengan menjejalkannya kepada satpam, dengan alasan rasanya tidak enak. “Ayolah, semangat! Marcus Cho tidak akan melakukan hal yang aneh pada kita. Oleh sebab itu kita harus melakukan yang terbaik!” SiWon memberi semangat. “Kalian semua boleh pulang, kecuali Chef Kim. Ada yang harus saya rundingkan.” Setelah semua meninggalkan ruangan, SiWon mulai bicara.

“Apa idemu untuk Marcus Cho besok?”

“Melakukan segala sesuatunya dengan tak terduga.” Jawab RyeoWook setelah 3 menit dalam hening.

“Apa maksudmu? Apa kau mau menghancurkan restoran ini?!”bentak SiWon kesal.

“Animnida sajangnim. Hanya saja, menurut saya akan sia-sia bagi kita jika menyiapkan semuanya, karena pada akhirnya Marcus Cho akan melakukannya dengan caranya. Jadi lebih baik bagi kita untuk mengikuti aturan main dapur sekaligus bisnis dalam permainan yang dibuat oleh Marcus.” Jelas RyeoWook. SiWon menimbang sebentar.

“Baiklah. Lakukan saja itu. Lagi pula ia masih manusia.”

“Sejujurnya sajangnim, saya sedikit meragukan itu..” canda RyeoWook. Mereka berdua tertawa bersama.

“Kau memang bisa dipercaya RyeoWook. Istirahatlah. Besok akan menjadi hari besar.”

“Algesseumnida sajangnim.” RyeoWook pun meninggalkan ruangan. Diruang ganti JungSoo dan DongHae menghujanninya dengan pertanyaan

“Apa yang dikatakan sajangnim? Apa dia menekan tim dapur? Atau ia menginginkan kita memasak sesuatu yang tidak biasa? Atau…”

“Hyung, satu-satu tanyanya.” RyeoWook pasrah. “Sudahlah kita ganti baju dulu. Nanti kujelaskan di kedai, aku sangat lapar.”

“Ne, Chef!” jawab mereka berdua kompak.

“Hyung, berapa kali kubilang, hajima! Ini bukan jam kerja…” RyeoWook mempoutkan bibirnya, lalu mereka bertiga tertawa keras.

***

“Oh… jadi kita akan mengikuti permintaan Marcus Cho?” Tanya JungSoo.

“Tidak hyung, kita tidak akan menurutinya. Kita akan bermain dalam permainannya dengan peraturan dapur dan bisnis yang sudah ada.” Ucap RyeoWook sekali lagi.

“Ah… baiklah kalau begitu, arraseo.”

“Mwoga?” Tanya DongHae dengan ramen penuh dimulutnya. RyeoWook hanya menghela nafas, sekali lagi ia harus menaruh sumpitnya dan mengubur dalam-dalam rasa lapar dan godaan jjajangmyeon yang ada dihadapannya.

“Artinya, besok kita akan melakukannya seperti hari-hari biasa kita. JANGSINJALYO LEE DONGHAE!” RyeoWook memukul meja melihat DongHae sama sekali tidak memperhatikannya. DongHae langsung berhenti memakan ramennya, sedang JungSoo hanya menatap pasrah DongHae. Mengapa ia tidak sadar bahwa dengan konsentrasi penuh saja, belum pasti ia bisa mengerti. Ia terheran dengan tamu yang memujinya tadi.

“Jweisonghamnida Chef..” ucap DongHae gemetar. Ia tahu betul jika RyeoWook marah, ia bisa saja menjungkirbalikan kedai mie ini. RyeoWook mengatur nafasnya sebentar, menenangkan pikirannya.

“Mianhae hyung, aku tidak bermaksud. Jeongmal mianhae.” RyeoWook merasa bersalah secara tiba-tiba. Air mata segera menggenang dimatanya. Apa yang telah ia lakukan? Ini kedai ramen pada pukul 11 malam, tentu dia tidak pantas membentak DongHae yang merupakan hyungnya serta sahabatnya selama ini.

