Meeting

Meeting

Akhirnya! Yes! Yes! Yes! Akhirnya, aku bisa bertemu KyuHyun lagi! Akh!!! Sudah berapa tahun ini? Ah ya, 2 tahun, atau bahkan lebih… Aku tidak sabar. Lebih baik kupastikan dulu..

Group chat:

Lee JungAh: Jadi, besok kalian pergi kan?

Cho KyuHyun:Tergantung.

Lee JungAh: Tergantung apa lagi?

Cho KyuHyun: Apa aku satu satunya namja disana? Kalau iya, aku tidak mau!

Lee JungAh: Ayolah Kyu… Kapan lagi akan ada kesempatan seperti ini?

Kim MiYeon: Iya, apa yang dikatakan JungAh benar…

Lee SungMin: Aku tidak bisa pergi, aku ada urusan di rumah.

Cho KyuHyun: Lihat? SungMin tidak mau pergi, maka aku tidak akan pergi.

Lee JungAh: Tapikan masih ada Henry. Henry, kau ikut tidak?

Henry: -_-

Kim MiYeon: Apa maksud mu?

Henry: Ya, ya aku pergi…

Lee JungAh: Lihat?! Yak, Cho KyuHyun, Henry ikut, berarti kau bukan satu satunya namja disana besok. Bagaimana?

Cho KyuHyun: Baiklah, besok aku datang.

Yes! Aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Akhirnya Henry mengatakan iya. Berarti aku akan bertemu KyuHyun. Hahh… Aku merebahkan diriku diranjang. Aku tidak sabar menunggu besok… Rasa mengantuk mulai mengelilingiku, dan tak butuh waktu lama bagiku untuk terlelap….

FLASHBACK

“Ya! Bagaimana cara mengerjakan soal ini?” tanyaku.

“Itu mudah, kau hanya tinggal mengalikan ini dengan ini, lalu kau bagi dengan ini dan dipangkatkan dua.” KyuHyun mencoret coret bukuku.

“Ah…” Aku menggangguk dengan pensil menempel setia di daguku.

“Bagaimana dengan yang ini?” Tanya Shella, sekali lagi KyuHyun menjelaskan kepadanya. Kami sedang mengerjakan PR fisika kami bersama. Aku, MiYeon, Shella, Henry dan SungMin. Mungkin ini gila tapi menurutku ini seperti triple date. MiYeon dengan SungMin, Shella dengan Henry, dan aku dengan KyuHyun. Sebenarnya, aku menyukai KyuHyun. Ini tahun keduaku satu kelas dengannya. Kalau SungMin dan Miyeon, itu sudah jadi fakta bahwa SungMin menyukai Miyeon. Dan sisanya… Bukannya aku bermaksud jahat, tapi aku hanya ingin bersama KyuHyun, itu saja…

“KyuHyun-ah, bagaimana dengan yang ini?” tanyaku lagi. Sebenarnya, aku tidak sebodoh itu untuk terus bertanya pada KyuHyun. Malah sebaliknya, aku berada di tingkat yang sama dengan KyuHyun. Ranking kami hanya berjarak 1 angka, walau memang KyuHyun yang berada diatasku, tapi… untuk soal semudah ini, aku tidak memerlukan bantuannya. Sama sekali. Namun, KyuHyun berlaku seperti tidak mendengar apa-apa dan tetap mengajari Shella dengan sesekali tersenyum padanya. ‘Apa mencari perhatian dengan cara ini sudah terlalu basi?’ Batinku sesaat. Tiba tiba saja Henry berada di sebelahku dan mulai menerangkan soal itu.

“Yang ini kan? Lee JungAh, apa kau benar benar tidak bisa mengerjakannya?” tawanya mengejek.

‘Tentu saja bisa bodoh!’ batinku. Namun pada kenyataannya, aku hanya memberikan cengiran yang ku polos-poloskan. Dan Henry mulai mengajariku.

FLASHBACK END

***

Aku mengerjab-ngerjabkan mataku sesaat. Rasanya malas sekali untuk bangun. Aku mau tidur lagi… aku membalikan tubuhku. Lalu aku tersadar dan langsung melompat bangun. Hari ini! Aku akan bertemu KyuHyun hari ini! Aku segera mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi.

