Last Sacrificial

PS: Kim HyongHa=Cho KyuHyun

PPS: FF ini sudah pernah di post di Sujuff20110

 

 

Last Sacrificial

—Author Pov—

“Sudahku bilang beratus kali padamu! AKU TIDAK MAU MINUM OBAT!!!” teriak seorang namja seraya menepis tangan suster yang hendak memberikan obat padanya. Semua sisa obatnya jatuh berserakkan di lantai. Terlihat seorang yeoja yang sedang memandang namja itu dari depan pintu kamar pasien namja itu. “Dan kau mengapa kau hanya menatapku dari sana?! Jangan menjadi pengecut datang kemari kalau berani!” teriak namja itu lagi. Dan dengan berani, yeoja itu masuk ke dalam kamar namja itu. “Apa masalahmu?!” bentak namja itu sekali lagi.

“Masalahku? Cukup banyak.” Jawab yeoja itu menantang

“Mengapa kau terus melihatku dari depan pintu setiap hari?!”

“Tidak ada apa apa sebenarnya, tapi lucu saja melihatmu berteriak teriak terus setiap hari. Kau tahu, saat kau berteriak seperti itu wajahmu sangat lucu. Seperti wajah Lee Kwang Soo yang terlipat menjadi 5 di acara variety-nya.”

“Apa maksudmu?”

“Yah.. singkatnya itu merupakan hiburan tersendiri bagiku. Apa kau tidak pernah melihat wajah Lee Kwang Soo yang terlipat 5? Itu sangat lucu kau harus melihatnya suatu hari.” Perawat yang sedari tadi berdiri mematung di sana hanya bisa terkekeh.

“Apa yang membuatmu tertawa?!” bentak namja itu sekali lagi yang membuat perawat itu terdiam seketika.

“Hhh, kau lucu. Kau tahu? Manusia hidup itu untuk tertawa. Tidak untuk marah marah sepertimu!”

“HMM, memang apa yang kau ketahui mengenai diriku?”

“Banyak, kau seorang laki laki yang terkena penyakit kanker otak dan divonis akan mati 15 tahun lagi sepuluh tahun yang lalu, itu berarti waktumu tinggal 5 tahun lagi. Dan orang tuamu meninggalkanmu begitu saja sejak kau kecil. Benarkan?” jelas yeoja itu, dan ia mengatakan semuanya dengan tepat.

“Hh kau cukup tahu banyak mengenaiku, kau stalker ya?!”

“HA! Lucu, kau sangat terkenal di rumah sakit ini.” Seketika itu juga pria itu tersenyum, “jangan terlalu berbesar kepala dulu. Kau terkenal karena omelanmu setiap hari.”

“Tentu saja aku terus mengomel, aku terjebak di tempat mengerikan ini sejak 10 tahun yang lalu.”

“Benarkah? Aku sudah terjebak di tempat indah ini selama 11 tahun, bagaimana?” yeoja itu berhenti sejenak. “Kau berpendapat begitu karena kau belum pernah ke loteng maupun taman yang ada di rumah sakit ini. Sejujurnya tempat ini adalah tempat yang menyenangkan, ribuan orang sembuh ditempat ini.”

“Benar, dan puluhan ribu orang meninggal disini.” Ujar pria itu yang membuat yeoja itu tak bisa membalasnya.

“AeRi –ah” panggil seorang yeoja “Rupanya kamu disini! Aku dari tadi terus mencarimu kemana mana.”

“Eonnie, kan sudah bilang bahwa setiap pagi aku akan ada disini dan melihat acara variety kesukaanku.” Ejek AeRi

“Ok baiklah aku mengerti. Tapi sekarang kau harus istirahat, kau bahkan belum sarapan!” AeRi mengangguk dan mengikuti perawat itu.

***

–HyongHa POV–

Hhh ada apa dengan yeoja tadi pagi itu? Menyebalkan dan benar benar mengganggu ketenanganku saja. Siapa namanya tadi? Ah iya AeRi, HAH nama yang lucu. Tapi ada apa dengan loteng? Apa yang membuatnya menyukai tempat itu? Lebih baik aku melihatnya saja sendiri. Aku bangkit dan berjalan keluar kamarku. Lorong malam ini begitu gelap, entah memang setiap malam seperti ini atau hanya perasaanku saja. Jujur aku belum pernah keluar kamarku. Tapi kemana arah loteng? Apa aku harus bertanya? Ah tidak aku terlalu keren untuk bertanya.

“Arah loteng lurus lalu kekanan, ada tangga naikki saja. Kalau ketaman balik arah belok kanan lalu kau hanya tinggal lurus.” Ujar seorang yeoja

“Ah.. Baikl… Tunggu. Apa aku bertanya?” aku menoleh untuk melihat siapa yeoja itu.

“Tidak, tidak secara langsung tepatnya. Bagaimana? Kau tertarikkan untuk pergi ke loteng? Ayo pergi bersamaku saja daripada nanti kau tersesat.” Aku mengikuti yeoja bernama AeRi itu sambil membisu. “Ayo duduk di sini,” ujarnya setelah kami sampai di loteng sambil tersenyum “Aku biasa duduk di sini.” Aku mengambil langkah menuju tempat yang ia maksud sebelum duduk, aku melihat sebuah pemandangan yang begitu indah.

“Indah kan? Kita bisa melihat seisi Seoul dari sini.”

“Mengapa tidak seisi Korea sekalian?!” ucapku kesal

“Kalau begitu harusnya kau ke Seoul Tower.” Ucapnya sambul terkekeh. Setelah dilihat yeoja ini cukup unik.

“Um… kita belum berkenalan secara formal, siapa namamu?”

“Yah seperti yang kau dengar dari JungAh eonnie tadi namaku AeRi, Gu AeRi.”

“Gu?” tanyaku bingung, itu bukan marga yang biasaku dengar.

“Iya Gu, terdengar cukup asing ya? Ayahku yang memberiku marga itu, padahal marga ayahku Park dan ibuku Shin. Kata ayahku karena aku keturunan ke 5 jadi margaku Gu.” Jelasnya singkat.

“Gu? Darimana? Setahuku angka 5 dibaca O atau Dasot?”

“Justru itu aku rasa itu tidak menjelaskan sama sekali ya?” aku mengangguk.

“Kurasa itu sebabnya orang orang menganggapku aneh dan menjauhiku.”

“Benarkah?Tapi apa hubungannya? Nama dan kebencian? Tidak masuk akal. Harusnya ada alasan lain.”

“Iya mungkin, kurasa juga begitu. Tapi apa?”

“Yah.. mungkin kau mempunyai musuh atau sejenisnya?” dia hanya menggeleng ”Lalu?”

“Entahlah, aku tak bisa mengingatnya. Mungkin karena penyakitku sudah bertambah parah.”

“Memang kau sakit apa?” Tanyaku heran. Apa dia amnesia?

“Aku terkena kanker otak sepertimu.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku heran bagaimana ia bisa tersenyum saat ia tahu kapan dia akan meninggal “Umurku hanya tinggal 3 tahun lagi, jadi tenang saja aku tidak akan lama lagi mengganggumu.” Ujarnya yang membuatku merasa bersalah.

“Oh iya, namaku Kim…”

“Kim Hyong Ha. Dari namamu saja sudah terlihat bahwa kau orang yang rumit.”

“Benarkah?” Tanyaku dengan nada yang cukup sopan, untuk pertama kalinya aku berkata sopan di rumah sakit ini. “Menurutku nama itu biasa saja.” Lanjutku

“Iya menurutmu.” Kami terdiam sejenak “Ayo cepat masuk sebentar lagi akan turun hujan.” Ujarnya. Hujan? Di saat secerah ini hujan? Aku menoleh ke arahnya, namun ia sudah hilang dari pandanganku. Dan tiba tiba saja setetes air mengenaiku, aku mendongak dan hujan langsung mengguyurku. Aku berlari ke dalam gedung dan melupakan infusku yang menyebabkannya terjatuh. Aku mengambilnya dan kembali berlari.

“Sudahku bilang akan turun hujan, mengapa kau malah melamun?” ucapnya sambil menyodorkan handuk padaku. Entah dari mana ia mendapatkan handuk ini atau bagaimana ia mengambilnya secepat ini.

“Hanya saja aku tidak percaya. Awannya kan cerah.” Balasku santai sambil meraih handuk itu lalu meninggalkannya dengan santai.

“HYA! Kau bahkan belum mengucapkan terima kasih!” teriaknya. Dia pikir dia siapa mengajariku sopan santun? Aku hanya melambaikan tanganku tanpa berbalik arah. Ku dengar ia berlari mengejarku, langkahnya cukup cepat, namun tak lama kemudian aku mendengar sesuatu terjatuh. Aku refleks membalikkan badanku dan kulihat yeoja itu terjatuh tak sadarkan diri. Aku berlari panik kearahnya. Apa aku sudah membunuhnya? Atau aku memperpendek umurnya? Ah rasanya itu sama saja. Lalu aku mendengar suara yeoja berteriak “Omona! AeRi!” teriaknya begitu histeris hingga membuat bulu kudukku berdiri. Tanpa ku sadari ia sudah menggendong AeRi menuju kamarnya. Apa itu JungAh?