“Gwaenchana RyeoWook-ah” JungSoo mulai bicara “Aku akan menjelaskannya pada DongHae nanti. Kau makan saja.”

“Ne hyung.” RyeoWook menundukan kepalanya dan mulai memakan Jjajangmyeonnya.

***

“ Ahh, himdeureo!” (melelahkan) ucap DongHae seraya merengangkan tubuhnya. “Aku mandi dulu ya…” ucapnya tak mau terlambat keacara tidurnya. Mereka bertiga sudah lama tinggal bersama sejak RyeoWook melamar masuk kerja bersama mereka, mereka pindah kesini sebelumnya mereka tinggal di asrama sekolah mereka. Karena memiliki kesamaan hobby, mereka melamar masuk WiHae. Namun karena JungSoo dan DongHae harus melanjutkan universitas, RyeoWook mendaftar terlebih dahulu. Ibunya tidak bisa membiayai kuliahnya, bahkan untuk membayar kehidupan sehari-hari mereka saja sulit.

“JungSoo hyung, malam ini hyung tidur di ranjang saja.” Ucap RyeoWook.

“Tapi inikan giliranmu?”

“Tapikan hyung yang akan memasak besok. DongHae hyung juga bisa menumpukan satu kasur lipat lagi. Aku tidur di sofa saja.”

“Tapi, itu sangat tidak nyaman RyeoWook-ah. Kita semua mengantri untuk mendapat jatah tapi kau malah menyumbangkan jatahmu.” Tolak JungSoo.

“Hyung lebih membutuhkannya dari padaku. Ayolah cepat tidur, besok hari yang besar.” RyeoWook mengambil satu selimut yang cukup tebal, lalu segera merebahkan tubuhnya di sofa. ‘Lihat saja Marcus Cho, aku akan bermain baik dipermainanmu ini’ batin RyeoWook sebelum akhirnya ia tertidur.

***

“Seperti yang sudah kubilang kemarin, hari ini Marcus Cho akan datang menilai restoran ini.” Sekali lagi semua orang menegang mendengar kabar ini. Para pegawai sudah berusaha meyakinkan diri masing-masing kemarin malam bahwa apa yang dikatakan sajangnim mereka hanya candaan semata. Namun pikiran itu hancur berkeping-keping sekarang.

“Jangan khawatir, Chef Kim akan memberi kalian petunjuk untuk hari ini.” RyeoWook terlihat shock. Semua pegawai sontak menatap RyeoWook penuh harap. Akhirnya RyeoWook memberanikan diri untuk maju.

“Ya… Hal yang bisa kukatakan hanyalah..” RyeoWook terdengar gugup, “semangat saja. Dan satu tips dariku, hari ini sama seperti hari lainnya. Tidak ada yang special, Marcus Cho hanya salah satu dari daftar tamu yang sudah melakukan reservasi. Dia sama seperti tamu lainnya, oleh karena itu, perlakukanlah ia seperti tamu-tamu lainnya. Sekian, gamsahamnida” RyeoWook mengakhiri pidato pertamanya.

“Oke, kalau begitu, ayo kita mulai hari ini. Aja-aja..”

“Fighting!” seru mereka semua. Lalu mereka pergi kestasion masing-masing. Tidak ada yang tahu kapan Marcus Cho akan datang. Nyatanya mereka tidak perlu mengalami kram perut begitu lama karena tegang, karena Marcus datang tepat pada waktu makan siang.

“Marcus sudah datang. Dia membawa tunangannya kesini.” HyukJae menyembulkan kepalanya dari pintu dapur.

“Apa yang membuatnya membawa tunangannya? Mau pamer?” DongHae terdengar sinis.

“Yah… Sejujurnya dia sangat cantik.” HyukJae memasuki dapur.

“Jadi apa yang kau lakukan disini? Bergosip? Apa pesanannya?” Tanya RyeoWook emosi. Namun HyukJae tidak menunjukkan tanda bahwa ia akan segera menjawabnya. “Lihat? KAU MALAH MENGGANGGU DISINI!” teriak RyeoWook.

