Lunch Party

image

*Lunch Party*

Kring…
“Yeoboseyo?” Aku mengangkat teleponku.

“InAh-ah, siganisseo?” (Kau ada waktu?) Tanya orang diseberang sana yang amatku kenali suaranya.

“Henry?! What’s up?”

“Do you have some time?”

“Of course, why?”

“It’s Nathans birthday, and we’re going to eat outside, wanna come?”

“Sure.”

“Kalau begitu aku akan menjemputmu, di dormmu. You better get ready.”

“Already done.” Ucapku seraya mematikan komputerku.

“That fast?” Tanyanya bingung.

“Of course not, maksudku aku sudah mulai melakukannya.”

“Okay. I’ll be there in 10 minutes.”

“Got it.” Aku memutuskan sambungan, dan segera berlari ke kamar mandi.

***

Ting tong

Aku segera berlari kearah intercom.

“Wait a sec.” Aku membuka pintunya, lalu kembali berlari kekamar.

“Clarisse, where are you?” Teriak Henry seelah menyadari aku tidak di sana.

“In my room. Tunggu sebentar!” Sahutku, Henry datang sebelum aku mendapat kesempatan untuk merias diri. Aku segera berlari dan membuka pintu kamar.

“Sorry, it took a little while isn’t it?”

“It’s okay.” Henry berdiri dari duduknya.

“Let’s go then.” Henry menawarkan tangannya untuk di genggam yang kusambut dengan senang hati. Lalu kami mulai berjalan menuju restoran yang di maksud.

***

“Eoh, InAh ah. Kau juga datang.” Tanya RyeoWook oppa.

“Geurom.. Saengil chukahae oppa!” Aku memberikan kado yang ku beli saat di jalan tadi.

“Eiyy.. Gomawo InAh-ah..” ia menerima kadoku. “Ja.. ayo kita masuk ke dalam.”

***

Kami memasuki restoran itu. Para oppa memesan makanan yang mereka inginkan, namun aku tidak. Bila aku melakukan hal yang sama, kemungkinan besar berat badanku akan naik, dan itu amat tidak diinginkan maupun menyenangkan. Kami duduk di kursi yang dapat melihat kokinya memasak. Koki kami hari ini bernama Gu Jinguk. Kami mengajaknya bercakap-cakap. Tentang sudah berapa lama ia bekerja, menu favorit, dan lain-lain.

“Aku punya ide!” Ucap HyukJae oppa tiba-tiba, “Ryeowook-ah, kau kan bisa memasak, cobalah berkolaborasi dengan Jinguk-ssi untuk memasak.” Kami semua mengangguk antusias.
Bahkan Jinguk juga menyetujui ide itu.

“Baiklah, namun dengan satu syarat..”
ucap Ryeowook oppa akhirnya.

“Jangan bilang kalau syaratnya adalah kami yang harus membayar makanannya!” Potong DongHae oppa.

“Jika hyung mau, sesungguhnya syaratku hanya agar Henry ikut denganku.”
Maka Henry menyetujuinya dengan senang hati. Jinguk memberikan mereka sarung tangan serta masker untuk memasak yang ia gunakan.

“Ja… Sunnim*, mau pesan apa?” Ryeowook oppa menirukan gaya para pelayan restoran.

“Na Gindara steak hana!” (Aku pesan satu Gindara Steak) Pesan HyukJae oppa semangat.

“Na Salmon Steak hana!” Pesan DongHae oppa menyusul.

“Na beef steak dulge, ani samge!” (Aku pesan Beef Steak 2, ah tidak, 3)
Pesan ShinDong oppa tanpa pikir panjang.

“Mwoya? Hyung, aku bisa bangkrut kalau begitu.” Protes RyeoWook oppa, sedangkan kami hanya bisa menertawakan reaksinya.

“Arraseo. Geunyang jangnanhaejana.” (Aku hanya bercanda) Tutur ShinDong oppa, “Hanado dwae.” (Satu saja sudah cukup)

“InAh-ah, apa yang kau mau?” Tanya Henry oppa padaku.

“Eum..” aku membaca daftar menu sekali lagi, “Salmon hanadodwae. Ah! Dan Fried chocolate Ice cream satu.” Aku tersenyum singkat.

“Okay, mohon tunggu sebentar..” ucap RyeoWook oppa.

Kami semua menatapi RyeoWook oppa dan Henry oppa memasak yang dibantu oleh JinGuk dengan seksama.
Sesekali mereka bercanda mengenai makanan sehingga aku tidak dapat mengerti.

“Ja… Sudah siap. Dua Salmon steak, satu Gindara steak, satu Beef steak, serta satu fried chocolate ice cream.” Henry dan RyeoWook oppa menaruh pesanan kami di depan kami masing-masing.
Aku segera mulai melahap ice cream gorengku.

“InAh-ah, ah..” DongHae oppa yang duduk di sebelahku membuka lebar mulutnya. Aku memutar bola mataku sebagai tanggapannya lalu memasukan ice cream itu ke mulutnya.

“Aish! Itu dingin!” Omel DongHae oppa karena kau memberinya sesendok besar ice cream itu.

“Ice cream ini sudah di goreng oppa, jadi tidak sedingin itu kurasa.” Ejekku.

“Neo…” DongHae oppa melototiku, “Jugyeoseo… Buka mulutmu!”

“Ani! Shireo!” Teriakku sambil menutup mulutku dengan tangan.

“Ayo buka!” DongHae oppa memaksaku membuka mulut dengan menarik-narik tanganku, jangan lupakan sendok yang penuh dengan ice cream itu. Bahkan mangkuk ice cream yang berisi setengah tadi sudah menjadi kosong.

“Ayo buka!” DongHae oppa menghentakan tanganku, “ppalli!”

Aku menjerit tertahan seraya terus memberontak. Akhirnya DongHae oppa menang dan memasukan sesendok penuh ice cream itu.

“Mmhhh” aku menggelengkan kepalaku menahan dinginnya es itu.

“Hahaha, rasakan itu!” DongHae oppa terrawa keras diikuti tawa geli yang lain.

Aku melototi DongHae oppa dengan kesal, namun akupun tak bisa menahan senyumku.

***

“Clarisse, apa yang kau lakukan?” Tanya Auntie-ku.

“Hah?” Aku mengalihkan tatapanku dari mangkuk ice creamku menunju auntie-ku itu.

“Mengapa kau tersenyum sendiri seperti itu?” Tanya Auntie-ku sekali lagi.

“Ah.. Nothing. Aku hanya menyukai ice cream ini. Sangat menyukai ice cream ini.” Alibiku.

Kurasa Lucas benar, aku sudah benar-benar terkena virus itu. Ini akan menjadi sulit.

Fin~

Hai hai… First Midnigth post.. \(^0^)/ Hoping for your review so much. So, leave a comment and thanks for reading… ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s