***

Hhhh….. bagaimana keadaan yeoja itu sekarang? Aku masih khawatir kalau kalau aku benar benar membunuhnya. Eum?? Bukankah itu dia? Sedang apa dia duduk santai seperti itu apa ia tidak tahu kalau aku mengkhawatirkannya?

“Hey, apa yang sedang kau lakukan?” Tanyaku singkat

Ia mendengus “Memang apa pedulimu?” dia berubah 180 derajat. “Sejak kapan kau tahu sopan santun?!” ucapnya dingin bahkan lebih mendekati membentak.

“Ah bukan itu,” aku mulai menjelaskan saat ia hendak pergi “Semalam, bagaimana kau tahu itu akan hujan?” semalaman aku memikirkannya tapi masih belum mendapatkan hasil yang jelas. Kalau ia melihat ramalan cuaca itu sangat tidak mungkin karena sepagian ia ada di depan kamarku.

“Kau masih memikirkannya? Apa pentingnya? Lalu bagaimana menurutmu?”

“Ah…” aku bingung harus mulai dari mana “Iya aku masih memikirkannya, dan aku hanya penasaran juga menurutku itu sedikit, ah tidak sangat, mungkin juga bukan itu um…..”

“sudah cepat langsung ke intinya saja!” bentaknya yang membuatku kaget. Semalam dia begitu manis mengapa ia segalak ini sekarang?

“Menurutku eh…. Itu … singkatnya aneh.” Ia tersenyum, namun bukan senyum manisnya yang ia tunjukkan melainkan senyum meremehkan.

“Sudahku duga kau akan berkata seperti itu. Aku orang yang aneh. Ya, semua orang menganggapku seperti itu.” Ucapnya santai dengan nada tersinggung.

“er…menurutku kalau kau bisa melakukan itu lebih baik kau bekerja sebagai peramal cuaca.” Aku meledeknya. Tapi ia langsung melototiku. “Maafkan aku” Aku meminta maaf dengan berat entah untuk apa.

“Kau tidak seharusnya meminta maaf dengan nada tidak rela seperti itu” omelnya. Hah seumur hidupku ini pertama kalinya ada orang yang berani memarahiku.

“Masih baik aku mau minta maaf!” bentakku

“Tapi aku tidak sudi menerima permintaan maaf yang seperti itu!”

“Kalau begitu tidak usah menerimanya!”

“Kau ini! Bukannya meminta maaf yang benar malah balas membentakku. Sejak awalkan kau yang salah! Dasar orang tidak tahu sopan santun!” ia marah, mengomel dan bisa dibilang mengamuk. Tiba tiba saja aku merasakan ada goncangan yang cukup kencang

“GEMPA BUMI!!! GEMPA BUMI!!!!” teriak orang di sekitar kami, aku sontak merasa sedikit panik, aku hendak berlari dan mengingat bahwa AeRi ada di dekatku. Aku menoleh untuk memastikan bahwa ia sudah pergi, namun ternyata ia malah melamun dalam kemarahannya di sana. Aku melihat ada sebuah dahan tua yang cukup besar hendak jatuh menimpanya. Aku refleks menarik tangannya dan memeluknya, lalu merunduk untuk memastikan tidak ada yang akan mengenai kepalanya.

“LEPASKAN AKU!” ia berteriak sekencang yang ia bisa

“KAU TIDAK SADAR KAU HAMPIR TERBUNUH TERTIMPA DAHAN ITU!” teriakku untuk memastikan ia mendengarku dalam kericuhan orang orang sekitar. Terasa guncangan itu semakin kencang dan ia berhasil melepaskan diri dari dekapanku itu. Ia melotot padaku, sama sekali tidak panik atau bahkan tidak sadar pada gempa yang terjadi di sini. Lalu akhirnya gempa itu berhenti juga.

“Kau gila? Tadi ada gempa besar dan kau hanya melototiku?”

“Uh… aku..” ucapnya terengah lalu pergi meninggalkanku. Ada apa lagi?

***

Hhhh, aku benar benar tidak mengerti. Ada apa sebenarnya dengan yeoja itu? Bagaimana ia bisa berubah secepat itu?

Tok Tok Tok. Siapa yang datang apa ia tidak tahu aku sedang menonton berita?

“Sudah kubilang, AKU TIDAK MAU MINUM OBAT LAGI!” aku berteriak untuk berjaga jaga kalau itu perawat yang akan memberiku obat lagi. Aku sudah muak dengan semua obat itu.

“Ini aku, bolehkah aku masuk?” oh? Itu bukan perawat.

“Ya sudah masuk saja,” aku mengijinkannya masuk “asal kau tidak membawa obat saja.” Para perawat dan dokter itu bisa melakukan apa saja kan?

“Tidak, aku hanya membawa diriku dan permintaan maaf. Maafkan aku atas apa yang terjadi tadi di taman, itu kunjungan pertamamu tapi aku sudah membuatnya berkesan buruk. Kumohon maafkan aku.” Ucapnya lirih. Mengapa ia memohon sampai seperti itu?

“Pemirsa sekarang mengenai gempa yang terjadi sekitar 10 menit yang lalu.” Oh berita gempa tadi.

“Tolong besarkan volumenya.” Ia meminta padaku. Aku yang juga penasaran membesarkan tingkat volumenya.

“Gempa tadi berdurasi 5 menit dengan guncangan sebesar 2.3 skala lither.” Pantas saja gedung ini tidak runtuh. Pikirku santai, namun kau melihat AeRi sangat terkejut, ia melotot sampai matanya mau keluar dan menutup mulutnya dengan tangannya. Gempa inikan hanya 2.3 skala lither.

“ Pertama kalinya aku membuat gempa sebesar itu.” Gumamnya.

“Ne?” Tanyaku memastikan “aku membuat gempa sebesar itu” setidaknya itu yang kudengar, sepertinya.

“Ah tidak, aku tidak berkata apapun” ujarnya. Tapi aku yakin ia mengatakan sesuatu.

“Aku yakin aku mendengar sesuatu tentang membuat gempa?” kupikir aku lebih bertanya daripada meyakinkannya.

“Baiklah. You got me. Aku memang mengatakan ‘Pertama kalinya aku membuat gempa sebesar itu’ tapi itu semua ada alasannya. Dan itu berkaitan tentang bagaimana aku tahu bahwa akan hujan semalam.” Aku mengrenyitkan dahi tanda tak mengerti. Ia tersenyum, kembali dangan senyum manisnya.

“Apa kau punya kertas dan ballpoint atau pensil?” aku kembali menunjukkan ekspresi bingung. Lalu aku mengerti apa maksudnya dan menunjuk ke laciku. Ia mengambil secarik kertas dan sebuah pensil lalu duduk di sampingku.

“Pada dasarnya aku memiliki 4 emosi utama,” ia mulai menjelaskan “senang, sedih, marah, dan kecewa.” Lanjutnya seraya menulis keempat kata itu dikertas tadi yang menurutku membentuk sebuah persegi?

“Jika aku merasa sedih, maka akan terjadi hujan” ujarnya dan menggambar hujan di bawah kata ‘sedih’ yang tadi ia tulis, “jika aku senang, maka udara akan terasa sejuk dan nyaman,” ia menggambar angin serta smiley. Aku tersenyum melihat gambarnya yang itu.

“Konsentrasilah, kalau tidak kau tidak akan mengerti.” Ia membentakku

“Baiklah.” Aku kembali memperhatikannya
“Jika aku kecewa, maka akan mendung dan terasa sangat dingin tapi tidak kunjung turun hujan maupun salju.” Ia menggambar sebuah lingkaran ditutupi dengan awan, kurasa lingkaran itu berarti matahari.

“Dan yang terakhir marah,” ia menghela nafas “jika aku marah maka akan ada angin yang terasa kering dan sesak, dan yang paling parah,” ia menggambar tanah yang retak. Apa maksudnya? “akan terjadi gempa seperti tadi” lanjutnya melihatku yang tidak mengerti.

“Ah…. Aku mengerti sekarang.” Aku menganggukan kepalaku “itu menjelaskan semuanya.” Ia mengikutiku mengganguk angguk.

“Kau benar benar sudah mengerti?”

“Iya aku mengerti, sejak awal bahakan. Dari dulu aku memang menganggap bahwa di dunia ini yang paling mengerti diriku hanyalah dunia itu sendiri.”

“Tidak bukan itu maksudku.” Aku membenarkan. Ia memasang ekspresi bingung seperti mengatakan ‘lalu?’. Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahunya.

“Maksudku hal ini juga menjelaskan mengapa orang orang menganggapmu aneh dan menjauhimu. Benarkan?” ia tidak mengatakan apapun.

—AeRi Pov—

“Maksudku hal ini juga menjelaskan mengapa orang orang menganggapmu aneh dan menjauhimu. Benarkan?” namja itu menjelaskan padaku. Benarkah? Aku benar benar tidak bisa mengingatnya.

FLASHBACK

18 TAHUN YANG LALU

“Jessica! Lihat ini! Baguskan rangkaian bunga yang kubuat?” aku bertanya pada anak berumur 4 tahun di depanku itu.