FLASHBACK

“MiYeon-ah, saengil chukahae!” seruku seraya melambaikan kadonya.

“Gomawo JungAh-ah..” sahut MiYeon lalu mempersilahkanku duduk. Hari ini MiYeon mengadakan traktiran untuk ulang tahunnya. Lagi-lagi hanya kami berenam serta keluarga MiYeon yang datang di meja terpisah.

“KyuHyun-ah, ini lucukan? Hah.. aku sangat ingin membeli ini…” aku menatap tajam pada Shella yang sudah mengambil duduk nyaman di sebelah KyuHyun. Sedangkan aku, aku berada diujung yang berbeda dengan KyuHyun. Bahkan untuk menatapnya saja sulit. Satu-satunya tempat yang disisakan bagiku adalah tempat di sebelah Henry. Apa bahkan aku tidak bisa menatapnya, berdekatan dengannya kali ini saja? Kali ini yang mungkin menjadi kali terakhirku bertemu dengannya? Aku menghela nafas panjang.

“Mwohae?” Tanya Henry, “Mogobwa…”(makanlah) ucapnya seraya menaruh sepotong pizza ke piringku. Aku hanya tersenyum sebagai tanda terimakasih. Setelahnya aku makan dalam diam, dengan segala pikiran yang berkecamuk di otakku. Aku terus sibuk dengan pikiranku dan mengisi petutku dengan enggan. Hingga Henry menyikutku pelan yang membuatku tersadar. Aku menatap Henry bingung seperti mengatakan ‘apa’ lalu Henry memutar bola matanya seperti mengatakan ‘Lihatlah sekitarmu!’ maka akupun mengedarkan pandanganku ke seluruh meja. Mereka semua sedang menatapku bahkan Shella yang sedang sibuk bergelayut manja di tangan KyuHyun yang membuatku geram. Namun aku semakin kesal saat melihat KyuHyun menjadi satu-satunya orang yang tidak menatapku. Baiklah keputusanku sudah bulat.

“JungAh-ah, wae geurae? Museuniliisseo?” (Kenapa begitu? Apa ada sesuatu?) Tanya MiYeon

“Anya, geunyang…” aku melirik KyuHyun sebentar, ia masih sibuk dengan makanannya, “Aku akan pindah sekolah.” Lanjutku.

“Mwo? Geundae, bulan depan kitakan sudah kelas tiga.” Ucap MiYeon.

“Iya, aku akan pindah sekolah untuk kelas tigaku nanti. Mian memberitahumu telat begini…” ucapku terdunduk.

“Arraseo, gwaencana. Sekarang lebih baik kita ambil foto saja, eotthae?” ajak MiYeon yang kubalas dengan anggukan kecil. Lalu kami mengambil foto bersama, aku, MiYeon juga Shella.

FLASHBACK END

Aku segera memilih pakaian yang sekiranya bagus. Berdandan sedikit, yang bahkan belum pernah kulakukan sebelumnya, menggunakan parfum, sekali lagi pertama kalinya, kecuali saat acara pernikahan atau pesta besar lainnya tentu, dan menguncir rambutku serapi-rapinya. Dan aku mulai berlari kecil keluar rumah.

“Aku berangkat!” pamitku seraya terus berlari.

***

Disinilah aku, di depan Moist restaurant, tempat janjianku dengan teman-teman lamaku. Aku menarik nafas panjang lalu memasuki restaurant itu. Mencari tempat duduk yang sekiranya pas dengan jumlah kami, 4 orang. Shella sudah tidak bisa dihubungi lagi, sedangkan SungMin, ia tidak mau ikut dengan alasan yang ia buat. Menurutku itu hanya gengsi belaka sejak ia putus dengan MiYeon Desember lalu. Aku melirik jam di handphoneku. Pukul 12, jam yang kujanjikan dengan MiYeon. Tak berselang lama, MiYeon datang. Kami segera berpelukan melepas rindu setelah 2 tahun tidak bertemu. Memesan makanan, lalu berbincang tentang kehidupan kami selama 2 tahun belakangan.

