Bittersweet Part 3 (Love Dust Sequel)

*Bittersweet*

Author POV

AhRa melangkah masuk ke apartemen adiknya dengan kepala tertunduk.

“KyuHyun-ah, na wasseo.” AhRa mengetuk kamar KyuHyun namun tidak ada sahutan.
“KyuHyun-ah,” AhRa memasukan kepalanya ke kamar KyuHyun, “Kau sudah tidur ternyata.” Ucap AhRa pada dirinya sendiri.

AhRa melangkahkan kakinya masuk ke kamar KyuHyun dan duduk di sisi tempat tidurnya.

“Apa yang telah kau perbuat KyuHyun-ah? Hingga kau harus mengalami semua ini?” Tangan AhRa terulur merapihkan poni KyuHyun yang menutupi wajahnya, “Mianhae KyuHyun-ah, karena noona tidak bisa membantumu di saat sulit seperti ini.” AhRa mengecup kening adik kesayangannya itu kemudian tertidur di sisinya.

***

“Noona?” Panggil KyuHyun, “Noona, apa yang kau lakukan di sini?” AhRa membuka matanya perlahan.

“KyuHyun-ah, kau sudah bangun?” AhRa bangkit dari duduknya, “Ayo keluar, kita sarapan dulu.”

“Shireo.” Balas KyuHyun singkat.

“Ayolah KyuHyun-ah, kau harus makan. Sudah seminggu kau hampir tidak makan. Setidaknya minumlah susu walau hanya segelas.”

“Kubilang aku tidak mau!” Tolak KyuHyun tak terbantahkan. AhRa hanya dapat menghela nafas panjang mendengar perkataan adiknya itu.

“Baiklah, aku akan membawa sarapanmu kesini.” AhRa mulai melangkahkan kakinya keluar kamar.

“Tidak perlu.” Ucap KyuHyun cepat.

“Kau harus makan KyuHyun-ah…” wajah AhRa melemas, adiknya itu memang keras kepala rupanya.

“Supaya apa? Aku juga tidak memiliki alasan hidup lagi. Appa membenciku, aku juga hanya menjadi beban bagi noona serta eomma, terutama MiYeon bahan rela meninggalkanku demi namja lain.” Ujar KyuHyun berlinang.

“KyuHyun-ah…” panggil noonanya pelan.

“Aku akan ke kamar mandi sebentar.” KyuHyun melangkah bangkit meninggalkan tempat tidur nyamannya.

“Noona tetap akan menyiapkan sarapanmu!” AhRa berkata cepat sebelum KyuHyun menutup pintu kamar mandinya dan mulai menyiapkan sarapan.

***

Wanita di akhir 20-nya itu menaruh roti yang telah dipanggangnya ke atas piring, kemudian membawanya beserta segelas susu yang telah di siapkannya sebelumnya dan mulai melangkah masuk ke kamar adik tunggalnya.

“KyuHyun-ah,” panggilnya namun tidak ada sahutan apapun, “KyuHyun-ah?” Ia menaruh sarapan yang di bawanya ke nakas sebelah tempat tidur dan segera mengetuk pintu kamar mandi.

Mungkin ia sedang mandi.. batinnya, namun kemudian ia mengetuk pintu itu sekali lagi seraya memanggil adiknya. Setelah tidak mendapat sahutan apapun juga tidak mendengar suara apapun dari dalam, rasa panik mulai mengelilinginya.

“KYUHYUN-AH! CHO KYUHYUN! JAWAB AKU!” Ia menggedor pintu itu dengan keras namun masih belum ada reaksi dari dalam. Ia pun segera berlari mencari kunci cadangan yang ia simpan.

“Kemana perginya kunci itu?” AhRa mengacak-acak seluruh laci yang ada di apartemen itu dan menemukan kuncinya di laci bawah TV.

“CHO KYUHYUN JAWAB AKU!” Teriak AhRa sambil mencoba kunci yang berada di tangannya satu per satu.

“CHO KYUHYUN!” panggilnya sekali lagi setelah berhasil membuka pintu kamar mandi tersebut, “OMONA! CHO KYUHYUN! CHO KYUHYUN SADARLAH!” ia segera berlari ke arah tubuh lemas KyuHyun. Darah mengalir cepat dari kedua pergelangan tangannya, bahkan darah itu sudah menggenang hingga sekitar kaki KyuHyun.

“Cho KyuHyun, ku mohon sadarlah! Ku mohon bertahanlah!” AhRa mulai mengangkat tubuh lemas KyuHyun dan membawanya ke rumah sakit.

***

“Tenanglah sunbae.. aku yakin KyuHyun akan baik-baik saja.” Ujar seorang namja dengan pakaian cassual yang dipadu dengan jas putih panjang serta stetoskop menggantung setia di lehernya.

“Bagaimana kau tahu? Bagaimana kau bisa begitu yakin? Ini bukan pertama kalinya kau mengatakan hal itu.” Ucap AhRa lemas dan matanya menerawang jauh kedepan. Mengingat semua masa yang telah ia lalui dengan adik tersayangnya itu, adik yang tengah mengalami masa kritis itu.