“Huh, tapi tidak sebagus punyaku!” sombong Jessica

“Tidak punyaku tetap bagus.”ucapku sambil tersenyum melihat rangkaian bunga yang kubuat. Angin terasa sangat sejuk hari ini.

“TIDAK PUNYAKU LEBIH BAGUS! “ jerit Jessica lalu menghancurkan rangkaian bungaku

“Mengapa kau menghancurkannya?!” aku ikut menjerit. “Aku tidak bilang punyamu jelek!” tiba tiba saja angin terasa sangat kering dan panas.

“Ha? Mengapa panas begini? Ini semua karena mu!” Jessica menyalahkanku. Aku melotot.

“Berikan punyamu!” aku meraih rangkaian bunga Jessica tapi ia menghindar lebih cepat “BERIKAN!!”

“TIDAK MAU!” Jessica bangun lalu melakukan ‘merong’ padaku. Aku berlari mengejar Jessica serta rangkaian bunganya.

“Tangkap aku kalau bisa!” ejeknya. Memang ia beberapa senti lebih tinggi dariku. Aku berlari lebih cepat. Tanpa kusadari kakiku tersandung batu.

“AAAHH!” teriakku yang sontak membuat semua orang menoleh ke arahku. Aku duduk dan melihat lututku yang terasa perih. Ternyata berdarah. Sikutku juga. Lalu aku menangis sekencangnya. Jessica menghampiriku, dan dengan penasarannya, ia menyentuh lukaku. Aku menjerit dan menangis semakin kencang. Tiba tiba turun hujan. Jessica mundur menjauhiku dengan tatapan aneh.

“Eomma…” panggilnya. Ibunya yang sedari tadi berbincang dengan ibuku menghampirinya bersama ibuku yang berjalan menuju sampingku.

“Ommona! AeRi! Kau terluka? Bagaimana bisa?” ibuku cemas, ibu Jessica pun terlihat cemas dan melihat kearah Jessica dengan curiga.

“Tadi aku sedang berlari bersama Jessica, namun aku ceroboh dan tersandung batu itu.” Jelasku dan menunjuk batu yang bersalah itu sambil terisak. Hujan turun semakin deras.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang.” Ajak ibu Jessica. Aku mengangguk, lalu ibu menggendongku yang masih menangis.

“Kau anak aneh aku tidak mau bermain denganmu lagi. Kau membuat cuaca menjadi buruk.” Ucap Jessica dengan kesal. Aku hanya menundukkan kepala.

7 TAHUN KEMUDIAN

“Kalian tahukan anak yang bernama Gu AeRi itu?” ucap Jessica sambil menunjuk kearahku yang sedang asyik membaca buku biologiku. Kalimat itu membuatku berhenti membaca dan mendengarkan.

“Dia itu anak yang aneh. Jangan sekali kali kalian mendekatinya. Atau hal buruk akan terjadi pada kalian!” ucapnya pada gerombolan anak yang mengelilinginya.

“Benarkah? Apa kau pernah melihatnya?” ucap salah satu anak perempuan.

“Iya, aku pernah menjadi korbannya dulu.” Jessica memulai ceritanya ”dulu aku sering bermain bersamanya karena ibuku dan ibunya sangat dekat. Ketika itu kami masih berumur 4 tahun. Wajarkan kalau dulu aku masih bermain bersamanya? Akukan belum tahu apa-apa.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Yah… waktu itu kami sedang bermain di taman saat musim semi. Udara sangat sejuk dan semuanya cerah. Sampai ia iri dengan rangkaian bunga yang kubuat.” Dasar pembohong, jelas jelas ia yang menghancurkan miliku.

“Ia tidak senang dan mau menghancurkan milikku. Lalu semuanya menjadi terik dan panas. Padahal musim panas masih jauh.”

“Dasar tidak tahu malu, tidak berbakat saja iri dengan punya orang lain dan mau menghancurkannya. Ia pasti anak yang tidak baik.” Ucap seorang siswa laki laki yang diikuti dengan anggukan kerumunan yang semakin ramai.

“Itu masih awalnya, saat ia akan menghancurkannya aku berlari menghindar. Ia mengejarku dan tersandung batu dengan sendirinya. Lalu ia menangis dan melapor pada ibunya bahwa aku yang membuatnya terjatuh. Lalu hujan pun turun.” Jessica mengakhiri cerita karangannya.

“Wah… keterlaluan, ia yang ceroboh namun menuduh orang.”

“Seram sekali, masa dari sejuk, ke terik lalu hujan? Pasti ada yang salah dengannya.”

Semua komentar negative itu membuatku muak. Apalagi di tambah dengan senyum kepuasan dan mengejek dari Jessica. Aku putuskan untuk bangkit dengan membuat suara derik kursi yang melengiking. Semua orang sontak melihat kearahku, dan kembali berbisik bisik. Aku berjalan kearah Jessica dengan sikap menantang.

“Cerita yang bagus Sica.” Ucapku saat aku berada tepat di depannya.

“Tentu saja, aku bukan dirimu yang hanya bisa mengucapkan kebohongan.” Aku mendengus mendengar pernyataannya itu.

“Benarkah?” ia mengangguk “baiklah kalau begitu mari kita buktikan saat sudah meninggal nanti.” Aku melotot kearahnya. Tiba tiba saja air mataku membendung. Lalu aku secepatnya berlari mencari tempat yang sepi. Tanpa kusadari aku berlari kearah seorang sunbae dari arah yang berlawanan dan menabraknya

“Mian” ucapku singkat sambil membungkukan badan lalu kembali berlari. Kebetulan aku melihat sebuah ruang music yang kosong dan terbuka. Aku bergegas masuk dan menutup pintunya. Aku duduk di sudut lalu menangis. Mengapa begini? Mengapa bisa ada orang sekeji Jessica? Padahal ia dulu teman baikku. Tapi kenapa sekarang ia begitu membenciku? Aku kembali terisak. Tiba tiba saja pintu terbuka. Aku berusaha menghapus semua air mataku sebelum orang yang membuka pintu melihatku. Kalau itu guru, pasti ia akan melapor pada orang tuaku.

“Nuguseyo?” tanyanya, sebelum aku berhasil menyelesaikan misiku. “oh? Ureoseo? (Kau menangis?)”

Aku tidak menjawabnya dan terus menghapus air mataku yang masih terus keluar.

“Ja..” ia mengelap air mataku dengan sapu tangannya ”hari pertama di SMP memang cukup sulit. Apalagi saat pertama kau belajar fisika.” Jelasnya sambil terus mengelap air mataku.

“Biar aku saja.” Aku berhasil mengeluarkan suaraku dan meraih saputangannya. Ia melepaskan saputangannya lalu duduk disebelahku.

“Kau tidak seharusnya duduk di situ.” Ucapnya tiba tiba

“Wae?” tanyaku bingung, lalu air menetes di kepalaku.

“Karena di situ atapnya bocor saat hujan.” Ia tersenyum. Hujan? Apa sekarang hujan? Aku mencari jendela namun tidak ku temukan satupun.

“Sekarang sedang hujan. Lebih baik kau pindah sebelum airnya menetes lagi.” Sarannya. Aku bangkit dan duduk di sebelahnya yang kukira aman.

“Siapa namamu?”

“Gu AeRi. Kelas 7B.”

“Ah… berarti kau hoobaeku.” Ia tertawa. Kurasa aku pernah melihatnya.

“Namaku JungSoo. Park Jungsoo.” Ia mengulurkan tangannya. Lalu kami bersalaman. Aku melihat ada luka di tangannya. Oh sunbae yang kutabrak tadi memiliki luka yang sama. Ay Omo! This can’t be happening!

“Maaf tapi… Apa tadi ada yang menabrakmu sebelum sampai kesini?”

“UM…” ia berpikir sejenak “Iya, tadi ada seorang murid perempuan yang menabrakku dan hanya berkata ‘mian’ sambil membungkuk. Bahkan ia tidak membungkuk 90 derajat. Sangat tidak sopan.” Gerutunya.

“um.. tapi yang tadi menabrakmu itu adalah aku.” Aku merundukkan kepalaku. Kurasa ia terkejut.

“Maafkan aku.” Aku kembali meminta maaf.

“Ah… tadi itu… AH.. Maafkan aku, aku tidak tahu. Pantas saja tadi kau tidak memita maaf dengan semestinya. Kau sedang berada dalam mood yang kurang baik. Aku tidak bermaksud menyinggungmu.”

Aku mengangguk. “Tidak apa apa selama kau memaafkanku.”

“Ah… tentu saja aku memaafkanmu. Kau tidak sengaja.” Kami terdiam sejenak. “UM.. Kau sudah memutuskan untuk masuk ekstra apa?”

“Ah.. ekstra? Aku belum mendapat pengumuman tentang itu sunbaenim.”

“Eeeyyy. Panggil aku oppa saja, itu akan lebih nyaman.” Aku mengangguk, lalu ia melanjutkan perkataannya “Jadi sekolah belum memberi pengumuman?” aku menggeleng “kalau begitu kau akan menjadi anak kelas 7 pertama yang mengetahui tentang ekstra.” Lalu ia bangkit dan menarikku mendekati papan tulis. “Aku akan menjelaskannya padamu.” Lalu ia mengambil spidol.

