Bittersweet Part 4 (Love Dust Sequel)

Seorang gadis kecil berumur sekitar 5 tahun duduk di depan sebuah rumah, yang terlihat tidak terawat, sambil menangis dan memegangi kepalanya yang tertunduk dalam. Ia terus menggumamkan kata-kata yang tidak dapat didengar oleh orang yang berlalu lalang. Memang tidak banyak orang terlihat di desa itu, sehingga tidak ada yang memperhatikan gadis itu pula.

Tidak, kecuali seorang bocah dengan kedua gigi depan yang tengah tanggal. Bocah itu berjalan mendekati gadis kecil itu dengan sebatang coklat di tangannya. Bocah itu mengetukan coklat itu ke kepala gadis itu, namun gadis itu tidak merespon ketukan itu. Bocah itu memutuskan untuk berjongkok di depan gadis itu.

“Na SungMiniya, Lee SungMin. Narang chinguhaja.” (Ayo berteman denganku) Bocah itu memberikan senyum terbaiknya.

««»»

JungAh POV

AhRa eonnie meninggalkan ruangan ini sehingga hanya ada kami berdua, aku dan Cho KyuHyun. AhRa eonnie mengatakan bahwa aku boleh merasa nyaman-nyaman saja memanggilnya eonnie dan menganggapnya sebagai eonnie-ku sekalipun.

“Jogi,” aku melangkah kearah adik dari pemilik ruangan ini dengan gugup, “jogiyo.” Panggilku pelan namun tidak menunjukan tanda ia mendengar suaraku.

“Jogiyo!” Panggilku dengan lebih keras yang membuatnya menatapku tajam, “Jo neun Lee JungAhimnida.” Suaraku memelan diakhir kalimat. Namun pria ini kembali memfokuskan pandangannya keluar jendela. Apa yang menarik dari pemandangan di luar sana sesungguhnya?

“Ku dengar namamu KyuHyun, aku tahu dari AhRa eonnie.” Aku berusaha mengalihkan perhatiannya lagi.

“Ia masih dalam tahap shock. Bahkan terkadang ia tidak meresponku. Terlebih ia baru keluar dari rumah sakit pagi ini. Jadi tolong maklumi saja dia.” Ucapan Ahra eonnie kembali terdengar di telingaku. Apa aku semenyebalkan orang ini juga?

“Aku juga mendengar bahwa kau mengalami hal yang sama sepertiku, di tinggal oleh kekasihmu.” Ucapku hati-hati, namun begitu ia tersentak, “Aku rasa mungkin ada yang salah, entah dimana, mungkin memang ia telah lelah dengan dirimu atau memang ia merupakan seorang yang kurang baik, dengan kata lain hanya memainkan…”

“Diamlah.” Potongnya pelan namun tetap terasa dingin.

“Tapi itu tidak menutup kemungkinan kau yang melakukan kesalahan,” aku mulai teringat SungMin oppa, “atau memang ia adalah seorang yang jahat yang hanya bisa memainkan hati seseorang.” Aku berusaha menghipnotis diriku dan menahan air mata yang mulai menggenang.

“KUBILANG DIAM!”

***

KyuHyun POV

“KUBILANG DIAM!” teriakku. Beraninya ia menghakimi MiYeon sesuka hatinya. Ia bahkan tidak pernah bertemu dengan MiYeon, juga belum genap satu jam mengenalku. Tanpa aku sadari tanganku telah melayang di udara siap memukul siapa saja, tidak hanya itu aku juga melihat gadis itu terduduk memegangi kepalanya yang tertunduk.

“JungAh-ah,” tiba-tiba saja noona masuk dengan wajah panik.

“Cho KyuHyun! Apa yang kau lakukan?!” Bentak noona.

“Na.. na..” aku tidak dapat berkata-kata, lidahku kelu dan tidak dapat digerakan.

“JungAh-ah, JungAh-ah gwaenchana.” Noona mencoba memeluk gadis itu, tapi gadis itu menjerit keras sebagai balasannya serta menggumamkan beberapa kata yang sulit kudengar.