“Ah iya, ia ingin dilayani oleh Chef kepala.” Ucapnya pelan namun jelas.

“Apa? Astaga, aku bahkan tidak mengenali tata meja dengan baik…” RyeoWook pasrah.

“Menurutku kau lebih baik cepat ke mejanya. Cara melayani tidak jauh berbeda dengan di kedai ramen, setidaknya.” HyukJae memberikan daftar menu pada RyeoWook. RyeoWook segera menerimanya dan menuju meja Marcus.

“Selamat siang, tuan-nyonya.” RyeoWook memberikan daftar menunya.

“Apa menu special hari ini?” Marcus menginvestigasi RyeoWook.

“Asparagus Ham&chicken roll.”

“Kau mau pesan apa chagi?”

“Mengapa tidak oppa dulu?” jawab tunangannya manja.

‘Astaga!’ batin RyeoWook. Ia menyesal telah menolak beberapa wanita yang menyukainya.

“Baiklah, aku pesan Nicoise Salad, Wheat Noodle Salad, dan Zespri Kiwi Fruit Parfait untuk dessert.”

“Apa kau tidak mual makan semua itu chagi? Semuanya sayur…”

“Bukan, itu makanan sehat. Buat semuanya dua.”

“Mwo?! Anmogo!” RyeoWook berhenti melakukan aksi mencatatnya.

“Oh, you will oppa.” Tunangan Marcus menunjukan smirknya.

“Aniya!” Marcus menggelengkan kepalanya “Itu satu saja. Aku pesan Meat Croquette, Braised Red Wine Chicken, dan Chocolate Bread Pudding!” Marcus memesan dengan cepat.

“Allgeseumnida” jawab RyeoWook.

“Changkan! Kau akan memasak semuanya.” Ucap Marcus “Tepatnya kau akan melayani semuanya yang berhubungan denganku” ia berkata dingin. RyeoWook menahan nafasnya, namun menjawab:

“Ne, allgeseumnida.” Lalu memberi hormat dan pergi ke dapur. Ia segera menyiapkan Appetizer dan mengantarnya ke meja Marcus. Namun Marcus tidak ada di kursinya.

“Ini pesanan anda.” RyeoWook menaruh pesanan keatas meja.

“Oppa, duduklah sebentar,” ajak tunangan Marcus “dan ceritakan bagaimana kau bisa menjadi chef..”

“Jweisonghaneunde, saya sibuk.” Ucapnya seraya meninggalkan meja.

“Sebentar saja,” tunangan Marcus menggapai tangan RyeoWook “aku janji” ia mengamit tangan RyeoWook. RyeoWook membalas tatapannya dengan tatapan dingin, namun wanita itu malah tersenyum.

“Mwohaneungoya?!” Marcus langsung meninju RyeoWook hingga tersungkur. “Apa yang ia lakukan?!” Tanya Marcus pada tunangannya.

“Ia menyuruhku datang kerumahnya saat makan malam nanti, aku menolaknya namun ia malah memaksaku dan menggengam tanganku.”

‘Ternyata ada yang lebih mirip setan dari pada Marcus Cho’ batin RyeoWook.

“Kurang ajar!” teriak Marcus, lalu ia memukuli RyeoWook sampai darah keluar dari ujung bibirnya. Tak ada yang berani mendekat melihatnya.  Tak lama kemudian Marcus menghentikan tinjuannya.

“Kau masih harus memasak” ia melempar RyeoWook kesisi meja, “Cepat kerjakan” Lalu ia segera duduk dikursinya dan RyeoWook pun meninggalkan mereka dengan memberi hormat.

“Oppa, aku izin ke toilet sebentar..” ucapnya setelah RyeoWook selesai mengantarkan Main Course mereka.

“Ya, sudah jangan terlalu lama.” Tunangannya itu hanya tersenyum. Lalu segera pergi. Namun bukannya ke toilet, ia malah memasuki dapur dan segera menghampiri RyeoWook.

“Oppa! Mianhae, untuk kejadian tadi.”

“Pergilah, aku sibuk” jawab RyeoWook dingin. “DongHae, tunjukan padanya jalan keluar.”

