Love Dust

Featured image

PS: Sorry for being gone too long…

Love Dust

KyuHyun Pov

Mobilku melaju dengan kecepatan 120km/jam. Ini benar-benar menyebalkan! Mudah saja baginya untuk mengatakan hal seperti itu.

FLASHBACK

“Bagaimana pertemuannya?” Tanya eomma tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah fashion terbaru di tangannya.

“Seperti biasa.” Aku merebahkan diri di sofa.

“Dia gadis yang baik bukan? Eomma sudah bilang, ia pasti cocok denganmu. Noona sudah mengenalnya cukup lama.” Ucap Noona dari balik laptopnya.

“Ne.” jawabku sekenanya “Terlalu baik sampai ia tidak mengizinkanku minum soju! Siapa yang akan menyukainya?”

“Itu bagus bagimu. Kau tidak seharusnya meminum soju, itu buruk bagi kesehatan!” bentak noona.

“Noona hanya mencari alasan bukan?! Noona menyukai Lee HyukJae itu dan ia tidak minum soju. Kau selalu memojokkanku!” balasku.

“Cho KyuHyun! Jangan bentak noonamu!” teriak appa dari tangga “kau lihat saja kelakuanmu! Apa ada wanita yang akan menyukaimu?!”

“Aku akan membuat ja….”

“Tidak perlu yeobo!” appa memotong eomma. “HyeJin adalah wanita ke 59 yang ia temui. Sampai kapan kau akan begini?! Kau seharusnya tahu, sudah seharusnya kau sudah menikah pada umurmu ini!”

“Kenapa appa hanya memaksaku?!” aku bangkit dan membentak appa “ Noona bahkan belum menikah, kenapa harus aku?! Appa hanya menyayangi noona bukan?! Aku bukan seseorang, bahkan bukan sesuatu yang penting, benarkan?!”

“OMMO!” jerit eomma setelah dua pukulan mendarat mulus di wajahku.

“Cho KyuHyun!” bentak appa.

“Mwo?!” tantangku yang membuat satu lagi pukulan di wajahku. Eomma segera menangkapku yang kehilangan keseimbangan setelah pukulan appa.

“Appa!” “Yeobo!” teriak noona dan eomma.

“Gwaenchana? Apa sakit?” eomma memeriksa keadaanku. “Yeobo, jangan terlalu keras padanya.”

“Anak kurang ajar sepertinya pantas mendapatkan itu!” aku hanya mampu membuang muka mendengar kalimat appa. “Sampai kapan kau akan seperti ini? Sampai kapan kau akan tetap memikirkan bahkan mengharapkan dan menunggu Park MiYeon itu?” aku terbelalak mendengar pertanyaan appa.

“Appa,” panggil noona putus asa dari belakang.

“Itu benar bukan? Kau masih belum melupakannya. Apa sulitnya? Ia bahkan sudah menikah dengan anak rival perusahaan appa Choi SiWon, apa lagi yang kau pikirkan?”

“Appa geumanhae.” Noona menarik appa keatas. “Geuman, kita bicara dulu…” namun appa tidak menghiraukan noona. Hhhh, kenapa aku begitu berat?

“KyuHyun-ah!” jerit eomma khawatir “KyuHyun-ah gwaenchana? Eoddi appo?”

“Benar bukan tebakkan appa?”

“Yeobo geumanhae.”

“Ada baiknya juga ternyata.” Gumamku “Ada baiknya juga aku tinggal di apartemen terpisah bukan di rumah ini. Dengan begitu appa bisa menjauh dariku, begitupun aku, dengan senang hati aku akan meninggalkan ini semua. Dengan begitu, appa bisa memiliki keluarga seperti yang appa impikan bukan? Bahkan perusahaan itu, aku juga tidak membutuhkannya.” Ucapku lalu segera berjalan keluar.

“Kalau begitu, kembalikan juga marga Cho-mu itu, kau tidak pantas mendapatkannya!” bentak appa untuk kesekian kalinya.

“Ambil saja, aku juga tidak membutuhkannya.” Jawabku santai lalu menutup pintu dengan suara keras.

FLASHBACK END

Aku memasukkan sandi apartemenku, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar sebelum masuk ke dalam. Aku melepas sepatu dengan malas lalu merebahkan diri di sofa tanpa menyalakan lampu. Rasanya lebih baik tanpa penerangan, beruntung  waktu telah menunjukan pukul 23.15.

“Oppa sudah makan?” aku mendengar suara itu. Suara yang sangat familier denganku, dan suara itu berasal dari dapur. Aku segera menyalakan lampu dan berlari menuju dapur.

“MiYeon-ah.” Panggilku. Langkahku terhenti setelah menyadari tidak ada siapapun di sini selain diriku. Aku melihat bingkai foto di sudut sebelah kompor, tempat yang nyaris tidak pernah ku sentuh selama 3 bulan belakangan. Aku memberanikan diri untuk pergi kesana, mengambil bingkai itu dan melihat isinya. Tanpa butuh waktu lama, kakiku gemetar diiringi kepalaku terasa berputar. Foto ini membuatku teringat memoriku.

