Bittersweet Part 5 (Love Dust Sequel)

“Kau tahu Lee JungAh kan?” Tanya seorang murid pada temannya.

“Eoh, ia adalah gadis yang duduk di sana bukan?” Temannya itu menunjuk seorang gadis yang duduk dengan posisi tertunduk.

“Eung. Kau tahu? Ia menjual dirinya sendiri untuk mendapatkan uang. Bahkan ia pernah melakukannya dengan pamannya sendiri. Ah, jangan lupakan bahwa ia juga memberikan sejumlah uang agar para guru menaikkan nilainya.”

“Mwoya? Jinjja?!” Seru seorang murid laki-laki yang sedang berlalu.

“Jinjjajji, mengapa aku harus berbohong?”

“Ah, aku juga pernah mendengar bahwa ia suka minum soju, bahkan sejak ia berumur 7 tahun. Awalnya kukira itu tidak benar, namun mendengar penjelasanmu kukira itu benar.” Sahut temannya yang tadi.

Terdengar suara derit kursi dengan sangat keras. Sontak ketiga murid tadi menengok ke arah gadis yang tengah mereka bicarakan.

“Ia mendengar kita. Bagaimana ini?”

“Aku yakin ia akan memanggil kelompok preman kawannya.” Ucap murid laki-laki yang tadi lewat.

Bugh!

Tiba-tiba saja murid laki-laki itu terjungkal kebelakang.

“KATA SIAPA?” bentak murid laki-laki yang melemparkan bogem mentahnya, “APA KAU MELIHATNYA?!” kali ini ia membentak gadis yang memulai pembicaraan.

“Su..sunbae..” ia tergagap.

“KU BILANG APA KAU MELIHATNYA?! APA KAU MELIHATNYA MELAKUKAN ITU DENGAN PAMANNYA SENDIRI?!” murid laki-laki itu berteriak semakin keras.

“Su.. sunbae, jwei.. jweisonghaeyo..” sesal 2 murid perempuan yang memulai pembicaraan dengan kepala tertunduk. Namun tidak dengan murid laki-laki yang telah di pukul oleh murid kelas 3 itu.

“Apa kau merasa hebat setelah memukul anak kelas 1 sunbaenim?” Sindirnya sebelum memukul sunbaenya itu.

“Oppa!” Seru JungAh, gadis yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan. Seakan sadar bahwa apa yang telah ia lakukan salah, ia membekap mulutnya rapat dan segera lari keluar kelas.

“JungAh-ah! LEE JUNGAH!” murid kelas tiga itu ikut berlari mengejar JungAh.

“Mwoya? Apa SungMin sunbae juga menjadi bahannya mencari uang?” Bisik para murid yang menonton acara tadi dengan serunya.

***

KyuHyun POV

“Apa kau yakin tidak perlu kuantar?” Tanyaku sekali lagi, memastikan bahwa gadis ini tidak mengubah pikirannya saat di lift tadi.

“Gwaenchanayo KyuHyun-ssi,” ia berhenti saat kami sudah sampain di depan pintu utama. Matahari terbenam, sejak kapan seindah ini? Warna oranyenya memenuhi horizon.

“Aku akan pergi dulu kalau begitu.” Ia membengkukan badannya kemudian berlalu.

“JungAh-ssi!” Panggilku setengah berlari mengejarnya, “Naik taksi saja.” Nafasku agak tersenggal, sudah cukup lama sejak terakhir kali aku berlari. Gadis di hadapanku ini hanya mengerutkan dahinya, ia bingung.

“Waeyo?” Akhirnya ia bersuara.

“Geunyang, ini hampir malam bisa menjadi bahaya bagi mu.” Aku mulai menegakkan tubuhku seiring dengan nafasku yang mulai teratur.

“Mengapa kau begitu khawatir KyuHyun-ssi?” Kerutan di dahi gadis itu semakin kentara.

“Euh…” aku menggaruk kepalaku walau tidak gatal. Itu benar, mengapa kau harus khawatir Cho KyuHyun?!

“Aku tidak mau kehilangan partner ku dalam misi penyelamatan diri ini, itu saja.” Ucapku cepat, “Ja, agar kau tidak punya alasan untuk tidak naik taksi.” Aku memberikan sejumlah uang.

“Gamsahamnida.” Ia menerima uang itu dan kembali memberi hormat. Aku hanya tersenyum sebagai balasannya. Tersenyum dan terus melambaikan tanganku hingga punggung gadis itu hilang dari jangkauan mataku.

“Mwoya? Kau sudah mulai melupakan MiYeon?” Seseorang menepuk pundakku keras.

“Noona! Solmayo. Bagaimana bisa secepat itu. Sebenarnya ini bukan misi menyelamatkan diriku, tetapi dirinya. Aku tidak mau orang lain merasakan sakit yang kurasakan. Itu saja.” Jelasku.

“Arraseo. Ayo kita pulang.” Noona memberikan tas tangan ungunya padaku sebelum berjalan ke arah mobil.

“Noona,” panggilku saat ia menyalakan mesin mobil, “ayo kita pulang.”