“Ne, Chef.” DongHae segera mendekati wanita itu, sedang RyeoWook pergi ke kulkas untuk mendinginkan pudding pesanan. “Maaf agashi, sepatu hak dilarang didapur.” DongHae mengingatkan.

“Siapa peduli?!” tukasnya lalu menyusul RyeoWook “Oppa, oppa marah?”

“Sejak awal aku tidak menyukaimu!” tukas RyeoWook meninggalkannya. Wanita itu mengikuti RyeoWook, namun sial, sepatu haknya tersangkut yang menyebabkannya hampir jatuh bila tak ditangkap RyeoWook.

“Gomawo oppa..” ia memasang senyum termanisnya.

“Menjijikan.” Tukas RyeoWook “Cepat pergi sebelum kau benar-benar terjatuh, aku tidak akan menangkapmu untuk kedua kalinya.” RyeoWook mendorong wanita itu ke pintu keluar dapur.

“Kau dapat jackpot chef.” Ledek DongHae.

“Jangan bercanda.” Geram RyeoWook “lebih baik cepat kembali bekerja!”

“Ne, Chef!”

***

“Laporkan tentang Marcus!” perintah SiWon saat rapat malam.

“Tidak ada masalah, ia memesan Meat Croquette, Braised Red Wine Chicken, dan Chocolate Bread Pudding. Dan tidak memberi komentar sama sekali.” Lapor RyeoWook

“Tidak ada masalah? Kudengar dari para Waitress kau dipukuli olehnya. Dan luka didekat bibirmu itu tidak berbohong.”

“Yah… Dia meninjuku beberapa kali karena salah paham. Bukan masalah besar.”

“Kurasa ia sengaja mengajak tunangannya dan membuat scenario seperti itu, sehingga membuat seolah-olah Chef Kim yang telah berbuat salah, karena ia tidak suka chef Kim yang tidak masuk universitas namun berhasil menjadi chef kepala.” HyukJae angkat bicara.

“Bisa saja seperti itu. Mungkin dia memang mau melakukan itu. Kalau begitu ini bukan salahmu chef. Kalian semua boleh pulang, kalian sudah bekerja keras hari ini. Sampai bertemu besok pagi.”

“Ne, sajangnim.” Semua memberi hormat lalu menuju rumah masing-masing.

***

Keesokan harinya

“Marcus Cho datang lagi!” jerit HyukJae sambil masuk kedalam dapur “Kali ini ia membawa ayahnya. Kalian tahu pemilik Chorok Art School? Ia ayahnya!”

“MWO? Chorok Art School? Woah kalau begitu pasti dia anak orang kaya…” ujar DongHae

“Tidak hanya itu, ayahnya juga pemilik Chorok Industry!” tambah HyukJae

“Dia sangat kaya kalau begitu.” Canda JungSoo

‘Bagaimana bisa ada orang seberuntung dia?’ batin RyeoWook. “Lalu apa aku harus melayani mejanya lagi?”

“Tidak chef. Dia datang sebagai tamu biasa hari ini, dia pesan pesanan yang sama seperti kemarin. Semuanya dua porsi.” Jelas HyukJae.

“Jangan pakai terlalu banyak sayur pada salah satunya.” Ucap RyeoWook tanpa sadar.

“Ne?!” Tanya para juru masak.

“Marcus Cho tidak suka sayur. Itu yang kutemukan kemarin saat melayaninya.”

“Ne, Chef!”

“Chef,” panggil HyukJae “lebih baik juga jangan banyak soup. Mereka membawa banyak sekali kertas, kurasa itu kertas perusahaan yang sangat penting.”

“Baiklah, arraseo.” HyukJaepun meninggalkan dapur.

Kesokan harinya Marcus kembali datang dengan ayahnya. Bahkan lusanya ia kembali datang, namun kali ini dengan ibunya. Ia bahkan membawa laptop bersamanya kali ini.

“Aku yakin pernah melihat wajahnya eomma.” Ujar Marcus pada eommanya seraya menunjuk sesuatu di laptopnya. HyukJae yang mencuri dengar langsung menceritakan semuanya pada anggota dapur.