“Ayo kita ambil foto bersama sebelum kedua pria itu datang” ajak MiYeon yang kusetujui begitu saja. Aku masih merasa begitu excited. Bagaimana tidak? Aku akan bertemu dengan first loveku setelah 2 tahun tidak bertatap muka. Ditambah lagi aku yang masih kesulitan move on darinya. Ah, Lee JungAh pabo, mengapa jadi memikirkan hal itu? Akupun segera berpose dan mengambil beberapa foto bersama MiYeon. Pukul 2, jam yang Henry serta KyuHyun janjikan. Aku memeriksa Handphoneku untuk melihat kabar dari mereka, namun sebelum aku berhasil membukanya, MiYeon menyampaikannya terlebih dahulu.

“KyuHyun, tidak datang. Ia bilang, ia akan menunggu hingga SungMin bisa.” Jelas MiYeon. Aku hanya menghela nafas kasar. Aku tahu akan berakhir seperti ini. Maka MiYeon segera pulang. Namun tidak denganku, aku pegi ke kedai tteokpokki disekitar restoran tadi.

Group chat:

Henry: berarti, kita tidak jadi brtemu?

MiYeon: kami sudah pulang, mau diapakan lagi?

Cho KyuHyun: bagaimana dengan minggu depan?

Henry: Minggu depan aku tidak bisa, aku akan pergi keluar kota dengan keluargaku minggu depan.

Lee SungMin: Aku mungkin minggu depan bisa. Kenapa kalian tidak mengajak pergi minggu lalu saat jadwalku belum padat?

Lee JungAh: aku sudah mengajak kalian minggu lalu, tapi kau bilang kau sibuk.

Lee SungMin: yah.. lihat saja minggu depan, kurasa bisa,

Lee JungAh: kau juga mengatakan hal yang sama minggu lalu

Lee SungMin: Bisa jadi, bisa juga tidak.

Lee JungAh: Pada akhirnya tidak jadi, maka KyuHyun tidak mau pergi, dan akhirnya batal seperti hari ini. Happy? are you? now?

Lee SungMn: Kau marah? Aku juga bisa marah! Kalau memang tidak bisa aku harus apa?

Lee SungMin left the chat

Henry: -_-

Aku menghentakkan kakiku kencang dan segera berjalan ke halte bus terdekat. Aku ingin cepat sampai rumah. Tiba tiba saja seorang ahjussi merebut handphoneku dan membawanya lari.

“Ahjussi! Handphoneku!” jeritku. “Tolong! Handphoneku!” Aku terus berteriak dan mengejar ahjussi itu. Tiba-tiba saja aku mendengar suara klakson yang memekakan telinga, lalu semuanya menjadi gelap.

***

Author POV

Terlihat seorang wanita berumur setengah abad berlari secepat yang ia bisa.

“JungAh-ah! JungAh-ah!” teriak wanita itu.

“Omonim…” sapa MiYeon tertunduk.

“Eoh MiYeon-ah, JungAh-ga eoddiseo?” Tanya wanita itu panik.

“Ia sedang dirawat oleh dokter.” Jelas MiYeon yang membuat Ny.Lee hampir jatuh terduduk yang dengan sigap MiYeon sanggah. “Hya! Kalian laki-laki tapi tidak mau membantuku?” desis MiYeon.

Henry, KyuHyun, bahkan SungMin ada di rumah sakit itu sekarang. MiYeon yang pertama kali mendengar ada kecelakaan di komplek rumahnya, ia mendengar kabar bahwa itu JungAh. Maka ia segera menghubungi Henry serta SungMin yang berada di perumahan yang sama dengannya. Tak lama setelah MiYeon memastikan bahwa korban tersebut adalah JungAh, Henry dan SungMin datang beserta dengan KyuHyun. MiYeon juga segera menghubungi ibu JungAh. Ibu JungAh yang sedang bekerja pun segera menuju rumah sakit itu, dan baru sampai satu setengah jam kemudian.