“Di sekolah ini ada 3 kelompok ekstra: olahraga, bahasa, dan seni. Kelompok olahraga terdiri dari 3 cabang; Taekwondo, basket dan juga futsal. Banyak dari murid popular di sekolah yang ikut kelompok olahraga. Kelompok bahasa juga terdiri dari 3 cabang; journalist, English club, dan juga mandarin club. Ini merupakan kelompok ekstra yang disukai banyak kutu buku dari sekolah ini. Kebanyakkan dari mereka bemata empat.” Aku mengrenyitkan dahi. “Maksudku berkaca mata.” Lalu ia tertawa, akupun tersenyum bersamanya. “Dan yang paling special dari yang lainnya. Kelompok seni, terdiri dari 5 cabang; music, modern dance, ballet, paduan suara dan theater. Aku adalah manager dari cabang music. Dan ini merupakan yang paling seru dari yang lainnya. Banyak anak kreatif yang masuk kelompok ini dan nilai akademis mereka tidak pernah di bawah rata rata.” Bangganya. “walau kecuali pada mata fisika.” Lalu aku tertawa.

“Hey hey hey, kau menertawakanku sekarang?” aku terus tertawa, dan iapun ikut tertawa. “Kalau kau tidak berhenti, kau akan kuhapus dari daftar ‘Nae Dongsaeng’ banyak orang yang mau masuk daftar itu!” ancamnya sambil terus tertawa. Dan aku hanya tersenyum. “Bagus!” lalu bell berbunyi. “Ayo masuk kelas!” ia membuka pintu dan menguncinya. “ Dan jangan lupa pilih cabang music!” Teriaknya sambil berlari kearah yang berlainan denganku.

 

SATU MINGGU KEMUDIAN

“Seperti yang kalian sudah tahu, aku manager dari cabang ekstra ini! Namaku Park JungSoo kelas 9C. Jadi di sini kalian tidak diajar oleh guru, melainkan olehku! Disini kalian akan belajar memainkan bermacam alat music, dan beberapa darikalian akan menjadi vocal dari band yang akan ku bentuk berdasarkan kemampuan kalian. Satu semester sekali, guru music akan datang dan menilai kalian semua. Ada pertanyaan?”

Semuanya diam kecuali Jessica dan ‘teman dekatnya’ yang baru.

“Kau!” Bentak Jungsoo oppa tiba tiba sambil menunjuk kearah Jessica. “Siapa namamu?! Dari awal kau hanya mengobrol dengan temanmu!”

“Apa oppa berbicara padaku?” ucap Jessica.

“Kau pikir siapa dirimu?! Sesuka hatimu memanggilku oppa. Memang kau siapa? Aku bertanya siapa namamu dan temanmu yang disebelahmu itu?!” Jungsoo oppa berteriak semakin kencang. Kurasa ia orang yang keras.

“Well, my name’s Jessica and she’s Tiffany.” Ujar Jessica cepat.

“Aku minta kau untuk memperkenalkan dirimu dengan baik!”

“Aku sudah melakukannya dengan benar. Ya kan?” ia bertanya pada Tiffany, yang hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Keluar kalian berdua.” Gumam Jungsoo oppa

“Pardon me?” kata Jessica serta Tiffany bersamaan.

“Aku bilang keluar. KELUAR!!! PERGI DARI KELAS INI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI! KAU PIKIR KAU YANG BERKUASA DI SINI! AKU GURUNYA DAN KALIAN HARUS MENDENGARKAN AKU! JADI CEPAT KELUAR!!!” teriak Jungsoo oppa sambil menunjuk kearah pintu. Ia benar benar menakutkan…

“Tapi oppa….” Jessica kembali memberikan alasan.

“KELUAR KUBILANG!!!” Tiffany pun langsung bangkit dan menarik Jessica untuk keluar bersamanya. Namun Jessica melepaskan tangan Tiffany.

“Lihat saja, cepat atau lambat aku akan kembali ke kelas ini!” ancam Jessica, lalu ia berjalan keluar dan membanting pintu sekuat tenaga.

“Apa ada yang ingin membuat masalah lagi di kelas ini?” semua terdiam “jika kalian ingin membuat masalah, carilah cabang ekstra lain.” Jungsoo oppa menghela nafas. “Baiklah ayo kita mulai pembagian…”

***

10 HARI KEMUDIAN

“Apa oppa masih marah padanya?” tanyaku sambil melihat kearah Jessica dan Tiffany yang ada di lapangan sebelah kantin tempat aku dan Jungsoo oppa duduk.

“Marah? Pada siapa?”

“Dia,” aku menengok kearah Jungsoo oppa “Jessica dan Tiffany.” Aku ucapkan kedua nama itu dengan berat. Jungsoo oppa tersenyum getir, lalu berkata

“Mereka akan masuk ke cabang music lagi. Hhh, itu akan sangat menyebalkan.”

“Apa? Mereka akan masuk lagi? Tapi bagaimana?”

“Mereka melapor pada kepala sekolah dan guru music, aku berdebat dengan mereka, tapi aku kalah. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak masuk cabang music. Dan aku rasa mereka akan memilih untuk masuk band.”

“Benarkah?” aku terkejut, karena di cabang ini hanya tinggal grupku saja yang kekurangan orang, mendapatkan Jessica dan Tiffany sekaligus benar-benar buruk.

“Kau kenapa? Menggelengkan kepalamu seperti itu. Apa ada yang salah?” Tanya Jungsoo oppa khawatir.

“Tidak, hanya saja bila mereka masuk band maka mereka akan masuk bandku kan?” Aku sudah bersusah payah menyanyikan lagu “Reflection” OST dari dongeng Mulan itu.

“Iya bisa dibilang begitu.” Jungsoo oppa menggigit tteok yang tadi ia beli. Aku menghela nafas dan memaksakan untuk tersenyum agar Jungsoo oppa tidak curiga dengan perubahan suasana hatiku.

“Apa ia yang mengganggumu pada hari itu?” Oppaku yang satu ini benar benar peka. Aku hanya mengangguk lemas. “Haahh, aku tidak heran maupun terkejut mendengar hal ini. Kenapa ya?” aku tidak menjawabnya “ Yah… tentu saja karena ia memang anak yang menyebalkan sejak awal. Hahaha.” Jungsoo oppa tertawa lepas. Aku senang melihatnya tertawa seperti itu. Aku tidak keberatan walaupun ia menertawaiku, yang terpenting adalah tawanya. Apa lagi senyumnya yang selalu mendatangkan ‘Dimple’ di pipinya itu.

3 BULAN KEMUDIAN

“Baiklah, sekarang sudah awal bulan November yang berarti ujian akhir semester 1 sudah semakin dekat bersamaan dengan ujian akhir kita di semester ini. Jadi mulai sekarang dan seterusnya dipertemuan kita, kalian akan berlatih dengan grup kalian masing masing untuk penampilan akhir kalian. Apa kalian mengerti?”

“Ne, sunbaenim!” ucap kami semua dengan semangat. Hahh akhir semester 1 akhirnya ada kemungkinan bagiku untuk pisah grup band dengan Jessica dan Tiffany. Aku benar benar tidak sabar, biar saja nilaiku lebih rendah dari Jessica yang penting aku terbebas darinya.

“Hey kau! Cepat kesini! Melamun saja kita harus latihan.” Bentak Jessica padaku. Dia semakin menyebalkan saja.

“Baiklah aku mengerti, kita akan menyanyikan lagu apa?” aku dan Jessicalah vocal dari grup ini.

“Bagaimana kalau kita menyanyikan lagu Westlife saja?” ujar JaeMin drummer kami. Dia penggemar berat Westlife. Dan yang paling menyenangkan, Jessica selalu menuruti kata JaeMin karena ia selalu kalah berdebat dengannya. Aku senang JaeMin berada di pihakku.

“Bagaimana dengan lagunya yang berjudul ‘I lay my love on you’?” usul Tiffany, dia memang lebih baik daripada Jessica, tapi ia selalu menuruti kata Jessica.

“Kurasa lebih baik jika kita menampilkan lagu ‘Flying without Wings’” tolak HaJung, sang guitarist.

“Iya, dengan begitu Tiffany bisa ikut menjadi acapela denganku dan Jessica kan? Bagaimana menurutmu Tiff?” aku setuju dengan HaJung.

“Oh tidak, lagu yang diusulkan Tiff lebih ba..”

“Aku setuju!”ucap Tiffany bersemangat. Whoa, pertamakalinya ia tidak menuruti kata kata Jessica. Tiffany, kau semakin berkembang saja. “Baiklah ayo mulai latihan!” ajak JaeMin bersemangat. Ia bisa memainkan semua lagu Westlife dengan drum. Aku mencari lirik dengan singkat melalui alat yang sudah tersedia disini. Kulihat Jessica sedang memarahi Tiffany, tapi ia tidak terlihat seperti sedang mendengarkan. Oh, dia berjalan kearahku.

“AeRi,” panggilnya “Apa kau punya lagu itu? Di handphonemu maksudku.”

“Ah.. A-aku punya. Memang ada apa Tiff?” ia benar benar aneh, mengapa tiba tiba menjadi sopan seperti ini?

“Ah… Aku ingin meminta lagunya untuk latihan sendiri di rumah nanti. Jujur aku belum pernah mendengar lagunya.” Ia tersenyum. Whoa aku benar benar takut sekarang.