“Wajah siapa yang dimaksud?” Tanya HyeRa penuh rasa ingin tahu.

“Entah. Mungkin orang yang penting.” Jawab HyukJae.

“Sudah jangan urusi urusan orang. Cepat kembali bekerja” perintah RyeoWook.

***

Keesokan harinya

“Chef,” panggil HyukJae dari luar dapur “kau dipanggil sajangnim”

“Sajangnim? Ada apa?”

“Entahlah, dia tidak bilang.”

“Baiklah aku segera kesana.” RyeoWook segera menyerahkan pancinya pada JungSoo. Di depan pintu ia merapihkan pakaiannya lalu mengetuk.

“Masuk.” Perintah SiWon. RyeoWook segera melangkahkan kakinya, bukannya disambut oleh pertanyaan SiWon, ia disambut oleh teriakan histeris serta tangisan seorang wanita paruh baya.

“WooHyun-ah!” isaknya seraya memeluk RyeoWook. RyeoWook berusaha melepaskan pelukan itu.

“Nuguseyo?!” Tanya RyeoWook sambil terus berusaha melepaskan pelukan itu.

“Kau tidak ingat Eomma? Ini eomma WooHyun-ah…”

“Apa maksud anda? Ibu saya sudah meninggal 2 tahun lalu.” RyeoWook bingung. Kebingungannya bertambah setelah melihat Marcus serta ayahnya ada di ruangan itu juga. ‘Berarti, ini ibu dari Marcus’ pikir RyeoWook. Ia semakin bingung karena SiWon tak bergeming sedikitpun melihat keadaan ini.

“Sajangnim, apa maksud semua ini?” Tanya RyeoWook bingung “Apa ini semacam jenis acara hidden camera?” RyeoWook berusaha bercanda.

“Bukan RyeoWook-ah, ini bukan acara hidden camera atau yang lainnya.” SiWon akhirnya angkat bicara. “Mereka keluargamu.”

“Nde?!” RyeoWook terkejut.

“Kau ingat, kau bilang padaku kau hanya seorang ibu bernama Kim JunHwa. Dan JungSoo serta DongHae sudah menceritakan hal yang tak kau ingat padaku. Mereka mendengarnya dari ibu angkatmu itu.”

“Tidak, tidak” RyeoWook menggelengkan kepalanya. “Itu ibuku.” RyeoWook meyakinkan.

“WooHyun-ah…” tangis Ny. Cho.

“Namaku RyeoWook nyonya, Kim RyeoWook. Bukan WooHyun atau siapapun itu!” bentak RyeoWook sambil mendorong kasar Ny. Cho. Ia tahu betul perlakuannya itu bisa membuatnya dipecat.

“Apa kau tidak ingat? Kau benar-benar tidak ingat?” nyonya Cho menangis sejadinya “Saat itu kita hendak berlibur ke Jinan.”

FLASHBACK

“Eomma, appa, kita mau kemana?” Tanya WooHyun kecil.

“Kita akan ke Jinan.” Jawab ibunya.

“Yeay! Ke Jinan!” seru anak 3 tahun itu “Apa disana ada pantai?”

“Tidak ada, di Jinan tidak ada pantai.” Jawab ayahnya sambil terus menyetir. WooHyun langsung berhenti tersenyum.

“Mengapa tidak?” tanyanya polos.

“Tidak ada saja. Tapi, nanti kalau appa sudah tidak sibuk, appa akan mengajak kalian ke Jeju.” Janji ayahnya.

“Apa di Jeju ada pantai?” WooHyun menahan loncatannya.

“Ada, sangat luas.” Jawab ibunya.

“Yeay! Pantai!” WooHyun langsung meloncat kegirangan.

“Aku isi bensin dulu.” Tuan Cho turun dari mobil.

“Eomma,” panggil WooHyun “KyuHyun bau…”

“Ah… WooHyun-ah kau tunggu dulu disini, eomma akan mengganti popok KyuHyun dulu. Jangan kemana-mana. Arraseo?”