“Justru karena ini bukan pertama kalinya, aku yakin KyuHyun sudah terbiasa melewatinya.” Ujar namja itu sekali lagi.

“Bagaimana bila ia telah lelah? Bagaimana bila ia sudah terlalu lelah untuk menghadapi semua ini? Bahkan bekas luka sebelumnya belum sembuh sepenuhnya, dan ia melakukannya lagi sekarang. Bagaimana ia bisa bertahan? Jawab aku Lee HyukJae!” Jerit AhRa histeris.

“Tenanglah, aku yak…”

“Bagaimana aku bisa tenang? Sekarang adikku tengah mengalami masa yang teramat sulit. Bagaimana aku bisa tenang?!” Ia mulai memukuli hoobaenya itu.

“Sunbae, aku tahu sunbae pasti khawatir tapi DongHae itu sangat hebat. Walau wajah kami jauh berbeda, namun DongHae masih saudara sepupuku, dan aku bisa jamin ia dapat melakukan yang terbaik. Ia bahkan jauh lebih pintar dariku.” HyukJae mulai memberikan pemikiran positif pada AhRa.

“Arraseo. Mian HyukJae-ah, aku hanya terlalu takut. Aku.. aku takut…” tangis AhRa pecah sekali lagi. Ia segera menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangannya.

“Aku tidak akan bisa hidup jika KyuHyun benar-benar pergi kali ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku takut appa akan menyesal dan berakhir menyusulnya. Aku tahu semuanya, aku tahu bahwa sesungguhnya appa sangat menyayangi KyuHyun namun terkadang memang agak terlalu keras namun tetap saja…” AhRa menggelengkan kepalanya secara terus menerus. Nafasnya sesak, ia terus terisak bahkan semakin keras tiap detiknya. Hingga nafasnya berubah pendek-pendek dan akhirnya terjatuh dari duduknya.

“Sunbae!”

***

AhRa POV

Aku berusaha keras membuka mataku. Rasanya kelopak mataku terlalu berat, begitu juga kepalaku. Cahaya terang berusaha menembus kelopak mataku dan langsung menyerang mataku begitu aku berhasil membuka mataku.

“Noona!” Ucap suara yang amat kukenali, namun aku kurang yakin bahwa itu merupakan suaranya. Mungkin aku masih tertidur.

“Noona! Apa noona sudah merasa baikan?” Tanya suara itu sekali lagi, “Noona, ayo jawab aku.”

Aku menolehkan kepalaku kearah suara tersebut. Dan benar saja, pemilik suara itu duduk di sebelah ranjangku dengan selang infus tersambung ke tangannya dan wajahnya yang pucat.

“Wajah noona juga sangat pucat.” Ucapnya seolah mengetahui isi kepalaku, “Sekarang jawab aku, apa noona sudah merasa baikan? HyukJae hyung tadi berkata bahwa noona kurang istirahat dan terlalu stress sehingga ia memberi obat yang membuatmu tertidur saat noona pingsan tadi.

“Dasar anak kurang ajar!” Aku memukul kepalanya dengan seluruh kekuatan yang kupunya.

“Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Noona sedang sakit.” Ia mengembalikan tanganku ke tempat sebelumnya.

“Kau juga sedang sakit, jasikk-ah!” Omelku.

“Mian noona. Karena aku…” KyuHyun menundukan kepalanya.

“Dwaetta, semua sudah terjadi. Dan jangan kau berpikir untuk melakukannya lagi atau aku akan membunuhmu!” Ancamku.

“Noona? Apa noona masih tertidur? Jika aku melakukannya lagi mungkin aku sudah mati, bagaimana membunuh orang yang sudah mati?” Cibir KyuHyun.

“Aku akan mengikutimu ke neraka dan membunuhmu saat itu juga.” Aku melototinya yang membuatnya menghela nafas panjang.

“Aku sudah tidak apa-apa lagi setelah menghabiskan infus ini, jadi aku akan merawat noona dengan baik sehingga HyukJae itu tidak akan mencari kesempatan.” KyuHyun mengalihkan topik pembicaraan.

“Arraseo. Lebih baik kau tidur dan istirahat. Kau sudah melewati banyak hal hari ini.” Aku merapikan rambutnya yang berantakan itu.

“Geurae, tapi noona juga harus tidur.” Tawarnya.

“Pasti.” Aku memberikan senyum terbaikku padanya. Semoga saja ini bukan mimpi.

***

“Sunbae, sunbae belum boleh bekerja.” Larang HyukJae, ia bahkan menghalangi jalan keluarku.

“Wae?” Tanyaku bersidekap.

“Well, eum…” ucapnya terbata.

“Sudahlah. Lagi pula pasienku itu sudah membuat janji. Dan aku harus menepatinya, aku tidak boleh melanggar janji itu. Nanti bisa saja ia tidak akan mempercayai siapapun lagi.” Alibiku.

“Arraseo, tapi..”

