Shopping (Yoo InAh The Series)

*Shopping*

InAh’s POV

Heuh… Scheduleku sangat padat hari ini, bukan, sejak seminggu lalu. Kukira mendapat solo debut akan menyenangkan, nyatanya, itu hanya berarti kau mendapat jatah tidur yang lebih singkat. Iya, lebih singkat. Aku melangkahkan kakiku ke dalam dorm. Ku harap MinAh memasak sesuatu. Aku belum sempat makan sejak kemarin malam.
“MinAh-ah” panggilku namun tak ada yang menyahut. Kemana mereka semua?

“Hani-ah, Sonya-ah, JungYeon-ah, eoddiseo?” Aku berjalan mengelilingi dorm. Tak ada tanda kehidupan disini. Kemana mereka sesungguhnya?!

Kuputuskan untuk mengecek makanan didapur. Great, bahkan tak ada apa-apa di kulkas ini. Tidak, lebih tepatnya tak ada bahan makanan apapun di sini. Keterlaluan. Aku sudah sangat lapar.

Kuputuskan untuk membeli bahan makanan, serta makanan matang, atau mungkin ramen instant di supermarket. Aku segera mengambil kunci mobilku dan berjalan ke basement untuk segera berangkat.

***

Aku mengunci mobilku setelah memarkirkannya dengan benar. Aku langsung memasuki supermarket itu agar tidak ada yang menyadari keberadaanku.

Aku mengambil sebuah keranjang troli lalu menariknya dibelakangku. Pertama aku melihat-lihat sayuran segar serta minuman-minuman seperti jus dan yoghurt. Mengambil beberapa lalu menuju daerah daging. Memilih daging sapi yang kiranya masih segar, lalu kembali berjalan melihat-lihat sereal, susu, camilan, dan lainnya.

‘Sadarlah Yoo InAh… kau idol, harus menjaga berat badanmu..’ batinku.

Tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu dilemparkan masuk ke dalam troliku. Sontak aku menengok kebelakang melihat siapa pelakunya.

“Neo?!” Desisku, sedang lawanku itu hanya menyengir sok polos seperti biasa.

“Harus berapakali kubilang? Kau harus belajar memanggilku oppa. Arraseo?” Ia menyentil dahiku.

“Ani, motalneunde!” (Tidak! Aku tidak bisa!) Aku segera menggalkannya.

“Hya! Gidaryeo! Yoo InAh!” Teriaknya. Sontak aku berbalik dan melangkah kearahnya secepatnya untuk memukul kepalanya itu.

“Hya Cho KyuHyun! Micheonya?!” Desisku yang dibalas dengan cengiran sok polosnya, lagi.

“Geuronnikka, jangan tinggalkan aku.” Ia merebut troliku.

“Cish! Memang aku pacarmu atau apa?” Aku mengikutinya dari belakang.

“Eoh? Jadi kau tidak mau menjadi pacarku? Aneh, kebanyakan sparkyu ingin menjadi pacarku.” Gumamnya.

Aku memanfaatkan saat ini untuk merebut kembali troliku dan berlanjut berbelanja.

“Hya! Gidaryeo! Dongsaeng-ah!” Teriaknya lagi. Ia hanya terlalu mencolok. Apa ia tidak merasa risih dengan tatapan orang-orang itu?

Namun aku tetap menghentikan langkahku agar ia diam.

“Katchigaja.”(ayo kita lakukan bersama) Ia mengambil alih troliku, lagi, lalu merangkulkan tangannya ke pundakku.

“Waehonjainni? Hani-ga eodiseo?” (Mengapa kau sendirian? Dimana Hani?)

“Molla. Di dorm tidak ada siapapun. Padahal aku sudah kelaparan.” Aduku.

Walau ia menyebalkan, aku menyebalkan baginya, kami tetap pasangan sunbae, hoobae yang paling akur. Bagaimanapun Cho KyuHyun ini biasku, alasan mengapa aku disini, bertahan sampai debutku.

Dan untuknya, aku juga tidak tahu kenapa ia mau-mau saja jadi oppaku. Setidaknya aku tidak merasa terlalu kesepian dengannya disini.

“Geurom, katchimogja!” (Kalau begitu ayo makan bersama) Ajaknya.

“Mwol mogo?” (Makan apa?) Balasku malas.

“Eum.. pasta mogja.” Ajaknya dengan wajah berbinar.

“Geurae, gaja. Tapi aku akan selesaikan belanjaanku dulu.”

“Arra.” Ia mengacak-acak rambutku. Maksudku benar-benar mengacak-acak rambutku.

“Ah, bagaimana kau ada disini?” Tanyaku tiba-tiba.

“Aku naik mobil, berjalan sampai dalam supermarket dan menemukanmu sedang berbelanja sendirian. Malang sekali nasibmu sebagai leader. Ckckck” ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Eoh, aku juga bawa mobil. Lalu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” Ia berpikir sebentar, “Ah… Mudah saja, kau bawa mobilmu dan aku bawa mobilku lalu kita bertemu disana. Mudahkan?”

“Cih. Lebih baik aku pulang kalau begitu!”

“Lalu, kau mau meninggalkan mobilmu disini?” Tanyanya.

“Kau sendiri, apa kau mau meninggalkan hyungmu yang paling menyayangimu itu?” Aku menunjuk SiWon oppa yang terlihat sedang memilih bumbu pelengkap. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan ia disana.

“KyuHyun-ah, darimana saja kau?” Ia menghampiri kami. “Eoh, InAh-ah.”

“Anyeong oppa.” Sapaku.

“Kau meninggalkan hyungmu…”

“Demi dongsaengku iya.” Potong KyuHyun. “Aku tidak bisa melihatnya berbelanja sendiri. Sudah berat nasibnya menjadi leader, ia bahkan baru selesai solo debut, pasti ia sangat lelah. Bagaimana bisa aku membiarkannya berbelanja sendirian?” Ucapnya panjang. Sebegitu pedulinya kah, ia padaku?

“Dongsaengmu atau pacarmu?” Ejek SiWon oppa.

“Mwoya?!” Seruku.

“Ah matta, mana mau InAh denganmu? Geutchi InAh-ah?” (Benarkan InAh?) Tanyanya lagi yang kubalas dengan anggukan semangat.

“Itu tidak penting…” ucap KyuHyun, “Lebih baik kau cepat selesaikan belanjamu, lalu kita makan. Dan untukmu hyung, ini kunci mobilku. Aku akan pergi makan dengan dongsaeng tersayangku ini.” Ia mengeratkan rangkulannya. “Gaja, dongsaeng-ah” ia menarikku ke kasir.

Heuh… kapan sebenarnya aku dapat melawan sunbae ‘tersayangku’ ini?

***

“Clarisse, apa yang kau lakukan?” Panggil auntieku. Aku tersadar, dan melihat diriku sedang menatap ramen instant di gengamanku ini.

“Eoh, auntie, sebentar!” Seruku lalu berlari kearah auntieku. Heuh… Lagi-lagi aku hanya berhayal. Huft…

Fin~

Happy Sunday! RCL! ^^ And, sorry for typos…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s