“Ne eomma.” Jawab WooHyun patuh.

FLASHBACK END

“Setelah aku kembali, aku tidak bisa menemukanmu. Kami mencarimu selama satu jam namun tidak ada tanda-tanda dirimu..” tuan Cho mengakhiri cerita.

“Maafkan eomma WooHyun-ah, eomma tidak seharusnya meninggalkanmu.” Nyonya Cho mulai menangis lagi. Marcus mendekati ibunya dan menenangkan eommanya, dan dengan bodohnya mengaku bahwa itu salahnya, yang berujung pada perdebatan.

“Lalu apa yang membuat kalian berpikir WooHyun yang kalian cari adalah aku? Itu bisa siapa saja!” tukas RyeoWook.

“Kami telah melakuakan pencarian selama 24 tahun tanpa henti. Dan baru-baru ini, teman KyuHyun yang bernama SungMin menawarkan jasa prediksi wajah dengan foto masa kecilnya. Dan kami mencobanya.”

“Jadi, aku orang yang kalian bicarakan kemarin” gumam RyeoWook tanpa sadar.

“Sudah kuduga Waitress itu kurang ajar.” Umpat Marcus.

“Apa ada bukti lain? Aku belum bisa mempercayai kalian.” Tanya RyeoWook dengan suara lantang.

“Kim.” Gumam Ny. Cho “Kau ingat rahasia kita? Kim, adalah kata pertama yang bisa kau baca. Dan namaku adalah nama yang kadang muncul dikepalamu secara tiba-tiba karena sejak kecil kau sulit mengingat nama orang… Bahkan tidak dengan namamu sendiri” perkataan Ny. Cho membuat sesuatu muncul dikepala RyeoWook.

FLASHBACK

‘Ice Cream! Ice Cream!’ teriak seorang penjual.

“Oh! Ice Cream-ita!” mata WooHhyun langsung berbinar. Ia merogoh kantong celananya dan menemukan beberapa ribu won. “Ahjussi!” teriak WooHyun, namun penjual ice cream itu tak kunjung berhenti. WooHyun memutuskan untuk mengejarnya. “Ahjussi!! Ahjussi!” ia terus mengejar tanpa menyerah. “AHJUSSI!!” jeritnya yang membuat penjual ice cream itu berhenti.

“Oh! Kau mau apa?” Tanya penjual itu ramah.

“Itu.” WooHyun menunjuk satu ice cream Chocolate Vannila.

“Ja.. ini. 2000 won.” Penjual itu menadahkan tangannya. WooHyun memberinya dua lembar 1000 won. Ia bangga bisa lulus mengenai uang dengan mudah dari appanya. Sesudah itu WooHyun langsung membuka bungkus ice creamnya dan berjalan kembali. Namun ia sampai dipersimpangan jalan.

“Dimana ini?” tanyanya pada diri sendiri “Kurasa aku belum pernah melewati tempat ini…” ia kebingungan. Karena merasa tidak pernah belok, WooHyun memutuskan untuk lurus, bukan belok ke kanan. Namun, jalan semakin sepi dan semakin asing bagi WooHyun. Namun bocah itu tidak putus asa dan terus berjalan lurus seperti perkiraannya. Ia tetap tidak menemukan jalan pulang. Merasa putus asa dan lelah, WooHyun duduk disebelah kulkas didepan sebuah mini market. Ia menangis sejadinya, namun tidak ada seorangpun yang memperdulikannya. Penjaga mini market itu mendengar suara tangis WooHyun, awalnya ia tidak ingin memperdulikannya. Perlahan tapi pasti, rasa khawatir tumbuh dihati penjaga mini market itu. Ia mengambil sebotol susu dan menghampiri WooHyun.

“Waeyo?” Tanya wanita yang sudah paruh baya itu seraya memberi susu pada WooHyun.

“Eomma..” tangis WooHyun tak kunjung berhenti.

“Ireumi nugu?” tanyanya lembut.

“Molla..” isak WooHyun.