“Aku akan mengajak KyuHyun. Kau tidak perlu khawatir. Lagi pula aku harus terus memantaunya. Aku tidak mau hal buruk kembali terjadi padanya. Kau tahu dengan jelas bahwa ia masih belum mau berbicara pada siapapun kecuali aku.”

“Arraseo. Geurom..” ia memberi hormat kemudian berjalan meninggalkanku begitu saja. Kurasa ia marah.

***

“Jadi namamu Lee JungAh?” Tanyaku yang dibalas dengan anggukan lemas dari gadis di depanku ini.

“Berapa umurmu?”

“26” jawabnya singkat dengan suara yang sangat pelan.

“Ah.. 26. Apa yang ingin kau ceritakan? Ah bukan, apa yang terjadi?” Tanyaku halus.

“Aku ditinggal.”

“Oleh?”

“Pacarku”

“Mengapa?”

“Ia menikah dengan gadis lain.”

“Kau tahu namanya?” Ia menggeleng, “wajahnya?” Ia kembali menggeleng, “Umurnya?” Ia juga menggeleng.

“Kalau alasannya?” Ia masih tetap menggeleng.

“Kalau begitu sudah berapa lama kalian bersama?”

“Sejak kecil. Namun kami baru berpacaran sejak SMA.” jawabnya masih dengan kepala tertunduk.

“Bisa kau ceritakan hal apa saja yang mengganggu pikiranmu?” Ia diam, tak mengeluarkan suara maupun pergerakan apapun layaknya sebuah patung. Aku pernah melihat ini sebelumnya, tapi di mana? Kapan?

FLASHBACK

“Wae KyuHyun-ah? Apa yang terjadi?” Tanyaku saat KyuHyun melangkah masuk dengan langkah lemah namun ia hanya menggeleng.

“Coba duduk di sini sebentar.” Aku menepuk sofa di sebelahku dan ia pun duduk di sana, “Ada apa?” Tuntutku.

“MiYeon-ie, ia bilang ia akan menikah.” Ucapnya dengan kepala tertunduk.

“Wae?” Ia menggeleng.

“Kau tahu namanya?” Ia menggeleng, “wajahnya?” Ia kembali menggeleng, “Umurnya?” Ia juga menggeleng.

“Kalau alasannya?” Ia masih tetap menggeleng. Aku menghela nafas dengan berat.

“Coba ceritakan dengan jelas yang kau alami.” Ujarku lembut menggenggam tangannya namun Ia diam, tak mengeluarkan suara maupun pergerakan apapun layaknya sebuah patung.

FLASHBACK END

“Kau tahu? Namja di ujung sana,” aku menunjuk KyuHyun yang duduk di depan jendela sambil menerawang keluar, “ia adik ku. Umurnya berbeda satu tahun denganmu. Satu tahun lalu ia mengalami hal yang sama.” JungAh mulai mengangkat kepalanya sedikit.

“Dulu ia juga bereaksi sama seperti mu. Aku tidak ingat berapa kali ia telah melakukan percobaan bunuh diri karena hal ini, terlalu banyak untuk di hitung. Ia baru keluar dari rumah sakit hari ini karena hal yang sama. Aku tidak ingat berapa jahitan yang ada di pergelangan tangannya sekarang.” Jelasku masih dengan menatap KyuHyun.

“Itu… sonsaengnim, bolehkah aku berbicara dengannya?” Ia mulai mengeluarkan suara, “Kami mengalami hal yang sama, mungkin kami bisa saling membantu. Dari kedengarannya ia mengalami masa yang berat dan aku juga mengalaminya, ku pikir kami bisa mencari jalan keluarnya jika berdiskusi bersama.” JungAh mengeluarkan kalimat terpanjangnya kali ini. Dan aku hanya tersenyum menanggapinya.

TBC

Hai! Mulai sekolah=mulai sibuk. Apa lagi bentar lagi author mau UN (author acak2 rambut) yah.. jadi author usahakan sering2 deh upload. Dan please leave comment supaya author tau gmn respon readersnim, yg dipengenin, sama kurang jelas dimana biar part selanjutnya bisa menjelaskan. Last but not least, thanks for reading and sorry for typos(terlalu sibuk untuk review)#diomelinreaders. Chiao!

Advertisements

6 thoughts on “Bittersweet Part 3 (Love Dust Sequel)

  1. Apakah yang akan dilakukan oleh Jung Ah setelah bertemu dengan Kyu? Semoga pertemuan mereka membawa dampak yang positif buat kyu biar tidak bunuh diri lagi.

    Like

  2. minhye biar jadi masa lalu,ganti sama yg baru. biasa sama sosok kyu yg angkuh & dingin sekarang depresi & galau gini jadi ikut galau,gegana….

    Like

  3. parah banget kyuhyun
    gk kasian ama dirinya sendiri juga ahra
    miyeon ama siwon aja udah bahagia tanpa mikirin kyuhyun
    semoga pertemuannya dengan jung ah bisa merubah kyuhyun yang sama” memiliki pengalaman pahit

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s