“Cho KyuHyun, aku sedang menyalakan mobil ini, jadi sabar sedikit.” Dumalnya.

“Bukan ke apartemenku, tapi ke rumah appa.” Mataku menerawang jauh kedepan. Bagaimana kabarnya? Bagaimana kabar eomma?

“Arraseo, ayo kita pulang.” Aku bisa mendengar noona tersenyum, bahagia.

***

Author POV

“Ahjumma!” Anak sulung dari keluarga Cho itu melangkah masuk ke rumah utamanya.

“Ahgassi!” Seorang wanita paruh baya dengan apron merah melekat di tubuhnya berlari kecil menuju asal suara putri majikannya itu.

“Ahjumma, bogosipoyo..” putri majikan ahjumma itu memeluknya tanpa rasa sungkan.

“Saya juga ahgassi.” Balas sang ahjumma, “Bagaimana kabar ahgassi?” Tanyanya setelah mereka melepas kerinduan itu.

“Aku baik-baik saja ahjumma.” AhRa tersenyum tulus.

“Bagaimana dengan KyuHyun?” Sang ahjumma kembali bertanya.

“Ahjumma tanya saja pada orangnya.” AhRa melipat tangannya di depan dadanya. Tak lama anak laki-laki keluarga Cho itu keluar dari tempat persembunyiannya. Memang itu lah idenya, memberi kejutan pada seluruh warga rumahnya.

“Cho KyuHyun!” Jerit wanita paruh baya itu.

“Choi ahjumma!” Balas KyuHyun seraya berlari untuk memeluk wanita yang telah merawatnya sejak kecil itu.

“Aigoo, kau kemana saja? Bagaimana keadaanmu selama ini? Kau membuat seluruh rumah kacau, apa kau tidak sadar akan hal itu? Semua orang mengkhawatirkanmu. Bahkan nyonya baru keluar rumah sakit entah untuk keberapa kalinya.” Pengurus rumah tangga itu memberondong KyuHyun dengan pertanyaan serta pernyataannya.

“Mianhaeyo ahjumma…” KyuHyun menundukkan kepalanya. Tak berselang lama ia mengangkat kepalanya cepat, “Mworago? Eomma baru keluar dari rumah sakit?!”

“Iya, eomma-mu sangat mengkha… Cho KyuHyun! Mau kemana kau? Hya!” Belum sempat Choi ahjumma menyelesaikan kalimatnya, KyuHyun telah berlari secepatnya menuju kamar utama yang terletak di lantai 2 dan membuat Choi ahjumma mengacungkan spatula di tangannya saat KyuHyun menabrak meja vas kesayangan ayahnya dan membuatnya hampir terjatuh. Tak jarang pula KyuHyun tersandung di tangga. Kedua wanita berbeda generasi itu hanya dapat menggelengkan kepala mereka.

Memang pada dasarnya, walau saat kecil KyuHyun lebih sering di rawat oleh Choi ahjumma, Kim Hanna tetap seorang yang sangat berarti baginya, seorang yang takkan pernah terganti posisinya sampai kapanpun. Walau Hanna sering kali sibuk dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah miliknya, ia tetap menyisihkan akhir minggunya demi putranya itu, bahkan ia tidak segan membatalkan pertemuan penting saat tahu putranya sakit. Eommanya adalah sosok yang selalu membela KyuHyun saat ia diomeli oleh sang ayah, eommanya juga akan menghibur KyuHyun saat sedih. Oh tidak, jangan bilang kau menganggap KyuHyun anak manja atau anak mommy. Sebaliknya KyuHyun sangat melindungi sosok ibunya itu, bila ada yang berani membuat masalah dengan Kim Hanna, KyuHyun tidak segan menghancurkan hidup orang itu. Ya, sepenting itulah sosok Kim Hanna bagi seorang Cho KyuHyun.

“Eomma!” KyuHyun membuka pintu kamar utama itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Biar saja appanya marah, itu bisa ia atasi nanti namun tidak dengan rasa kekhawatirannya yang sudah memuncak.

“Eomma..” panggilnya sekali lagi seraya berjalan mendekati tempat tidur ibunya. Appa tidak ada di sini.. batinnya seraya mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.

“KyuHyun-ah..” Hanna mengangkat suara setelah melihat KyuHyun berlutut di samping ranjangnya.

“Eung eomma.” Sahut KyuHyun menggenggam tangan ibunya.

Hanna menghela nafas berat, “Bahkan sekarang kau bisa menyentuh tanganku.” Racaunya, “Apa kau baik-baik saja? Apa keadaanmu sebaik halusinasiku ini KyuHyun-ah?”

“Eomma, ini aku, Cho KyuHyun.”

“Arra, aku masih ingat. Kapan kau akan pulang? Berhenti mengunjungiku dengan cara seperti ini dan pulanglah ke rumah ini.” Ucap Hanna pelan.

“Eomma, aku sudah pulang. Ini KyuHyun, bukan halusinasi eomma. Aku sudah pulang eomma.” KyuHyun mengeratkan gennggamannya serta memberikan senyum terbaiknya.