“Mworago?” Tanya noona setelah berhasil keluar dari keterkejutannya.

“Jweisonghamnida, jalmothaesseoyo, jalmothasseoyo samchon.” Akhirnya aku dapat mendengar gumamannya yang terus ia ulang.

Aku dapat melihat noona kebingungan menanggapi reaksi gadis itu. Tiba-tiba saja aku teringat coklat yang diberikan noona tadi, ‘bila kau lapar’ katanya. Aku mengambil coklat itu dari lemari pendingin di sudut ruangan dan berjongkok di hadapan gadis itu.

“Na KyuHyuniya, Cho KyuHyun. Narang chingu haja.” Ucapku tanpa ku ketahui dari mana asal keberanian untuk mengucapkannya. Gadis itu pun mengangkat kepalanya perlahan, gadis yang bernama Lee JungAh itu mengangakat kepalanya dan menatapku tepat di mata. Aku tersenyum lebar sebagai tanggapan dari tatapannya itu.

***

“Apa sudah merasa baikan?” Tanyaku hati-hati yang dibalas dengan anggukan lemah olehnya. Noona sedang membeli makan siang, sehingga kami kembali berdua di ruangan ini.

“Jweisonghaeyo,” aku menundukan kepalaku, “atas kejadian tadi. Aku belum bisa menerima seseorang menghakimi MiYeon begitu saja.”

“Jadi namanya MiYeon.” Ujarnya pelan yang membuatku menyentakkan kepalaku menatapnya, “Namanya SungMin.”

“Nuguyo?” Tanyaku ragu.

“SungMin, Lee SungMin, pria yang melakukan hal yang sama dengan MiYeon. Ia juga meninggalkanku dan menikah dengan gadis lain yang bahkan baru pertama kali aku mendengar namanya.” Ia tersenyum.

“Ah, tidak. Aku bahkan tidak dapat mengingat nama gadis itu.” Ia terkekeh pelan. Mengapa ia terlihat begitu…

“Makanan telah sampai.” Noona membuyarkan lamunanku.

“Gomawoyo eonnie.” JungAh bangkit dan membantu noona membuka bungkus makanan yang di beli noona.

“Gomawogin museun? Seharusnya aku yang mengucapkan hal itu. Kau mau memaafkan adikku yang lancang memukulmu tadi.” (Terima kasih apanya?) noona melirikku sehingga aku segera mengalihkan tatapanku ke seluruh penjuru ruangan.

“Ia tidak memukulku eonnie.” JungAh kembali tersenyum. Gadis ini benar-benar membuatku kesal.

“Tetap saja.” Ucap noona, “ja.. ini jjajangmyeon untuk KyuHyun, ramen untukmu dan jjamppong untukku.” Noona mengedarkan makanan yang dibelinya.

“Jalmogolgeseumnida.” Ucap kami bersamaan dengan nada yang bervariasi dan mulai menikmati makanan yang tersaji.

***

Noona kembali meninggalkan kami berdua di ruangan ini. Ia menyuruhku untuk berbagi cerita dengannya. Tidak hanya itu, noona juga menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku berusaha mencairkan kekakuan ini dengan mengambil segelas air di depanku dan menikmatinya.

“OMO!” jeritnya tiba-tiba yang membuatku hampir menyemburkan air yang sudah bermuara di tenggorokanku.

“Ige mwoeyo?” Ia dengan lancangnya menarik tangan kiriku, tangan yang tadi kugunakan untuk mengambil minum.

“Waeyo?” Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya ini.

“Tunggu sebentar.” Ucapnya kemudian mulai meneliti tanganku. Apa yang salah dengannya?!

“Ini,” ia menunjuk bekas luka goresan di sepanjang lenganku, “apa ini bekas luka setelah kau melakukan ‘itu’?”

“Mwoeyo?” Aku mulai merasa tidak enak.