Setelah membantu ibu JungAh duduk di kursi SungMin pergi untuk membelikan minuman bagi ibu JungAh, dengan perintah MiYeon tentunya. Henry terus berjalan mondar mandir sambil melipat tangannya, MiYeon berusaha menenangkan ibu JungAh, sedangkan KyuHyun, ia hanya duduk terdiam tanpa sepatah kata. Tiba-tiba saja Henry berhenti di depan KyuHyun.

“Neo!” Henry menunjuk KyuHyun, yang ditunjuk tetap tidak bergeming, “Lupakan!” Henry mengibaskan tangannya dan kembali berjalan. SungMin kembali dan memberikan air mineral pada ibu JungAh. Setengah jam telah berlalu, namun dokter belum kunjung keluar. Barulah setengah jam kemudian sang dokter keluar dari ruang operasi. Semua orang langsung berdiri mengelilingi sang dokter.

“Sonsaengnim, bagaimana keadaan putri saya?” Tanya ibu JungAh panik.

“Jweisonghajiman,” sang dokter menghela nafas berat, “saya tidak bisa menyelamatkan korban.” Lanjutnya tertunduk. Ibu JungAh langsung jatuh terduduk yang berusaha MiYeon tangkap.

“Ani! Putriku adalah orang yang kuat. Ia pasti bisa bertahan, bukan begitu?” ibu JungAh mengguncang kaki dokter itu.

“Jweisonghamnida.” Ucap dokter tersebut, “Korban mengalami mendarahan parah. Bahkan setelah lukanya ditutup, darah terus keluar walau tidak muncul kepermukaan. Dasi, Jweisonghamnida.” Tangis ibu JungAh semakin menjadi mendengar pernyataan itu. MiYeon berusaha menenangkan ibu JungAh walau air mata juga mengalir di pipinya.

Henry memutar tubuhnya dan segera melemparkan tatapan tajam pada KyuHyun. “Neo ttaemuniya!”(Ini semua karena dirimu!) desis Henry. Untuk pertama kalinya sejak di rumah sakit, KyuHyun mengangkat kepalanya.

“Neo ttaemunirago!” Henry mendorong kuat tubuh KyuHyun hingga terjatuh. “Jika saja kau datang!” Henry memukul wajah KyuHyun keras, “Imomchongi! Apa guna IQ mu itu?! Hah!” Henry kembali meninju KyuHyun “Hal kecil namun sangat berarti seperti ini saja kau tidak tahu?” Henry menarik kerah KyuHyun yang membuatnya agak terduduk. SungMin berusaha melerai mereka, namun amarah Henry tak terkendali. Henry bukan tipe pemarah, bahkan jarang ia menunjukan ekspresi maupun emosinya.

“Jika saja kau sadar! Jika saja kau tidak dengan konyolnya membatalkan pertemuan ini karena Sung..” Henry menghentikan pukulannya, ia menahan tinjunya di udara. “Ini bukan KyuHyun. Lee SungMin!” desis Henry seraya mengepalkan tangannya kuat. “Neo ttaemuniya Lee SungMin!” Henry memukul SungMin yang sedang kebingungan hingga terjengkang kebelakang.

“Jika saja bukan karena harga diri bodoh mu itu!” Henry meninju SungMin, “Seharusnya kau yang mati bukan JungAh! Sialan kau!” Henry terus menghajar SungMin.

“Geumanhae Henry-ah,” MiYeon berusaha menahan pukulan demi pukulan Henry, “Henry-ah! Henry Lau! Berapa banyak orang yang akan kau hajar?!” jerit MiYeon. Henry menghentikan pukulannya, rahangnya mengeras, ia menahan semua makian yang ingin ia teriakan. Ia meninju lantai di sebelah SungMin sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan rumah sakit itu. MiYeon hanya menatap Henry tidak percaya. SungMin terduduk lemas dengan wajahnya yang telah babak belur, sedang KyuHyun wajahnya tidak seburuk SungMin, namun ia terlihat jauh lebih lemas dari SungMin. MiYeon yang sedang memperhatikan kedua namja babak belur didepannya terkejut karena tiba tiba saja ibu JungAh pingsan.