“Apa kalian sudah memutuskan untuk menampilkan lagu apa?” Tanya JungSoo oppa yang baru saja masuk dengan buku kecilnya serta alat tulis?

“Iya, kami sudah memutuskan untuk menyanyikan lagu ‘Flying Without Wings’ milik Westlife.” Ucap JaeMin.

Dan mereka membicarakan hal lain, aku menghampiri Jessica untuk membagi part dengannya. Selanjutnya kami latihan, cukup lama. Mungkin terlalu lama, sekitar 2 setengah jam kami latihan tanpa mengingat waktu. Tiba tiba saja aku merasa pusing, dan lelah. Tapi Jessica tetap memaksa untuk melanjutkan latihan karena menurutnya Tiffany belum melakukan semuanya dengan baik. Aku merasa aku sudah tidak punya tenaga lagi, aku terjatuh.

“Hya!” teriak Jessica sambil menendang kakiku cukup kencang, ia mendengus “Kau benar benar pembuat masalah ya! Kau tidak sopan, pembuat masalah, tinggi hati, dan sekarang kau berpenyakit. Hah keterlaluan.” Cacian itu merupakan hal terakhir yang kudengar sebelum semuanya menjadi hitam. Gelap.

24 DESEMBER-nya

“Uri dongsaeng!” teriak JungSoo oppa yang sedang membawa bunga dari depan pintu.

“Oh! Oppa!” aku ikut berteriak sambil terbaring lemas di tempat tidur rumah sakit yang dingin ini. Sejak kejadian itu aku divonis terkena kanker otak oleh dokter. Dan yang paling menyedihkan hidupku hanya tinggal 15 tahun lagi. Bahkan orang tuaku akan pindah ke Amerika, mereka akan mengembangkan usaha bisnis mereka di Amerika agar dapat membayar biaya pengobatanku secara penuh dan aku bisa sembuh lagi. Tapi aku tidak bisa ikut mereka karena kondisi badanku yang tidak memungkinkan.

“Hey… Jangan terlalu bersedih. Aku masih mengunjungimu. Kau sendiri yang pernah bilang bahwa aku merupakan salah satu bagian dari keluargamu. Anggap saja aku ini oppamu.” Ia masih peka seperti biasa. Ia bisa membaca tiap perubahan suasana hatiku dengan cepat.

“Kudengar kau membentak seorang suster lagi hari ini?”

“Mereka selalu memaksaku makan obat dan aku benci itu. Aku tidak mau minum obat!” aku membuang mukaku.

“Hey, kau memang lebih pintar dariku tapi kau tidak lebih sopan dariku. Aku tidak mau jadi oppamu kalau begitu.” Ancamnya sambil menaruh bunga yang ia bawa kedalam vas. Aku kembali menengokan kepalaku kearah yang berlawanan dengannya.

“Terserah saja.” Tantangku. Ia selalu mengancamku. Aku tidak suka itu.

“Dan kalau kau tidak mau minum obat, aku tidak akan mengunjungimu lagi!” ancamnya lagi.

“Oppa!” kali ini aku melihat kearahnya.

“Apa? Aku tidak mau tertular olehmu.” Ucapnya dingin.

“Baiklah aku, aku akan minum obat.” Ucapku tanpa berpikir. JungSoo oppa tersenyum, akupun ikut tersenyum. “Tapi oppa janji akan selalu mengunjungiku?”

“Hhmm, kau berjanji dulu padaku bahwa kau akan selalu minum obat dan tidak akan membentak perawat lagi.”

“Aku janji. Kalau oppa?”

“Aku janji akan selalu mengunjungimu setiap hari sampai bulan Juni.” Ucapnya seraya duduk di sebelah ranjangku dan meraih tanganku.

“Bulan Juni? Hanya sampai bulan Juni?!” aku menarik tanganku.

“Iya, bulan Juni.” Ia kembali meraih tanganku.

“Kenapa?” tanyaku dengan suara bergetar. Aku merasakan air mata mengalir di pipiku. Aku tahu bulan Juni masih jauh tapi…

“Aku mendapat beasiswa untuk bersekolah di Amerika.” Ia menghapus air mataku. “Tapi aku punya berita bagus untukmu.” Ia menunggu reaksiku. “Baiklah, kau mendapat 100 di Ujian Fiska, Bahasa Inggris,Biologi, dan Matematika. Kalau tidak percaya lihat saja ini.” Ia memberikan setumpuk kertas ujian padaku. 12 lembar seperti biasa. Bukannya aku tidak senang untuk mendapatkan nilai 100 di ujianku, tapi aku benar benar tidak bisa senang sekarang.

“Bergembiralah sedikit. Ayah dan ibumu sudah mempekerjakan suster khusus untukmu. Perawat!” JungSoo oppa memanggil seseorang di depan pintu. Kurasa ia menguping sejak tadi.

“Anyeonghaseyo! Joneun Park JungAh imnida.” Ucapnya sambil membungkuk.

“Baiklah kau baik baik ya.. Ini buku yang berisi tentangku; biodata,nomor telepon, alamatku di Amerika nanti, alamat email, dan masih banyak lagi. Kau simpan baik baik, nanti kalau mau menghubungiku tinggal lihat saja buku ini. Arra?” aku mengangguk saja. Lalu oppa mengecup keningku dan pergi.

FLASHBACK END

“PARK JUNGSOO!” aku berteriak dan bangkit.

—Hyongha Pov—

“PARK JUNGSOO!” teriaknya tiba tiba. Apa apaan ini? Ia melamun selama satu jam dan meneriakkan nama Park JungSoo? Menggangguku menonton acara ini saja. Tapi ada apa dengan ekspresinya? Mengapa ia terlihat senang sekali? Apa Park JungSoo itu pacarnya? Dia punya pacar? Kalau benar bagaimana bisa ia melupakan pacarnya sendiri?

“Siapa itu Park JungSoo?” aku bertanya pelan.

“Iya! Aku harus mengirim surat padanya! HyongHa-ssi, aku pergi dulu ya! Anyeong!” ia melambaikan tangannya kearahku. Apa apaan ini? Ia bahkan belum menjawab pertanyaanku. Pasti Park JungSoo itu pacarnya. Hhh menyebalkan. Aku terus menatap kearah pintu tempat yeoja itu keluar tadi.

***

Kemana sebenarnya yeoja ini? Ia tidak datang ke depan kamarku pagi ini. Apa karena aku tidak membentak perawat lagi? Itu tidak mungkin. Aku menggelengkan kepala. Sudah kucari keseluruh penjuru rumah sakit dan ia tidak ada. Oh itu dia? Dia akan pergi kemana? Aku mengikutinya. Ia terlihat sedang mengirim surat. Aku berdiri di belakangnya..

“AeRi-ssi.” Panggilku, ia berbalik dan terlihat terkejut.

“OMO! Gapjagiya!(mengagetkanku)” teriaknya, “HyongHa-ssi, jangan lakukan itu lagi! Kau bisa membuatku jantungan bila seperti itu.”

“Kau punya penyakit jantung?” Tanyaku singkat. Ia menggeleng. “Lalu bagaimana bisa aku membuatmu jantungan? Aneh.. Um, kau belum menjawab pertanyaanku kemarin.”

“Pertanyaan apa?”

“Siapa itu Park JungSoo? Apa dia pacarmu?” Kalau ia benar benar pacarnya, maka tak ada harapan bagiku.

—AeRi Pov—

“Siapa itu Park JungSoo? Apa dia pacarmu?” pacar, pacar siapa? Aku melihat ada tatapan aneh dibalik pertanyaan itu. Jadi aku menceritakan semua yang kuingat kemarin.

“Ah.. Jadi ia sunbaemu sewaktu SMP dulu?” aku hanya mengangguk sambil menikmati jus apelku. “Aku dan ia selisih 2 tahun.” Aku menambahkan.

“Dua tahun? Memang sekarang berapa umurmu?” mengapa ia peduli dengan umurku?

“22 tahun.”

“Oh… Berarti, sunbaemu itu satu angkatan denganku. Dengan begitu, kau juga harus memanggilku oppa.” Aku tersedak. “Gwaenchana?” tanyanya khawatir.

“Mengapa aku harus memanggilmu oppa?!” tanyaku masih sedikit terengah.

“Yah, karena aku lebih tua darimu. AeRi-ah.” Ia meledekku.

“Aku belum bilang aku mau memanggilmu oppa! HyongHa oppa.” Aku mendecakkan lidah.

“Whoa, kau sudah memanggilku oppa barusan, uri dongsaeng.” Lalu kami tertawa bersama.

“Jadi surat tadi kau kirimkan untuknya?”

“Iya, seperti yang kuceritakan tadi ia memberiku satu buku penuh yang berisi hal-hal mengenainya. Aku juga sudah mengirim e-mail untuk berjaga jaga kalau ia tidak menerima suratku. Aku penasaran apa ia akan membalas suratku atau tidak?” ia tampak kecewa. Tapi untuk apa?

“AeRi-ah,” panggilnya pelan.

“Eung?”