“Kau benar-benar KyuHyun? Bukan halusinasiku?” KyuHyun mengangguk sambil kembali tersenyum.

“Sesange! KyuHyun-ah! KyuHyun-ah!” Kini suara Hanna terdengar lebih bertenaga, ia segera bangkit dari rebahnya dan memeluk KyuHyun erat. “Sudah berapa lama ini? Sudah hampir satu tahun aku tidak mendengar kabarmu sama sekali. Mengapa kau pergi lama sekali?” Tangis Hanna pecah.

“Mianhaeyo eomma, aku tidak akan mengulanginya lagi.” KyuHyun mengeratkan pelukkannya dengan wanita yang paling disayanginya itu.
Benar, bagaimana aku bisa bodoh sekali? Bagaimana aku bisa mengabaikan eomma demi wanita itu? Jelas eomma lebih berharga. batin KyuHyun. Keduanya melepas rindu dengan pelukan erat dengan waktu yang lama, mungkin akan berakhir besok jika tidak ada suara dehaman yang mengganggu kegiatan mereka berdua.

“Yeobeo!” Seru Hanna saat melihat suaminya berdiri di depan pintu. Otaknya mulai bekerja dengan liar bagaimana jika suaminya mengusir KyuHyun? Tidak! Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

“Aboji.” Sapa KyuHyun.

“Andwae!” Hanna menarik KyuHyun ke belakang tubuhnya, “Yeobeo, kau tidak boleh mengusir KyuHyun, tidak lagi. Kalau KyuHyun harus keluar dari rumah ini, aku juga akan ikut!” Tekadnya.

“Cho KyuHyun.” Tuan rumah ini memanggil putranya.

“Andwae!” Jerit Hanna, ia kembali memeluk KyuHyun erat seperti tidak akan pernah mau melepasnya.

“Eomma, aboji bahkan baru memanggilku. Tidak perlu seperti itu…” KyuHyun berusaha menenangkan ibunya kemudian bangkit berdiri.

“Ne, aboji.”

“Ke ruanganku sekarang.” Ucap Cho YoungHwan dingin kemudian berlalu tanpa menatap KyuHyun.

“KyuHyun-ah, eomma akan ikut, eung?” Hanna menahan tangan KyuHyun saat ia hendak keluar.

“Tidak perlu eomma,” KyuHyun melepaskan genggaman tangan ibunya, “ini urusanku dengan appa, biar aku yang selesaikan. Aku sudah harus dewasa eomma.”

“Geurae, kalau appamu itu melakukan hal yang tidak biasa..”

“Eomma, aku bisa mengurusnya.” KyuHyun memotong kalimat Hanna.

“Arraseo, pergilah.” Hanna memberikan senyum terbaiknya seolah memberi KyuHyun kekuatan.

***

KyuHyun mengetuk pintu ruang kerja Cho YoungHwan sebanyak tiga kali dan masuk saat mendapat jawaban dari luar.

“Aboji.” Panggilnya sehingga ayahnya itu mengalihkan perhatiannya dari buku ditangannya. Keheningan mengreyangi mereka selama beberapa saat.

“Aboji.”
“KyuHyun-ah.” Panggil mereka bersamaan.

“Aku akan bicara terlebih dahulu aboji.” KyuHyun menekuk kedua lututnya kemudian duduk diatas tumitnya dengan kepala tertunduk.

“Jweisonghamnida, jalmothaeseumnida.” (Maafkan aku, aku telah bersalah) ucap KyuHyun yang hampir berupa bisikan.

“Kumohon aboji bisa memaafkan kebodohanku selama ini, kesalahanku selama ini. Saat itu aku belum bisa berpikir dengan benar, dan aku belum dewasa dengan pola pikirku, serta…”

“Gwaenchana,” YoungHwan tiba-tiba memeluk putranya itu tanpa siapapun pernah membayangkannya, “gwaenchana jassikah. Maafkan aku juga, yang telah bersikap kasar padamu. Aku telah membedakanmu hanya demi egoku. Aku menykitimu bahkan tanpa aku sadari. Mianhae.”

“Ne aboji, gwaenchanayo.” KyuHyun membalas pelukan ayahnya.

“KyuHyun-ah, bagaimana kalau aboji memiliki satu permintaan lagi?” Ucap Cho YoungHwan setelah beberapa saat dalam keheningan.

“Apapun aboji, apapun.” Balas KyuHyun.

TBC~

Hi!! Sorry author menghilang hampir 1 bulan, habis di sibukan oleh TO yang ya.. you know lah. So, don’t forget to leave comment… see ya next part ^^

Advertisements

8 thoughts on “Bittersweet Part 5 (Love Dust Sequel)

  1. hore…komennya udah nambah,chukae… appa kyu mo minta apa tuh ? jangan2 mo dijodohin? kebanyakan baca ff married life jadi pikirannya kawin mulu nih…

    Like

  2. semoga aja permintaan tuan cho keanaknya gk aneh” dech dan membuat kyuhyun depresi lagi
    kan mulai bagus tuh hubungan kyuhyun dan jung ah semakin dekat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s