FLASHBACK

“Apa yang kau masak?”  tanyaku sambil berjalan mendekati MiYeon.

“Japchae.”

“Tapi, dimana dagingnya?” aku mengedarkan pandanganku ke seluruh dapur.

“Eobseo. Kau harus makan sayur, kau tahu itu. Sayur baik untuk mengimbangi konsumsi sojumu yang berlebihan itu!” ia memukul kepalaku dengan sendok di tangannya.

“Hya! Pertama, jangan pukul kepalaku. Dan kedua, itu tidak berlebihan, itu normal!”

“Ish!” serunya kesal seraya melayangkan satu pukulan yang berhasil kutangkap. Ia hendak memukulku dengan tangannya yang bebas namun juga berhasil ku tangkap.

“Sekarang kau tidak bisa menghindar.”

“Mwo?”

“Apanya yang apa? Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau pasti menunggunya dalam hati.” Aku mengerling dan menunjukkan smirkku yang selalu berhasil menyihirnya.

“Lepaskan!” ia berusaha memberontak. Ia segera membuang muka setelah tahu usahanya sia-sia.

“Ini bahkan lebih baik.” Candaku.

“Hya!” ia segera membalikkan wajahnya. Tanpa membuang waktu, aku segera mendararatkan ciuman kilat di pipinya.

“Apa yang kau pikirkan?” tawaku keras.

“Lepaskan! Japchaeku hangus nanti.”  Aku tertawa geli melihat wajahnya yang memerah.

“MiYeon-ah.” Panggilku, namun tidak ia hiraukan. “Park MiYeon! Hya, kau marah? Geurae, mian, aku hanya bercanda. Sebagai bayarannya aku akan berfoto denganmu.” Bujukku, aku tahu pasti bahwa MiYeon sangat suka berfoto.

“Baiklah, dengan posisi mulut terbuka lebar.”

“Pose macam apa itu?!” teriakku.

“Teman-temanku melakukannya. Ayo kita coba.” Aku menghela nafas sambil mengangguk pasrah “Bersama Japchaenya.” MiYeon mengambil beberapa jenis sayur yang sudah matang itu.

“Siap? Aku pasang timer 3 detik.”

“Okay.” Jawabnya setelah siap dengan posisinya.

3… Kami mulai mengambil posisi.

2… MiYeon meninggikan sendoknya hingga berada di dekat mulutnya.

1… Klik.

MiYeon tertawa keras, aku hanya terpaku menyadari semua sayur disendok tadi sudah berada di dalam mulutku.

“Hya Park MiYeon!” bentakku setelah melihat hasil foto itu.

“Hahaha, bagus bukan?” tawanya.

“Bagus apanya?! Ini keterlaluan!”

“Tapi kau menelan semua sayurnya! Hahaha, aku berhasil. Kita impas.” Aku hanya menghembuskan nafas keputus asaan “Coba ku lihat.” Ia merebut handphoneku.

“Hya! Aku akan menghapus itu!” aku mengejarnya.

“Aku akan mencetak ini. Mungkin tiga hari lagi akan ku kembalikan, selama itu, kau boleh meminjam milikku.” Ia memberikan handphonenya padaku. “Ppalli, tanganku pegal.”  ia memasukan handphonenya kedalam saku kemejaku. “Ayo makan!” ia mendorongku ke meja makan.

FLASHBACK END

Aku melangkahkan kakiku menuju rak buku untuk menghabiskan waktu. Aku mulai menelusuri satu persatu buku yang tertata disana. Twilight Saga, Harry Potter, Nama-nama penemu dunia, Buku-buku bisnis, resep-resep untuk pemula. Apa tidak ada yang bisa ku baca?! Aku mengacak-acak rambutku frustasi sampai aku menemukan sebuak box biru berukuran sedang di rak paling bawah. Entah apa yang membuatku mengambilnya saat aku bahkkan tidak ingin melihatnya. Sekarang disinilah aku, duduk di sofa bersiap membuka box ini. Aku menarik nafas panjang sebelum membuka box ini. Barang pertama yang kulihat adalah foto kami berdua dengan gantungan kunci berbentuk stick PS, hadiah ulang tahunku 2 tahun lalu.

FLASHBACK

“Saengil chukahae!” jerit MiYeon seraya melambaikan box kadonya.

“Eii, gomawo. Boleh kubuka sekarang?” MiYeon hanya menggedikkan bahunya. Melihat reaksi MiYeon kuputuskan untuk segera membuka box itu. Aku mendecak kagum setelah melihat isinya.

“Kau membuatnya sendiri?” MiYeon hanya mengangguk  “Gomawo!” Aku langsung menarik keluar kadoku. “Oh?! Ige mwol?” Tanyaku setelah menemukan sebuah gantungan kunci lainnya.

“Ini mesin PS. Aljji, stick PS tidak akan berguna tanpa benda ini.” Jelas MiYeon, namun aku hanya dapat mengerutkan dahiku tidak mengerti. “Benda ini harus selalu bersama jika ingin berguna. Seperti kau dan aku. Aku akan ambil yang ini, dan kau ambil yang itu.” Ia merebut mesin PS itu. “Kau harus selalu menyimpannya!” perintahnya “Aku berjanji akan selalu menggantung ini di tasku yang manapun yang akan kugunakan, bagaimana denganmu?”