“Maukah kau berjanji walau apapun yang terjadi, kita tidak akan menerima penyembuhan total untuk menyembuhkan penyakit kita?” ia menunggu jawabanku yang terkejut “Aku berjanji akan melakukannya, bagaimana denganmu?” ia mengulurkan jari kelingkingnya. Seperti yang pernah kulakukan bersama JungSoo oppa. Aku berpikir sejenak, hidupku memang sudah tidak banyak harapan lagi. 2 tahun 2 bulan. Kalau begitu baiklah. “Geurae, Geurokhae hajja.” (Baiklah, kita lakukan saja seperti itu) Lalu aku mengamit jari kelingkingnya dengan milikku, cap jempol dan foto copy. Persis seperti yang kulakukan bersama JungSoo oppa. Lalu kami tersenyum.

“Jadi, seberapa dekat kalian berdua?” Tanya HyongHa oppa dalam perjalanan mengantarku ke kamar. Hhh, aku masih merasa aneh untuk memanggilnya oppa.

“Yah… seperti adik kakak pada umumnya.” Aku menambahkan senyum diakhir kalimat.

“HyongHa-ah!” seseorang memanggilnya, “Disini!” teriaknya lagi karena HyongHa tidak menemukan asal suaranya.

“DongHae hyung!” teriaknya. DongHae? Bukankah itu nama doctor Lee yang selama ini mengurusku bersama Jung Ah eonnie?

“AeRi-ah,” panggil HyongHa oppa

“oh?!” ia membuyarkan lamunanku. “Oh?!” ucapku lagi setelah melihat bahwa itu benar Dokter Lee.

“AeRi-ah!” teriak dokter Lee juga setelah melihatku.

“Kalian saling kenal?” Tanya HyongHa bingung.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu.”

“Tidak, seharusnya aku.” Aku menyela perdebatan mereka. Lalu serentak kami bertiga tertawa bersama.

“Baiklah aku saja yang ,menjelaskan kalau begitu.” Dokter Lee tidak mau mengalah “HyongHa, AeRi ini adalah pasienku sejak aku mulai praktek kuliah, dan AeRi, HyongHa adalah temanku sejak SD, dia memang kurang sopankan? Ia juga seperti itu padaku jelas jelas aku lebih tua satu tahun darinya. Bagaimana kau bisa bertemu dengan namja kasar sepertinya?”

“Hyung!” HyongHa oppa tampaknya tidak setuju dengan perkataan dokter Lee. Ternyata itu sebabnya dokter Lee bisa mengenal HyongHa oppa begitu baik? Iya, aku memang mengetahui semua hal tentang HyongHa oppa dari dokter Lee. Sejak JungSoo oppa pergi ke Amerika, aku memang jarang sekali tersenyum. Mungkin itu sebabnya dokter Lee menyarankanku untuk melihat omelan HyongHa oppa setiap paginya.

“Jadi ia ke kamarmu setiap pagi hanya untuk melihatmu mengomel?!” dokter Lee terkejut, sedangkan yang ditanya hanya mengangguk. “Tapi kenapa?” ia berbalik menanyakanku.

“Apa maksudnya kenapa? Dokter sendiri yang menyuruhku ke sana pada awalnyakan?”

“Iya, tapi tidak setiap pagi juga. Ditambah ini sudah…” ia menghitung sejenak “7 tahun sejak awal aku menyarankanmu!”

“Jadi itu semua ulah hyung?!”

“Iya tentu saja, dari dokter Lee lah aku mengetahui semua hal mengenai dirimu.”

“Hyung!”

“Mianhae HyongHa-ah.”

“Tapi itu merupakan salah satu terapiku. 7 tahun yang lalu aku belum banyak tersenyum sebanyak sekarang. Oleh Karena itulah dokter Lee memberiku terapi ini.” Emosi HyongHa oppa langsung mereda begitu mendengar penjelasanku.

“Singkatnya pertemuan kalian karena aku?” dokter Lee masih belum bisa mengerti. Aku heran, mengapa sangat sulit baginya untuk menerima penjelasan orang?

“Ne…” jawabku dan HyongHa oppa bersamaan yang diikuti oleh senyum kami bertiga.

“Baiklah, kalau begitu aku kembali bekerja dulu. Sampai jumpa!” doter Lee melambaikan tangannya.

“Bagaimana menurutmu?”

“Apanya?”

“DongHae Hyung, apa menurutmu ia cukup baik?”

“Yah…. Ia terlihat baik, dan ia memang cukup baik.”

“Lalu menurutmu apa kekurangannya?”

“Um… Ia sulit mencerna perkataan orang dan sulit membaca suasana. Itulah kekurangannya menurutku.”

“Hhmm, begitu ya? Kalau ia menjadi pacarmu apa menurutmu ia cukup baik?”

“Mwoya?! Namjachingu? Jangnan hajimaseyo!*” jeritku sebagai refleks (*jangan bercanda)

HyongHa oppa hanya terkekeh “jawab saja, nanti akan kujelaskan.”

“Um… kurasa itu so-so? Nope, it’s great.”

“Jinnja?” aku menangguk.

“Memang kenapa?” aku kembali bertanya.

“Tidak, hanya saja ia menyukai noonaku. Dan kurasa noonaku juga begitu tapi kurasa ia tidak mau mengatakannya padaku karena malu.”

“Ah…. Oppa punya noona? Bukankah seluruh keluarga oppa meninggalkanmu begitu saja?”

“Ya, tapi tidak dengan noonaku. Ia ikut pergi bersamaku saat aku ditinggalkan. Karena itu kami tidak punya orang tua lagi sejak itu.”

“Ah.. Mian. Tapi mengapa kau menanyakan pendapatku?”

“Aku hanya ingin tahu pendapat wanita mengenai DongHae hyung.”

“Kalau begitu, menurutmu sendiri bagaimana?”

“Um… Yah, seperti katamu, ia tidak hanya terlihat baik namun juga sangat baik.”

“Apa yang membuatmu berpendapat seperti itu?”

“Tentu saja ia sangat baik, ia yang membayar separuh biaya rumah sakitku disini. Ia juga membantuku dan noonaku jika ada keperluan yang perlu dibeli. Ia selalu membuatku merasa berhutang budi, namun saat aku ingin membayar hutang itu ia tidak mau menerimanya dan berkata bahwa aku tidak perlu melakukannya.”

“Memang apa yang ingin oppa lakukan?”

“Yah, apapun yang bisa membantunya.”

“Apa contohnya?”

“Yah… Kalau noonaku dan DongHae hyung memang saling menyukai satu sama lain, aku bisa memberi mereka restu tanpa mempersulit mereka.”

“Ah…. Begitu? Tunggu, tadi oppa bilang kalau dokter Lee yang membayar separuh biaya rumah sakit oppa, memang orang tua oppa tidak membayarnya?”

“Untuk apa mereka melakukan hal itu? Sudahku bilang tadi, sejak aku ditinggalkan bersama noona, kami sudah tidak punya orang tua lagi.”

“Bagaimana oppa bisa yakin?”

“Yah.. Karena tidak ada orang misterius yang selalu datang membantu.”

“Bagaimana kalau dokter Lee adalah orang misterius itu?” aku benar benar menghujaninya dengan pertanyaan.

“Itu tidak mungkin.” Aku memberikan pandangan ‘kenapa?’ secara refleks “Karena orang tua ku meninggal satu minggu setelah meninggalkanku dan noona. Mereka meninggal karena kecelakaan mobil.”

“Ah.. Begitu. Mian.”

“Gwaenchana. Lebih baik kau cepat masuk sebelum kau diomeli oleh JungAh itu.” Ia melirik ke belakangku memastikan bahwa JungAh eonnie tidak ada.

“Baiklah, sampai jumpa.” Lalu aku menutup pintu kamar.

—HyongHa Pov—

Sudah satu bulan sejak AeRi mengirim surat pada Park JungSoo, namun menurut perkataan AeRi ia masih belum menjawabnya sampai sekarang. Ditambah malam ini berarti sudah malam ke-32 sejak AeRi mengirim surat. Seperti biasa, aku hendak mengantarnya ke kamarnya, namun aku merasa ada yang aneh hari ini. Entahlah mungkin perasaanku saja.

“AeRi-ah!” itu suara JungAh, apa apaan ini? Mengapa ia membawa tas besar dan koper?! Apa mungkin?

“Eonnie, ada apa? Mengapa membawa tas koperku?” Apa?! Tas kopernya?! Ini… apa benar?!

“AeRi-ah, ayo kita pergi.”

“Pergi? Tapi kemana?”

“Amerika.”

“Amerika?!” ucapku terkejut bersamaan dengan AeRi.

“Tapi kenapa Amerika?” AeRi terlihat bingung.

“Karena appa bilang aku sudah harus menjemputmu.”

“Appa?! Eonnie kenal appa-ku?”

“Um.. Itu, tentu saja akukan perawat pribadimu.”

“Tapi kenapa eonnie memanggil appaku ‘appa’ juga?”

“Uh… Itu…”

“Apa mungkin?” akhirnya aku bisa berbicara.

“Aish! Aku tidak seharusnya memberitahumu sekarang tapi ini sangat mendesak. Aku adalah noona dari Park JungSoo, oppamu waktu SMP dulu, dan Park JungSoo adalah saudara tirimu. Itu sebabnya margamu Gu bukan Park karena appa tidak mau menyamakanmu denganku maupun JungSoo. Sekarang ikut aku!” apa-apaan ini?!