“OMONIM!” jerit MiYeon

***

Pemakaman itu terlihat cukup ramai. Terlihat foto seorang gadis dengan wajah ceria terpajang di sebuah meja penuh dengan rangkaian bunga. Seorang namja melangkah masuk ruangan tersebut dengan lemas seraya membawa seangkai mawar biru. Lingkar hitam menghiasi matanya, menandakan bahwa setidaknya ia tidak tertidur selama 2 hari. Namja itu menaruh mawar yang ia bawa ke atas tumpukan bunga lily putih, hadiah dari yang lain.

“Siapa yang menyarankan lily putih ini?” dengusnya, “Kau tidak pernah menyukai bunga, kusadari itu.” Ujar namja itu lagi seperti mengajak orang di foto itu berbicara.

“Tapi, kehilanganmu seperti ini?” namja itu membuang nafas kasar, “Aku tak pernah menyadarinya. Bahkan aku tak pernah membayangkannya sedikitpun, atau memimpikannya.”

“Mianhae” pria itu menundukan wajahnya, “Aku, aku begitu egois, aku begitu, begitu bodoh. Seharusnya aku datang. Ya seharusnya, walau bukan untuk menyatakan perasaanku, setidaknya untuk menghiburmu” air mata yang sudah membendung sejak ia datang tumpah begitu saja. Pertahanan yang telah ia bangun selama 2 hari belakangan, hancur berkeping keping tanpa sisa.

“Karena keegoisanku, tidak satu dari kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Aku tidak mendapatkan dirimu, kau tidak mendapatkan cintamu, dan namja itu… dia bahkan belum menyadarinya.” Henry melirik foto itu sedikit, “ya, belum. Karena kau tidak bisa menyampaikannya, setidaknya biarkan aku yang memberi tahunya.”

“Mengapa kalian begitu bodoh?” Henry menaikkan nada bicaranya, “Kenapa kita begitu bodoh?” air mata kembali mengalir di pipi chubi namja itu. “Seharusnya ia menyadarimu, seharusnya kau menyadariku, seharusnya kau berhenti mengejarnya yang tidak pernah menyadari perasaanmu, seharusnya aku berhenti mengejarmu yang tidak pernah menyadari perasaanku.” Kini air mata mengalir deras dari mata sipitnya.

“You know what? This is all my fault. Jika saja aku memberitahunya, jika saja aku datang saat itu, kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Ever, setidaknya tidak seperti ini. Dan aku dengan bodohnya menyalahkan KyuHyun dan SungMin. Bahkan aku menghajar mereka. Bahagialah di sana, jangan memikirkan kami lagi, sudah saatnya untukmu mendapatkan kebahagiaanmu. Mian tidak bisa memberimu itu dengan cara yang lebih baik.”

“Ganda…” ucap Henry setelah menyentuh pigura itu lalu meninggalkan foto JungAh disana. Belum sempat Henry keluar ruangan, ia melihat KyuHyun. Menatapnya dengan bingung.

“Henry-ah, neon waeirae?” Tanya KyuHyun bingung. Henry hanya mendelik kesal pada KyuHyun.

“Apa kau benar benar tidak menyadarinya?” Tanya Henry.

“Mwo?”

“Lee JungAh-ga…” Henry menghentikan kalimatnya dan menundukan kepalanya sejenak seraya membuang nafas berat, “Aku, menyukai ani, mungkin lebih kearah mencintai JungAh.”

“Ah, aku mengerti kenapa kau seperti itu kemarin di rumah sakit. Mian.” Sesal KyuHyun, “Relakan saja…”

“Kau sungguh tidak menyadarinya?! Sama sekali?!” Henry memotong perkataan KyuHyun, “Kau benar benar bodoh. Bukan itu intinya. Intinya adalah JungAh, Lee JungAh sahabat kita itu, menyukai atau mungkin lebih kearah mencintaimu sama seperti perasaanku padanya. Sayangnya ia tidak pernah menyadari itu. Wae? Karena ia terlalu terfokus padamu.”

“Museun suriya?” Tanya KyuHyun bingung.