“Aku janji akan selalu menggantungkan ini di kunci mobilku yang manapun.” Kami menautkan kelingking kami sampai ia sadar sesuatu.

“Memang kau punya berapa mobil?” aku hanya tertawa geli yang segera diusul olehnya.

FLASHBACK END

Pikiranku kembali melayang jauh. Apa kau masih menggantungkannya MiYeon-ah? Kau sudah berjanji padaku. Aku menatap nanar kunci mobilku yang tadi kuletakan di atas sofa. Aish, aku bahkan masih saja menggunakannya! Aku segera melepas gantungan itu dan melemparnya jauh-jauh seakan itu benda terkutuk. Aku menghela nafasku yang sempat memburu.

Kenapa? Kenapa ia tega melakukan ini padaku? Mengapa keluargaku tega melakukan ini padaku? Bahkan noonaku bisa membantu orang-orang asing, mengapa ia tidak membantuku? Aku mengacak-acak seluruh barang yang bisa kujangkau, melemparnya, meremasnya, tak jarang membantingnya. Benar, aku harus melakukannya. Tekadku sudah bulat, aku akan melupakan semuanya, aku akan membuang semuanya. Benar itu hal yang mudah. Aku segera mengumpulkan semua barang yang berhubungan dengannya secara terburu-buru. Aku tak ingin kehilangan satu halpun. Mengumpulkan benda-benda itu dalam box biru tadi mulai dari gantungan kunci itu hingga foto-foto yang kusimpan dalam sebuah album khususpun aku masukan. Aku segera mengambil tong besi dan korek api. Berjalan keluar apartemenku, pergi ke taman terdekat lalu membakar semua itu tanpa ampun. Aku bahkan tidak sudi menunggu benda-benda itu hingga hangus. Maka kutinggalkan barang itu disana.

Setelah sampai di apartemen, aku segera membersihkan diri dan merebahkan badanku di ranjang yang kumiliki. Aku menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diriku juga amarahku hingga aku mencium wangi parfum yang biasa digunakan MiYeon, vanilla. Aku segera mengambil pengharum ruanganku dan menyemprotkannya membabi-buta. Lalu kembali berusaha menenangkan diriku. Setelah cukup tenang, aku berusaha untuk tidur. Pukul 1 dini hari. Bila aku baru pulang sehabis minum soju, pasti MiYeon akan.. tidak, aku tidak boleh memikirkannya lagi. Aku harus menghapusnya dari memoriku. Aku harus menghapus semua rasa cintaku yang telah kuberikan padanya, bahkan sampai sekarang. Benar kata appa, ia bahkan sudah menikah, pasti hidupnya bahagia dengan si Choi itu… pasti. Pasti ia bahagia, dan ia akan lebih bahagia lagi melihatmu menderita seperti ini Cho KyuHyun! Aku berteriak frustasi. Semuanya sia-sia. Percuma saja semuanya. Walau aku sudah membakar semua pemberiannya, semua barang dengan memorinya, aku sadar bahwa aku tidak akan bisa melupakannya. Melupakan cintanya padaku, terlebih cintaku padanya. Karena aku sadar sekarang bahwa memang hanya ia yang dapat menempati hatiku dan ia sudah berada pada tempatnya. Kantuk mulai menyerangku. Aku sudah lelah menangis yang bahkan tidak kusadari dimana awalnya. Aku mulai tertidur, menatap wajah MiYeon sekali lagi sebelum tertidur dan mempererat pelukkanku padanya.

“Saranghae MiYeon-ah” bisikku padanya. Dan sebelum benar-benar terlelap aku melihatnya tersenyum padaku.

End~

Advertisements

8 thoughts on “Love Dust

  1. Ngeri ya orang kaya kyuhyun saking cinta nya dia sm miyeon smpe dia membentak dan bahkan rela mencopot marga nya ck , eh ceita nya seru min

    Like

  2. Sebenarnya apa alasannya hingga Miyeon meninggalkan Kyu? Kyu masih tenggelam dalam kenangan masa lalu yang tak pernah dia coba lupakan. Ayolah move on kyu.

    Like

  3. akhirnya ada ff yg bebas dari aroma kematian,walopun masih sad ending & gantung (ni reader 1 bawel banget y?gantung aja deh gantung). mianhe,big apologize…. bukan maksud ngebash / ngripik pedas,tapi karna perduli & suka jadi seenaknya aja komen gini.walopun ru kenal tapi udah sayaaa…..ng banget,he…. emang kebanyakan ceritanya beraroma kematian /kesedihan tapi g ngebosenin,yg ada malah nagih pengin baca terus2n….. sekali lagi ma’af ya….

    Like

  4. terlalu banyak kenangan yang dilakukan makanya kyuhyun pun susah move on
    tapi pasti ada suatu hal yang membuat miyeon akhirnya menikah dengan siwon dan mengabaikan perasaan kyuhyun

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s