“Shireo! Na eonnie Miwohae! Eonnie gago sippeumyon, honjaga!” AeRi meledak ledak (Tidak mau! Aku benci Eonnie! Kalau mau pergi, pergi saja sendiri!)

“Kau berani melawan?!” JungAh mencengkram kedua bahu dan tangan AeRi “Ayo ikut!”

“Shireo!!” AeRi terus memberontak.

“JungAh-ssi, jangan lakukan itu.” Aku berusaha melepaskan cengkraman itu, namun JungAh malah berbalik dan memukulku. “Lepaskan dia!” aku berteriak. Tak lama kemudian AeRi pingsan karena kehabisan tenaga. JungAh langsung menggendongnya dan masuk kedalam taksi, aku terus mengejar sampai…

“HyongHa-ah,” seseorang menahanku “Jangan lakukan itu. Itu urusan keluarga mereka tidak seharusnya kau ikut campur. Biarkan saja.” DongHae hyung menenangkanku.

“Tapi…”

“Sudah jangan membantah lagi. AeRi pasti akan senang bertemu dengan keluarganya serta Park JungSoo itu lagi.” Aku mendesah lalu mengikuti DongHae hyung masuk ke rumah sakit.

SATU TAHUN KEMUDIAN

“Ayolah, JongJin… minum obatmu nanti kau bisa cepat sembuh dan kembali bermain dengan teman temanmu. Bagaimana? Ayo minumlah…” ini sudah keseratus empat puluh tiga kali sejak aku pertama membujuknya. Membosankan….Tapi… ini permintaan DongHae hyung. Bagaimana bisa aku menolak permintaan orang yang telah membayar biaya rumah sakitku serta pacar noonaku?! Begitu aku menolaknya, noona pasti akan ceramah padaku.
‘Apa kau lupa?! Ia yang sudah membantumu selama ini! Kalau bukan karena dia, kita tidak akan hidup dan berada disini sekarang! Kalaupun kita masih hidup,mungkin kita akan hidup dijalanan!’ kurasa itu hal yang akan dikatakan noonaku.

“HyongHa oppa..” seseorang menarik lengan bajuku.

“Ada apa HyeRi-ah?” aku membungkuk agar ia tidak perlu mendongakkan kepala terlalu tinggi.

“Apa JongJin oppa akan sembuh? Aku ingin segera bermain dengannya.”

“Selama ia mau minum obat, ia akan sembuh. Lagi pula sakitnya tidak terlalu parah, jadi ayo bujuk oppamu ini agar mau minum obat.”

“Oppa ayo minum obat, aku mau main bersama oppa.” HyeRi mulai memaksa JongJin untuk minum obat.

“HyongHa –ssi, gamsahamnida.” Ucap ibu JongJin padaku

“Eyy, tidak perlu berterima kasih seperti itu. Aku hanya ingin membantu. Jujur aku dulu seperti JongJin sekarang,”

“HyongHa-ah!” panggil DongHae hyung dari depan pintu.

“Oh, mohon tunggu sebentar. Pastikan JongJin sudah minum obatnya ya…” aku berlari keluar kamar rawat JongJin. “Ada apa hyung?”

“Ada yang harus kubicarakan padamu. Ayo ke kantorku saja.” Ada apa ini? Tidak biasanya ia mengundangku ke kantornya..

“HyongHa-ah, aku mendapat informasi bahwa ada satu hal yang bisa membuatmu sembuh total dari penyakitmu itu. Aku sudah membicarakannya dengan noonamu, kalau kau mau aku bisa mendaftarkanmu. Kesempatan sembuh ada sekitar 45%, jadi noonamu setuju kalau kau ikut penyembuhan ini.”

“Tapi…”

“Kalau masalah biaya, aku akan menanggung ¾ bagian.” Ia menjelaskan dengan senyum. Aku bingung dengan hyung yang satu ini. Biaya pengobatan itu pastilah tidak murah, tapi ia masih ingin membayarnya. Ia sudah terlalu banyak membantuku. Pertama ia memohon pada orangtuanya agar mau membayar sekolahku bersama noona serta tinggal dengan mereka, kedua ia mau membiayai hidupku dengan noona, ketiga ia mau membayar biaya rumah sakitku dan sekarang ia mau membayar biaya pengobatanku?! Apa ia pikir aku akan setuju begitu saja?!

“Tapi hyung, hyung tidak perlu melakukan itu. Hyung sudah terlalu banyak membantuku. Aku tidak ingin hyung semakin menderita karenaku. Intinya aku tidak setuju!”

“Justru aku melakukan ini untukmu. Apa kau tidak mau sembuh seperti orang lain sembuh? Apa kau lupa apa kata AeRi soal rumah sakit? Ribuan orang sembuh disini, jadi itu pilihanmu, kau mau membuat rumah sakit itu menjadi tempat yang menyenangkan atau mengerikan.” Hh mengapa hyung itu harus menyebut namanya? Susah payah aku tidak memikirkannya lagi, tapi ia menggagalkan usahaku begitu saja?!

“Tapi tetap saja hyung…”

“Apa tidak terpikir olehmu, bahwa dengan melakukan pengobatan itu berarti aku akan berhenti membayar biaya tagihan rumah sakitmu?” aku berpikir sejenak. Mungkin yang hyung itu katakan itu benar, tapi bagaimana dengan janji itu?

“Hyung, berikan aku waktu berpikir dulu.”

“Baiklah.” Aku sudah berada di depan pintu saat ia memanggilku lagi.

“Ada apa hyung?”

“Kalau kau masih memikirkan AeRi… ah tidak, lupakan saja.” Itu yang ia katakan, namun saat aku hendak menutup pintu ia memanggilku lagi. “Apa kau masih sering membuka e-mail mu?”

“Tidak juga.”

“Kalau begitu bukalah lebih sering! Kau bisa kembali ke kamarmu.” Apa apaan ini? Mengapa ia menyuruhku membuka e-mailku? Lebih baik aku periksa saja. Aku berlari ke kamar, membuka laci dimana aku menyimpan laptop hadiah dari noonaku saat ulang tahun entah yang keberapa. Hhmm, seperinya tidak ada yang penting… Oh? Apa ini? Gu AeRi? Oh ia mengirimkanku e-mail?

HyongHa oppa, mian aku pergi tanpa pamit dulu dan baru mengirim e-mail sekarang. Tapi tahun lalu aku benar benar sangat sibuk. Orang tuaku sudah menemukan cara untuk menyembuhkanku dan sekarang aku sudah sembuh. Aku juga sudah bertemu JungSoo oppa yang ternyata juga oppa-ku. Kudengar ia sebenarnya sudah tahu dari awal, ah tidak, sejak sebelum pertemuan pertama ekstraku di sekolah itu. Awalnya ia juga terkejut. Oppa, mian aku tidak menepati janji kita, tapi aku punya ide yang lebih bagus, bagaimana kalau kita ubah janji kita agar saling berusaha mencari cara untuk sembuh. Bagaimana oppa setuju tidak? Setuju saja ya.. kalau oppa sudah putuskan tolong balas e-mailku ini. Arraseo?!

PS:Aku dapat alamat e-mailmu dari dokter Lee. Jangan marah, hehe 😛

Hhh, apa apaan ini? Ia tidak menepati janji. Hh menyebalkan, bahkan ia mau mengubahnya begitu saja. Hhh apa yang harus kulakukan sebenarnya? Kebetulan sekali dengan tawaran DongHae hyung. Hhh aku masih ingin bertemu dengannya, apa lagi dengan keadaan sehat. Mungkin sebaiknya aku menerima tawaran DongHae hyung.

Baiklah, kita ubah saja seperti itu. Kebetulan DongHae hyung baru menawarkanku cara pengobatan yang kemungkinannya 45%. Tunggu aku… Arraseo?!

Aku sudah membalas e-mailnya, baiklah saatnya lapor pada DongHae hyung.

DUA TAHUN KEMUDIAN

“HyongHa, apa kau sudah selesai berkemas?” Tanya noonaku dari depan. Hhh senangnya bisa keluar dari tempat ini. “HyongHa-ah!” noonaku berteriak. Kami memang sedang terburu buru, noonaku akan menyiapkan pernikahannya yang akan terlaksana tiga bulan lagi. Iya, dengan DongHae hyung, kenapa apa tidak senang? DongHae hyung memang tampan, tapi tidak setampan aku.

“Tunggu sebentar noona aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu..”

“Hya! Ayo cepat.”

“Gwaenchana EunSeo-ah, ia punya banyak kenangan disini. 15 tahun sudah ia ada disini. Pergilah HyongHa, hyung akan mengangkut barangmu dulu.” DongHae hyung membawa semua tasku sekali angkut.

“Tunggu hyung, tidak dengan tas laptopku. Jangan dibawa dulu, sini berikan padaku.” DongHae hyung memberikannya dengan senyum, tapi noonaku malah melotot

“EunSeo-ah,” DongHae hyung memanggil noona “gajja.” Lalu mereka pergi kebawah terlebih dahulu. Aku pergi ke loteng untuk mengenang memori bersama AeRi dulu. Benar, e-mail.