“Oh? Kau tidak tahu nama mu?” WooHyun hanya menggeleng. Tanpa sengaja ia melihat name tag penjaga mini market itu.

“Kim.” Gumam WooHyun.

“Nde?”

“Kim!” seru WooHyun sambil menunjuk name tag wanita itu.

“Ah… iya, namaku Kim JunHwa, namamu siapa?” Tanya JunHwa sekali lagi. Namun WooHyun tetap menyatakan ia tidak tahu. JunHwa teringat pada anaknya yang telah dibawa pergi jauh oleh suaminya satu tahun lalu setelah ia susah payah membesarkannya. Maka ia putuskan untuk memanggil WooHyun dengan nama anaknya itu.

“RyeoWook, namamu Kim RyeoWook.” JunHwa menggendong anak itu dan memantapkan pilihannya untuk merawatnya.

FLASHBACK END

“Kim HaNa” nama itu muncul dikepala RyeoWook, atau harus disebut WooHyun?

“Geurae, geurae WooHyun-ah. Itu namaku, nama eomma.” HaNa kembali memeluk RyeoWook. RyeoWook hanya membiarkan HaNa melakukannya, dia ikut menangis mengingatnya.

“Mianhae eomma, jeongmal mianhae…” RyeoWook membalas pelukan ibunya itu.

“Gwaenchana WooHyun-ah..”

“Eomma,” panggil RyeoWook “Bisakah eomma memanggilku RyeoWook saja?” Tanya RyeoWook yang membuat ibunya melepaskan pelukannya. “Aku merasa asing dengan nama itu. Itu… seperti bukan aku.” Ibunya tidak bisa menjawab.

“Tentu saja RyeoWook-ah” YoungHwan memanggil anaknya “Kau tetap anakku.” YoungHwan ikut memeluk RyeoWook.

“Hyung!” panggil KyuHyun “Oraemanne.” Ia memeluk RyeoWook “Mian soal tinjuan itu.” Aku KyuHyun. RyeoWook hanya tersenyum menanggapinya.

“Kau meninjunya?” Suara YoungHwan meninggi.

“Iya, ia meninjuku beberapa kali. Karena tunangannya.”

“Pertama, dia bukan tunanganku! Waitress tak tahu diri itu yang menyimpulkannya sendiri. Kedua, aku sudah memutuskannya! Aku tahu dia yang mulai duluankan? Aku lihat semuanya.”

“Lalu mengapa kau masih meninjuku?!” RyeoWook ikut marah.

“Yah… Karena kau bisa dengan mudah merebut hatinya, sedang aku, butuh waktu 7 tahun sampai ia mau menerimaku!” KyuHyun berteriak disusul tawa keluarganya. SiWon hanya tersenyum melihat pemandangan itu, sadar akan betapa pentingnya keluarga. Ia memutuskan untuk membuka Handphonenya dan menekan nomor dua cukup lama.

“Yeoboseyo, eomma…”

~Fin~

Hai!!! Gmn longshotnya? ini sebenernya author bikin 2 taon lalu buat ultah ryeowook, tapi kemudian deadline gk kelar dan mendemlah dia. klo comment author sendiri ini cerita rada maksa kan ya? wkwkwk maafkanlah, maklum saat itu author masih ababil, yg gk bisa nentuin lebih suka sama Donghae apa Kyuhyun. BTW, ini laptop author udh sehat lagi.. *assa!* dan semua ff yg ada di sini aman damai tentram. so, tetep leave comment, dan coba liat post sebelom ini deh, jujur sekali2 author pengen bikin FF yg bukan suju, karna author ini hardcore ELF dan gk terlalu kenal sama GB/BB laen di luar SM, RV aja gk bisa bedain mana Wendy, mana Irene wkwkwk. #knpmalahcurhat? okeh, dari pada mata readers pada sakit semua, I’ll say, see ya’ll soon!!! oh iya, untuk menu2nya waktu itu author search dari gugel, tapi lupa nama websitenya, so, klo yg merasa sorry ya… karna beneran lupa ini.. ^^ v

Advertisements

7 thoughts on “Kim Chef

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s