“Ini bekas luka yang kau dapat karena kau mencoba bunuh diri bukan?” Aku menghela nafas sebagai balasan pertanyaannya itu.

“Jika iya?” Tanyaku malas.

“Daebak!” Ia menatapku, itu cukup jelas, ia menatapku, “Tapi, KyuHyun-ssi, mengapa kau melakukannya?”

“Apa lagi?” Tanyaku malas.

“Eum.. geunyangyo, kukira pria akan lebih melakukan segala sesuatunya dengan logika, bukan perasaan.” Aku mulai mengerti arah pembicaraannya.

“Tapi itu bukan berarti pria tidak memiliki perasaan.” Ucapku yang segera ditanggapi dengan anggukan olehnya.

“Tentang mantan kekasihmu, MiYeon, apa aku boleh bertanya tentangnya?” Tanyanya hati-hati.

“Anieyo, akupun tidak mau membicarakannya.” Ucapku datar.

“Arraseoyo. Kalau begitu, apa boleh aku bertanya tentangmu?”

“Tergantung.” Aku menatap pintu masuk berharap noona segera datang.

“Mengapa kau mencoba bunuh diri? Bukankah itu sakit? Dan dari bekas luka yang kulihat, kau telah melakukannya lebih dari sekali. Apa itu tidak menyakitkan?” Ia menatapku, dalam.

Karena bahkan saat aku akan matipun aku tidak merasakan sakit sama sekali. Tidak ada rasa yang lebih meyakitkan dibandingkan dengan saat kau dihianati oleh orang yang paling kau cintai. Batinku seraya menatapnya, dalam.

“Bukan urusanmu.” Kalimat itulah yang nyatanya keluar dari bibirku.

“Arrayo,” ucapnya pelan, “aku juga merasakan yang sama. Aku pernah hampir mencoba bunuh diri saat aku tahu SungMin oppa akan menikah dengan gadis lain. Tapi kemudian aku merasa takut. Memang benar ditinggal oleh orang yang sangat kau cintai itu menyakitkan. Tapi itu bukan berarti kau harus menyakiti dirimu kan?”

“Kau…”

“Aku mengalami hal yang sama KyuHyun-ssi, aku mengerti dengan baik hanya dengan melihat tatapan di matamu itu.” Ia tersenyum, tulus.

“Kuharap, dulu aku sekuat dirimu, JungAh-ssi.” Ucapku tertunduk, “Semakin lama aku menyimpan perasaan sakit hati ini, aku semakin ingin mati saja. Bahkan aku sudah kehilangan semuanya, perasaanku, jiwaku, harapan, bahkan keluargaku. Aku tidak ingat berapa kali aku sudah membuat noona sakit, aku bahkan tidak tahu keadaan eomma serta aboji. Aku mengurung diriku sendiri dari dunia luar, berpikir tidak ada yang mempedulikanku, di saat semua orang tengah mengkhawatirkan keadaanku.”

“Maka dari itu, KyuHyun-ssi, bantu aku agar tidak mengalami hal yang sama denganmu, dan aku juga akan berusaha membantumu keluar dari ruang gelap yang telah kau bangun sendiri. Melepas masa lalu dan memulai hidup baru, tanpa bekas luka, tanpa sakit hati. Itu satu-satunya harapan yang tersisa dalam diriku. Bagaimana?” JungAh mengulurkan tangannya.

“Tidak ada salahnya mencoba bukan?” Aku menjabat tangannya, “Ayo kita coba.” Dan kami berdua tersenyum.

Tbc~

Another ‘tbc’, semoga readersdeul g bosen2 ya. Kalo ada kata yang kurang atau lacking dmn mohon dimaafkan. Authorpun masih dalam tahap belajar. So, please leave comments and sorry for typos… I’ll say bye for now..

Advertisements

6 thoughts on “Bittersweet Part 4 (Love Dust Sequel)

  1. untuk pairing ocnya di tiap ff beda y? g terlalu berpebgaruh sama cerita sih,cuma lebih gampang diinget lo ocnya tetap 1 …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s