Chukkahae oppa! Oppa sudah sembuh sekarang, bagaimana perasaan oppa? Apa? Dokter Lee akan menikah?! Apa aku tidak mendapat undangan? Hehe. Oppa bagaimana kalau kita bertemu hari ini? Iya hari ini, 23 Agustus, bagaimana? Haaha tenang saja aku ada di Korea. Sejak kapan?! Sejak minggu lalu, apa aku jahat tidak memberitahumu terlebih dahulu? Oleh sebab itu, ayo bertemu. Jam tiga sore di Café Y, okay? I’ll wait.

Hh, aku bisa bertemu dengannya hari ini? Itu bagus, jam berapa sekarang? Oh jam setengah tiga. Aku harus cepat. Aku berlari kebawah sambil memberi salam pada setiap perawat yang lewat. Mereka terlihat terkejut. Sudahlah.

“DongHae hyung!” teriakku dari dalam lobby “Aku pergi dulu! Hyung pergi saja terlebih dahulu!” lalu langsung berlari kearah halte bus. Aku mendengar noonaku meneriaki aku lagi, lupakan saja. AeRi lebih penting sekarang dibandingkan dengan pernikahan noonaku. Walau aku belum terlalu kenal Seoul, tapi aku sudah tahu mengenai bus bus ini. Hhh, aku benar benar tidak sabar.

Baiklah, ayo bertemu. Aku sudah dalam perjalanan sekarang. Jangan telat!

Aku duduk santai di bus, menunggu halte tempatku harus turun. Ini benar benar menyenangkan. Aku turun pada halte nomor 203-8. Hh Y café ini akan sangat menyenangkan. Aku masuk dan pergi ke cashier untuk memesan.

“Satu hot cappuccino, dan satu Americano.” Ucapku pada sang cashier.

“Baiklah mohon tunggu sebentar.” Ucap cashier yang bernama HyukJae itu, lalu ia menyuruh seorang gadis untuk membuat pesananku. Ia terlihat seperti seseorang.

“Semuanya 9000 won.” Hh aku baru dapat uang dari DongHae hyung, memang pada awalnya ia menyuruhku berkeliling Seoul.

“Ini.” Aku membayar dengan uang pas. Lalu ia memberikan pesananku. Aku duduk di dekat jendela agar bisa melihatnya datang. Tapi setengah jam sudah aku menunggu tapi ia masih belum sampai. Satu jam lagi aku sudah menunggu, ini sudah hampir gelap. Pasti noona akan marah nantinya. Bahkan hot cappuccino itu sudah tidak lagi panas. Kurasa panasnya pindah padaku sekarang.

“Permisi, apa kau Kim HyongHa?” Tanya seorang laki laki. Oh, kurasa aku mengenal wajahnya. Ia yang duduk di halte bus sedari tadi, dan sekarang ia menemuiku?

“Ne, benar saya Kim HyongHa, tapi siapa anda?”

“Saya Park JungSoo.” Mwo?! Park JungSoo?! Tapi kenapa? “AeRi yang menyuruhku datang kesini.” Ucapnya sekali lagi. “Ia bercerita banyak mengenaimu.” Ia tersenyum “Terima kasih kau sudah membuat AeRi tersenyum selama aku tidak ada.”

“Tunggu, tadi kau bilang AeRi yang menyuruhmu kesini?” ia hanya mengangguk. “Tapi kenapa tidak ia saja yang datang? Tadi ia bilang padaku bahwa ia ingin bertemu. Aku sudah datang tapi ia telat satu setengah jam dan masih belum sampai sekarang. Apa ia sibuk? Kalau begitu seharusnya lain kali saja bertemunya. Aku punya banyak waktu kalau ia sibuk.”

“Bukan begitu, ia tidak sibuk, tidak sama sekali.”

“Lalu mengapa ia belum datang sampai sekarang? Apa karena macet?”

“Itu juga bukan karena macet.”

“Lalu kenapa?! Beritahu aku cepat!” emosiku mulai naik.

“AeRi…. Dia..” ia menghela nafas. Ada apa sebenarnya?! “Ia sudah meninggal tiga tahun lalu” ucapnya pelan namun terdengar jelas. Apa maksudnya?

“APA MAKSUDMU?!” Aku bangkit dengan emosi meluap luap. Itu tidak mungkin, sangat tidak mungkin. “APA KAU PIKIR AKU AKAN MEMPERCAYAINYA BEGITU SAJA?! KALAU BENAR IA SUDAH MENINGGAL, LALU SIAPA YANG SELAMA INI MENGIRIMKAN E-MAIL PADAKU!!” Aku berteriak hingga semua orang melihat kearahku.

“Tenang dulu, kumohon tenang dulu.” Aku bisa melihat genangan air mata di matanya, lalu aku sadar bahwa bukan aku saja yang sedih dengan berita itu. “Aku tahu ini sangat berat tapi..” ia mengusap air matanya yang jatuh. Tanpa kusadari aku sudah mulai menangis. “Itu yang AeRi mau, jadi… itu permintaan terakhirnya untukku. Sebenarnya aku ingin memberitahumu sejak awal, benar seperti itu. Tapi AeRi melarangku, ia takut kalau kau mengetahui berita ini kau akan melakukan hal buruk. Jadi aku tidak tega untuk tidak melakukan permintaannya itu. Dan..” ia mengeruarkan amplop dari sakunya “Ia juga menitipkan ini padaku. Kurasa hanya itu yang perlu kulakuan berdasarkan permintaan AeRi, jadi aku pergi dulu.” Lalu ia membungkuk tanda berpamitan dan pergi. Aku membuka amplop itu, surat, isinya adalah surat. Lagi lagi surat. Aku muak dengan surat, aku tidak ingin ia mengatakan sesuatu dengan surat, aku ingin ia berbicara secara langsung bukan seperti ini. Aku melempar surat itu ke meja. Tapi, apa katanya jika aku tidak membuka surat itu? Aku menarik kembali surat itu dan membukanya,

Oppa anyeong!

Bagaimana makanmu disana? Apa enak? Pasti lebih enak daripada saat sakit, kau tidak perlu merasa mual saat makan, atau bahkan merasa sangat lemas bahkan setelah bangun tidur. Apa yang oppa pesan tadi? Americano? Pasti oppa sudah memesankan hot cappuccino juga untukku. Maaf, aku tidak bisa datang. Aku ada urusan ditempat lain. Oppa tidak perlu mengunjungiku, atau menjemputku, juga jangan menungguku, karena aku tidak akan kembali. Mian aku telah membohongi oppa, tapi itu kulakuakan untuk oppa. Ah iya, oppa tidak suka bila orang berkorban demi oppa. Kalau begitu, aku melakukan ini demi diriku, aku ingin melihat oppa hidup sehat dan bahagia tanpa obat yang selalu menunggu, tanpa rasa sakit yang selalu menghantui.
Dan, semua e-mail itu, JungSoo oppa yang mengirimkannya. Bagaimana? Bahasanya miripkan dengan gaya bicaraku? Hah.. aku senang bisa bertemu dengannya lagi. Dan kujamin pasti tadi oppa membentak JungSoo oppa kan? Oppa harus minta maaf pada JungSoo oppa, bagaimana pun ia oppaku. Hehe, bukannya aku membelanya, tapi tolong perbaiki gaya bicaramu, atau kalau tidak, tidak akan ada wanita yang mau hidup bersama oppa. Satu hal lagi yang ingin kusampaikan. Terima kasih sudah membuatku tersenyum saat JungSoo oppa tidak ada, terima kasih untuk waktumu, dan Joahae. Joaharago. Hehe, 😀

Sekian saja ya, Anyeong
With Love,

Gu AeRi.

PS: Bisa bantu aku pilih? Aku masih bingung untuk memilih antara Gu AeRi atau menggantinya dengan Park AeRi? Kalau oppa sudah memilih, tolong beritahu JungSoo oppa untuk menggunakan nama itu saja. Arraseo?! 😛

Hhh, ini benar benar. “Tentu saja aku lebih memilih Gu AeRi, karena ia adalah yeoja ceria yang kukenal. Aku tidak kenal Park AeRi. Stay with your name Gu AeRi.” Ucapku pelan sambil meneteskan air mata.

“Ini kuenya.” Ucap salah satu pelayan wanita.

“Tapi aku tidak memesan ku…e” aku terkejut melihat pelayan itu. Rambutnya, hidungnya, matanya, bahkan bibirnya benar benar mirip AeRi, Gu AeRi. Aku melihat nametag yang tergantung di seragamnya, MinAh, Seo MinAh. Itu namanya. AeRi-ah bagaimana bisa ia terlihat mirip denganmu? Apa yang harus kulakukan AeRi-ah?

—THE END—

Advertisements

6 thoughts on “Last Sacrificial

  1. another death,aigoo…awal baca udah mikir,endingnya kematian.pertengahanbrubah karena “katanya” bisa sembuh,akhirnya beda dari ff sebelumnya (yang udah q baca). bener2 akhir,ternyata mati juga. ha… jangan2 jung ini terobsesi sama kematian??agak serem sih,tapi mending dituangin lewat tulisan gini daripada dipraktekin beneran. he…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s