“MUSEUN SURITAGO?!” Teriak Henry yang menarik perhatian semua orang, “Lee JungAh, kau pikir kenapa ia selalu menanyakan PR pada mu saat ia juga seorang yang pintar? Kau pikir kenapa ia sangat sedih saat ia akan pindah sekolah? Kau pikir kenapa ia begitu bersemangat saat kita akan bertemu dengannya? Itu semua memiliki satu alasan yang sama, ia, Lee JungAh, sangat mencintaimu. Apa kau tidak menyadari itu sama sekali?! Ha?!” Henry kembali menarik kerah KyuHyun. Sedangkan KyuHyun terlihat bingung, tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Setitik Kristal bening keluar dari ujung mata KyuHyun.

“Mianhae.” Bisiknya.

“Bukan padaku, katakana itu pada JungAh!” Henry melepaskan cengkramannya, seketika itu juga KyuHyun jatuh terduduk.

“Jadi ini semua karena diriku? Ini semua salahku?” ucap KyuHyun lemas.

“KyuHyun-ah, mwohae?” Tanya Henry pelan.

“Henry-ah, eotteokhae?” sekli lagi titik bening itu keluar dari mata KyuHyun.

SATU TAHUN KEMUDIAN

Seorang namja memasuki sebuah restoran lalu duduk di kursi yang telah di pesannya kemarin.

“Maaf terlambat. Apa kau sudah menunggu lama?” tanyanya pada kursi di depannya. “Aku tadi terjebak macet di dekat Sekolah kita dulu, jadi maafkan aku.” Namja itu mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.

“Aku mohon jangan marah, jebal.” Ucapnya sekali lagi pada kursi kosong di depannya.

“Bagaimana ini bukan masalah? Lee JungAh, tentu saja ini masalah.” Namja itu membalas pertanyaan ‘lawan bicara’nya. “Bagaimana pun, bogosipta Lee JungAh.”

“Nado nomu bogosipo, Cho KyuHyun.” Balas ‘lawan bicaranya’ itu.

“Aku senang kau tidak pergi tanpa pamit seperti tahun lalu. Setidaknya beri aku waktu untuk melihatmu untuk terakhir kalinya.” Airmata mulai menggenang di mata seorang Cho KyuHyun, “Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk melihatmu untuk terakhir kalinya?”

“Aku sudah memberikan kesempatan itu KyuHyun-ah, kau yang tidak memanaatkannya dengan baik.”

“Kenapa kau tidak memberi tahuku bahwa kau..”

“Karena aku mau kau merasakan hal yang sama. Aku ingin kau yang menyadarinya. Aku ingin kau memiliki harapan yang sama sepertiku, aku ingin kau merasakan apa yang kurasakan. Aku tidak berani menyatakannya langsung, aku takut menyakiti Shella, setidaknya katakan kau menyadari perasaannya.”

“Aku, juga tidak menyadarinya.” KyuHyun tertunduk, “Tapi itu tidak penting. Mianhae, jongmal mianhae JungAh-ah, mianhae.” Airmata mulai mengalir deras dari matanya, “Aku terlalu bodoh aku yang bersalah atas ini semua. Aku…” KyuHyun mengangkat kepalanya, namun sosok itu telah hilang. “JungAh, Lee JungAh.” Panggil KyHyun, “LEE JUNGAH!”

KyuHyun berlari keluar restoran itu dan mengunjungi kedai tteokpokki di dekatnya. Namun nihil, sosok yang ia cari juga tidak berada disana.KyuHyun berlari ke arah halte bus yang akan menuju rumah sosok yang ia cari. Namun saat ia menyeberangi jalan, sosok itu berdiri di arah yang ia tuju. KyuHyun menghela nafas lega.

“Ternyata kau di sana.” KyuHyun hendak berlari kearah sosok itu, namun sebuah truk besar berjalan cepat kearahnya, “Bogosipta, Lee JungAh.” Bisik KyuHyun amat pelan hingga semuanya menjadi gelap.

Fin~

Sorry for typos…

Don’t forget to leave comment….

Advertisements

3 thoughts on “Meeting

  1. mati lagi…. ha…. (ikut gila nih readernya)cuma bedanya sekarang g mati sendiri,2-2nya mati.bingung mo ketawa ato nangis,miris…. lagi BT gini baca ff angst sad ending,cuocuok bingits dah. almost perfecto

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s